Bola.com, Jakarta Arema FC lebih optimistis menatap lanjutan BRI Liga 1. Selasa (5/2/2024) mereka akan memulai kembali Liga 1 dengan menjamu PSIS Semarang di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Setelah jeda satu setengah bulan, kubu Arema tampak lebih optimis.
Mereka yakin bisa lolos dari zona degradasi. Saat ini tim berjuluk Singo Edan ini masih berada di zona degradasi. Tepatnya urutan 16 dengan 21 poin. Mereka harus memangkas jarak 5 poin dengan tim yang berada diatas zona degradasi dalam sisa 11 pertandingan.
Karena itu, pelatih Arema, Fernando Valente menganggap setiap laga saat ini sebagai final. Jika berhasil melakukan sapu bersih poin sisa, tentu kemungkinan selamat dari degradasi sangat tinggi.
Namun, Fernando tidak ingin membahas semua pertandingan sisa. Dia akan memulai dengan menekuk PSIS Semarang.
“Targat kami jelas. Lolos dari degradasi. Kami akan memulainya dengan pertandingan lawan PSIS,” jelas pelatih 64 tahun asal Portugal ini.
Jika melihat persiapan Arema FC selama jeda kompetisi, ada tiga perubahan yang terlihat. Perubahan itu membuat sinyal positif untuk performa Singo Edan. Itu sebabnya, sang pelatih yakin bisa menekuk PSIS Semarang sebagai langkah awal lepas dari zona degradasi.
Utamakan Kebersamaan Pemain
Saat ini, Arema hanya punya 23 pemain untuk mengarungi sisa Liga 1. Meski skuatnya tergolong ramping, tapi kekompakannya lebih terlihat. Pelatih Arema, Fernando Valente beberapa kali memberikan waktu kepada pemain untuk melakukan diskusi internal. Tujuannya, agar pemain lebih kompak.
Kabarnya, pemain secara internal sepakat habis-habisan di sisa 11 pertandingan. Mereka tak ingin tercatat sebagai skuat yang mengantar Arema ke Liga 2. Efeknya, dalam setiap sesi latihan, tampak suasana tim lebih baik. Semua pemain lebih membaur.
Hal ini sesuai dengan keinginan pelatih. Karena jika kebersamaan pemain lebih baik, imbasnya membuat chemistry di lapangan akan terlihat. Sebab, chemistry pemain jadi salah satu persoalan yang dihadapi Arema sejak awal musim.
Dalam keseharian, pemain terbagi dalam beberapa grup kecil. Seperti pemain asing kurang bisa membaur dengan lokal. Sedangkan di pemain lokal juga terbagi antara pemain baru dengan lama.
Skema Baru Lini Belakang
Beberapa perubahan dilakukan pelatih Fernando Valente. Dia membuat perubahan yang cukup besar. Terutama saat memasang dua gelandang asing, Charles Raphael dan Julian Guevara sebagai stoper. Padahal Arema punya pemain yang berposisi asli sebagai stoper. Seperti Bagas Adi dan Syaeful Anwar.
Tapi, sang pelatih punya alasan kuat mengubah posisi tersebut. Fernando melihat Julian dan Charles bisa memainkan ball possesion sejak di lini belakang. Keduanya juga punya umpan jauh akurat sehingga berguna untuk melakukan serangan balik.
Selain itu, ada pemain lain yang dicoba di posisi baru. Seperti Rifad Marasabessy. Posisi aslinya sebagai bek kanan. Karena jarang dapat kesempatan main, dia dicoba sebagai winger kanan dan gelandang. Rifad punya skill dan crossing bagus.
Lebih Agresif
Ada hal lain yang terlihat dalam latihan Arema. Pemain dibuat lebih agresif. Terutama saat kehilangan bola. Ahmad Alfarizi dkk dicoba lebih garang memburu bola. Dan saat menguasai bola, Dedik Setiawan dkk lebih agresif melancarkan serangan ke pertahanan lawan.
Selama jeda Liga 1, pemain Arema dibuat kondisinya tetap prima. Sehingga saat pelatih Fernando Valente ingin anak buahnya lebih agresif, itu bisa dijalankan sejak di latihan. Tinggal bagaimana menjaga konsistensi sepanjang 90 menit. Karena tidak mudah selalu bermain dengan agresifitas tinggi.