Dilema Amorim Jelang Final Liga Europa: Tarik Bruno Fernandes ke Belakang, Risiko atau Solusi?

Dilema Ruben Amorim jelang final Liga Europa. Tarik Bruno Fernandes ke belakang, risiko atau solusi?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 21 Mei 2025, 13:50 WIB
Pemain Manchester United, Bruno Fernandes melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Athletic Bilbao dalam laga leg 1 semifinal Liga Europa 2024/2025 di San Mames Stadium, Bilbao, Spanyol, Kamis (01/05/2025) waktu setempat. (AP Photo/Miguel Oses)

Bola.com, Jakarta - Menjelang final Liga Europa melawan Tottenham Hotspur, pelatih Manchester United (MU), Ruben Amorim, dihadapkan pada keputusan taktis yang krusial: apakah ia harus menarik kapten Bruno Fernandes ke posisi lebih dalam di lini tengah?

Musim ini, lini tengah MU mengalami ketidakstabilan yang mencolok. Cedera yang terus datang silih berganti, ditambah performa yang naik-turun dari sejumlah pemain, membuat Amorim kesulitan menjaga keseimbangan timnya.

Advertisement

Dalam kondisi seperti ini, menarik Bruno sedikit ke belakang demi membantu membangun permainan bisa jadi pilihan logis di laga sebesar final Eropa.

Paul Scholes, legenda MU, menganggap skenario ini bukan hal baru. Ia mengingatkan bahwa duet Fernandes dan Casemiro pernah berhasil, khususnya di kompetisi Eropa.

"Cara terbaik adalah memainkan Fernandes lebih dalam di lini tengah bersama Casemiro, itu pernah berhasil sebelumnya, terutama di laga-laga Eropa," kata Scholes kepada TNT Sports.

Idenya adalah memanfaatkan kemampuan mengumpan, visi bermain, dan kecerdasan taktis Fernandes agar MU bisa lebih mengontrol permainan dari lini tengah. Tetapi, apakah itu pengorbanan yang terlalu besar?


1. MU Kehilangan Daya Kejut di Wilayah Kunci Lawan

Ini menjadi kartu merah kedua secara beruntun bagi Fernandes. Sebelumnya, ia mendapat kartu merah saat Manchester United kalah 0-3 dari Tottenham di Premier League. (AP Photo/Luis Vieira)

Jika Bruno Fernandes dimainkan lebih ke belakang, ia akan lebih banyak bertugas mengatur permainan dan mengalirkan bola dari lini tengah. Di sisi lain, ia kehilangan posisi favoritnya: zona sepertiga akhir, tempat ia biasa mencetak gol jarak jauh atau menekan lawan di area pertahanan mereka.

Padahal, kontribusi Fernandes musim ini sangat vital. Di Liga Europa saja, ia mencetak tujuh gol dan empat assist. Sementara di Premier League, ia menyumbang delapan gol dan sembilan assist. Ia bukan hanya jago mengumpan, tetapi juga ancaman nyata di depan gawang.

Roy Keane juga memprediksi bahwa Fernandes akan menjadi penentu di laga besar nanti. Berdasarkan data Squawka, sejak berseragam MU, tak ada gelandang di lima liga top Eropa yang terlibat dalam lebih banyak gol dibanding Fernandes (112 kali), melampaui Kevin De Bruyne (100 kali).

Ia juga menciptakan 535 peluang — tertinggi di Eropa.

Dengan statistik seperti itu, menggeser Fernandes dari zona bahaya lawan bisa berarti melepas satu-satunya pemain MU yang mampu menciptakan momen ajaib dalam laga yang ketat.

Scholes sempat mengusulkan alternatif: memainkan Fernandes sebagai false nine, seperti yang pernah dilakukan Erik ten Hag. Tetapi, ia juga mengakui bahwa pendekatan itu membutuhkan penyesuaian besar dan belum tentu efektif.


2. Degradasi Peran Kecil yang Bisa Berdampak Besar

Pemain Manchester United, Bruno Fernandes mencetak gol ke gawang Lyon melalui tendangan penalti dalam laga lanjutan Liga Europa 2024/2025 di Old Trafford, Manchester, Inggris, Jumat (18/04/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Jon Super)

Perjalanan MU ke final Liga Europa musim ini menunjukkan satu hal: mereka masih sangat bergantung pada momen-momen individual. Gol kemenangan Casemiro di menit ke-89 melawan Nottingham Forest dan assist cerdas Fernandes kepada Kobbie Mainoo di final Piala FA musim lalu menjadi bukti.

Momen-momen seperti itu hampir selalu datang ketika Fernandes berada di dekat gawang lawan, bukan saat ia sibuk mengatur ritme dari tengah lapangan. Menariknya ke posisi lebih dalam bisa berarti MU kehilangan pemicu kreativitas mereka tepat saat mereka sangat membutuhkannya.

Dalam laga final, perbedaan kecil dalam penempatan posisi bisa membawa dampak besar. Setan Merah butuh sosok yang bisa memecah kebuntuan, menciptakan peluang, dan mencetak gol — dan dalam peran gelandang serang, Fernandes adalah sosok itu.

Keputusan terlalu berani yang mengorbankan kekuatan utama sang kapten justru bisa merugikan MU di pertandingan terpenting musim ini.


Menukar Ledakan demi Keseimbangan?

Pemain Manchester United, Bruno Fernandes mencetak gol melalui tendangan penalti ke gawang Athletic Bilbao dalam laga leg 1 semifinal Liga Europa 2024/2025 di San Mames Stadium, Bilbao, Spanyol, Kamis (01/05/2025) waktu setempat. (AFP/Ander Gillenea)

Kini, keputusan ada di tangan Amorim. Apakah ia rela mengorbankan daya ledak Fernandes demi stabilitas di lini tengah? Atau justru ia akan memercayakan insting sang kapten untuk memimpin Setan Merah menuju kejayaan Eropa?

MU akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur di final Liga Europa yang digelar di San Mames, Bilbao, Kamis dini hari WIB (22-5-2025), pukul 02.00 WIB. Sebuah keputusan taktis — satu pergeseran posisi — bisa menentukan segalanya.

Berita Terkait