Ketika Status Golden Boy Tak Menjamin Masa Depan Gemilang: Nasib Joao Felix dan Tiga Pemenang Lain yang Meredup

Joao Felix dan tiga pemenang Golden Boy Award lainnya yang telah "menghilang" dari peta sepak bola.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 03 Agustus 2025, 09:15 WIB
Debut pemain pinjaman baru Chelsea, Joao Felix berakhir pahit. Ia hanya menjalani 58 menit pertandingan sebelum diusir oleh wasit karena melakukan pelanggaran keras. (AP Photo/Alastair Grant)

Bola.com, Jakarta - Erling Haaland, Jude Bellingham, hingga Lamine Yamal adalah wajah-wajah segar yang baru saja menorehkan namanya dalam daftar pemenang Golden Boy, penghargaan tahunan dari media ternama Italia, Tuttosport, untuk talenta muda terbaik di Eropa.

Namun, sejarah menunjukkan, trofi prestisius itu bukan jaminan bagi karier cemerlang.

Advertisement

Tidak sedikit nama besar yang sukses mempertahankan status bintangnya setelah menerima penghargaan ini.

Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Pedri adalah contoh pemain yang membuktikan bahwa bakat, jika dibarengi kerja keras dan konsistensi, memang bisa membawa mereka ke puncak. Namun, tak semua kisah berjalan semanis itu.

Golden Boy memang mengapresiasi potensi, tetapi sepak bola profesional menuntut lebih dari sekadar bakat mentah.

Empat nama di bawah ini adalah pengingat bahwa perjalanan menuju puncak, dan bertahan di sana, adalah perjuangan panjang yang tak hanya butuh talenta, tetapi juga konsistensi, mentalitas, dan pilihan yang tepat.

Berikut empat nama pemenang Golden Boy yang justru perlahan menghilang dari radar sepak bola elite.


Mario Balotelli

Striker Italia yang kini berusia 34 tahun dan berstatus tanpa klub, Mario Balotelli pernah didatangkan Liverpool dari klub Serie A, AC Milan pada awal musim 2014/2015 dengan nilai transfer 20 juta euro. Sempat dipinjamkan kembali ke AC Milan selama semusim pada 2015/2016, ia akhirnya dilepas permanen ke OGC Nice pada awal musim 2016/2017 dengan status bebas transfer. Bersama Liverpool ia total tampil dalam 28 laga di semua kompetisi dengan torehan 4 gol. (AFP/Paul Ellis)

Di antara deretan peraih Golden Boy dari dekade 2000-an, hanya Lionel Messi yang masih bermain secara profesional pada 2025.

Nama-nama lain seperti Anderson, Alexandre Pato, hingga Sergio Aguero telah pensiun. Wayne Rooney dan Cesc Fabregas bahkan sudah banting setir ke dunia kepelatihan.

Mario Balotelli menjadi pemenang penghargaan pada 2010, saat baru hijrah ke Manchester City usai menjadi bagian dari skuad treble Inter Milan.

Ia sempat menunjukkan kilau potensinya: memberikan assist dramatis untuk gol Sergio Aguero yang mengunci gelar Premier League 2012, mencetak gol spektakuler saat Euro 2012, dan tampil impresif di sejumlah klub seperti AC Milan, Nice, Marseille, serta dua periode bersama Adana Demirspor.

Namun, secara keseluruhan, karier Balotelli jauh dari ekspektasi awal. Musim lalu, striker 34 tahun itu sempat kembali mencicipi Serie A bersama Genoa, tetapi gagal mencetak satu gol pun dalam enam laga, sebelum akhirnya dilepas.

Kini, ia kembali tanpa klub. Tak menutup kemungkinan, Balotelli akan kembali berpetualang di Liga Turki untuk ketiga kalinya.


Anthony Martial

5. Anthony Martial (60 juta euro) - Manchester United melabuhkan winger asal Prancis ini dari Monaco dengan transfer mencapai 60 juta euro. (AFP/Peter Powell/pool)

Masih ingat ketika Anthony Martial memperkenalkan dirinya di Premier League dengan gol solo menawan ke gawang Liverpool? Kala itu, dunia memandangnya sebagai bintang masa depan Manchester United.

Namun, sembilan tahun dan 90 gol kemudian, pemain asal Prancis itu lebih dikenal sebagai simbol harapan yang kandas.

Kendati sempat bersinar dalam momen-momen tertentu, terutama saat “Lockdown Martial” di era pandemi, performa Martial tak pernah benar-benar stabil.

Kini, sebelum menginjak usia 30 tahun, ia sudah hijrah ke Liga Yunani bersama AEK Athens.

Dalam musim debutnya, Martial mengoleksi sembilan gol dari 23 penampilan, angka yang cukup baik, tetapi jauh dari status Golden Boy yang dulu melekat kepadanya.


Renato Sanches

Gelandang berusia 26 tahun, Renato Sanches didatangkan PSG dari LOSC Lille pada awal musim 2022/2023 dengan nilai transfer 15 juta euro. Hingga akhir musim 2022/2023 ia telah bermain dalam 27 laga di semua kompetisi bersama PSG dengan torehan 2 gol. Pada awal musim 2023/2024 ia dipinjamkan ke AS Roma dan kembali dipinjamkan ke Benfica pada awal musim 2024/2025. Bersama Timnas Portugal ia telah mengoleksi 32 caps dengan torehan 3 gol dan 3 assist sejak melakukan debut pada 25 Maret 2016. (AFP/Jean-Francois Monier)

Secara teknis, Renato Sanches masih menjadi bagian dari klub elite: Paris Saint-Germain. Namun, kenyataannya, gelandang Portugal itu baru kembali dari masa pinjaman yang gagal untuk dua musim beruntun.

Dengan minimnya kontribusi, hanya dua kali menjadi starter dalam dua musim terakhir, nama Sanches kini nyaris tak terdengar di panggung utama.

Bahkan jika seseorang mengatakan ia kini bermain di liga Qatar bersama klub yang tak dikenal, banyak yang mungkin percaya begitu saja.

Yang membuat kisahnya lebih ironis, Sanches sejatinya belum pernah meninggalkan Eropa. Namun, kiprahnya yang tak konsisten membuatnya seolah lenyap dari radar pengamat sepak bola.


Joao Felix

Joao Felix. Pemain asal Portugal yang kini membela Atletico Madrid ini meraih trofi Golden Boy edisi 2019 bersama Benfica. Benfica dibawanya meraih gelar Liga Portugal 2018/2019 dan bersama Timnas Portugal meraih gelar UEFA Nations League di musim yang sama. (AFP/Gabriel Bouys)

Joao Felix mungkin akan berdalih bahwa bermain bersama Cristiano Ronaldo, plus gaji fantastis dari Al Nassr, sudah cukup untuk dianggap sukses. Tetapi, dalam dunia sepak bola level tertinggi, kepindahan ke Liga Pro Arab Saudi di usia 25 tahun tetap menimbulkan tanda tanya besar.

Perjalanan Felix memang membingungkan. Dari status sebagai wonderkid Benfica, ia sempat berlabuh ke Atletico Madrid, lalu dipinjamkan ke Chelsea, Barcelona, dan terakhir AC Milan.

Namun, hingga kini, publik masih bertanya-tanya: apa sebenarnya yang membuatnya begitu dipuja di awal karier?

Dengan reputasi yang terus merosot dan performa yang tak kunjung stabil, Felix kini menjadi simbol dari potensi besar yang belum pernah benar-benar diwujudkan.

 

Sumber: Planet Football

Berita Terkait