5 Fakta Kota Penyelenggara Piala Dunia U-20 2023: Surabaya Kota Pahlawan

oleh Wahyu Pratama diperbarui 18 Mar 2023, 20:45 WIB
Piala Dunia U-20 - Stadion Gelora Bung Tomo (Bola.com/Decika Fatmawaty)

Bola.com, Surabaya - Perhelatan Piala Dunia U-20 2023 bakal berjalan sekitar dua bulan lagi. Sempat tertunda karena pandemi COVID-19, Indonesia akhirnya tetap jadi tuan rumah event yang berlangsung pada 20 Mei hingga 11 Juni mendatang.

PSSI dan pemerintah terus mempersiapkan diri jelang turnamen akbar tersebut. Satu yang paling krusial adalah venue pertandingan.

Advertisement

Ada enam stadion yang tengah bersolek menyambut 24 kontestan yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia U-20 2023. Satu di antaranya adalah Stadion Gelora Bung Tomo yang terletak di Kota Surabaya.

Bangunan berkapasitas sekitar 45 ribu penonton itu merupakan milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Stadion yang akrab disebut GBT itu juga menjadi markas klub BRI Liga 1 2022/23, Persebaya Surabaya.

Lantas, seperti apa persiapan GBT menyambut tamu dari berbagai negara saat Piala Dunia U-20 2023 bergulir? Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari kita kupas sekelumit fakta menarik tentang Kota Pahlawan, Surabaya.

 

 
2 dari 7 halaman

Kota Terbesar Kedua di Indonesia

Ilustrasi Surabaya. Photo by Rasyid Maulana on Unsplash

Ibukota provinsi Jawa Timur ini memiliki banyak daya tarik yang membuatnya jadi kota terbesar kedua di Indonesia. Tak hanya menawarkan kekayaan sejarah, Surabaya bertransformasi menjadi kota metropolitan.

Sejak dahulu kala, Surabaya sudah dikenal sebagai pusat perdagangan, terutama di wilayah Indonesia Timur. Pelabuhan Tanjung Perak jadi gerbang utama perdagangan di era kolonial Hinda Belanda.

Pada masa sekarang, Surabaya lebih terkenal sebagai pusat bisnis dan industri. Walau begitu, kejayaan masa lalu masih kuat terjaga dalam karakter Arek-Arek Suroboyo.

3 dari 7 halaman

Rekomendasi Kuliner Khas Surabaya

Rujak Cingur.

Berbeda dengan Kota Malang atau Batu yang lebih terkenal dengan objek wisatanya. Surabaya lebih dikenal sebagai tempat untuk memuaskan dahaga pecinta kuliner.

Hampir seluruh masakan nusantara bisa dijumpai dengan mudah di setiap sudut kota Surabaya. Namun, tidak afdol rasanya datang ke sini tanpa mencicipi masakan khas Surabaya.

Rujak cingur, sego sambal, lontong balap hingga rawon merupakan jajaran kuliner terbaik yang bisa disantap di Surabaya. Namun, wajib diingat, makanan Surabaya memiliki cita rasa gurih pedas.

4 dari 7 halaman

Feeder Wira-Wiri Suroboyo Jadi Solusi

Bus salah satu angkutan umum yang disediakan Pemkot Surabaya. Foto (Istimewa)

Ada banyak cara untuk tiba di Kota Surabaya. Setidaknya kalian bisa memilih hingga empat moda transportasi umum yakni kapal laut, pesawat terbang, kereta api, dan bus untuk membawa kalian ke Kota Pahlawan.

Setelah itu, akses menuju GBT akan sedikit rumit bagi non-pengguna kendaraan pribadi. Mereka harus berpindah-pindah kendaraan umum jika enggan menggunakan taksi atau taksi online atau ojek online.

Setibanya di pelabuhan Tanjung Perak, bandara Juanda, stasiun Gubeng/Pasar Turi atau terminal Purabaya Bungurasih, tak ada transportasi umum yang benar-benar melewati jalanan GBT.

Namun, baru-baru ini Pemkot Surabaya bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Surabaya meluncurkan feeder Wira-Wiri Suroboyo. Sayangnya, hanya ada satu rute yang bisa membawa kalian tepat di depan GBT.

Sementara untuk penggunaan kendaraan pribadi, tak perlu bingung. Apalagi, Pemkot Surabaya berhasil mengupayakan akses langsung ke Stadion GBT dari tol Romokalisari dan jalan Kalianak via flyover Teluk Lamong.

 

 
5 dari 7 halaman

Pujian untuk Stadion GBT

Suasana Stadion Gelora Bung Tomo dalam pertandingan Persebaya Surabaya di BRI Liga 1 2022/2023. (Bola.com/Wahyu Pratama)

Ketua Umum PSSI yang juga menjabat sebagai Ketua LOC Piala Dunia U-20 2023, Erick Thohir, mengaku terkesan dalam sidaknya ke GBT beberapa waktu lalu. Menurutnya, stadion yang berada di wilayah Benowo itu merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia.

Keseriusan Pemkot Surabaya dan Asosiasi Provinsi Jawa Timur (Asprov Jatim) ditunjukkan dari peningkatan sarana dan prasarana. Terutama kualitas lapangan yang dianggap paling oke untuk saat ini.

Tak hanya itu, isu bau sampah yang menyengat dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, juga berhasil diatasi. Stadion GBT pun makin siap menyambut kontestan maupun suporter dari berbagai negara.

6 dari 7 halaman

Persebaya Kebanggaan Surabaya

Paulo Victor merayakan gol kemenangan Persebaya ke gawang Bhayangkara FC bersama Ze Valente dan Ahmad Nufiandani. (Wahyu Pratama/Bola.com)

Berbicara tentang Surabaya dan sepak bola, tentu akan selalu terkait dengan klub Persebaya. Tim yang berdiri sejak 18 Juni 1927 silam itu memiliki keterlibatan besar dalam sejarah persepakbolaan Tanah Air.

Klub yang awalnya bernama Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), merupakan satu di antara beberapa klub legendaris di Indonesia. Mereka bahkan terlibat dalam pembentukan federasi sepak bola Indonesia, PSSI, pada 1930.

Sebagai klub tradisional, prestasi mereka cukup mentereng sejak era Perserikatan. Mereka tercatat pernah memenangkan gelar pada 1951-1952, 1975-1978, dan 1987-1988.

Kesuksesan Persebaya kemudian berlanjut pada era Liga Indonesia. Dihuni pemain-pemain berkualitas seperti Jacksen F. Tiago, Aji Santoso, Anang Maruf, Bejo Sugiantoro, hingga Carlos de Mello, mereka berhasil meraih dua gelar pada 1996-1977 dan 2004.

Namun, masa kelam tiba setelah Persebaya memutuskan mengikuti kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) pada 2010 silam. Status mereka pun dibekukan PSSI karena dianggap mengikuti kompetisi yang tidak sah.

setelah perjuangan panjang para loyalis setia Bonek, pembekuan Persebaya dicabut pada 2017. Mereka pun langsung menggenggam tiket promosi untuk berlaga di Liga 1 2018.

Namun sayangnya, prestasi hebat pada masa lalu belum mampu diulang lagi. Mereka lebih terkenal sebagai tim penghasil pemain muda yang rutin bersaing di papan atas dan Timnas Indonesia.

7 dari 7 halaman