Tiket Piala Dunia 2026 Mulai Naik Tajam, Turnamen Rakyat Kini Milik Kalangan Berduit

Ironis. Harga Tiket Piala Dunia 2026 merambat naik, suporter mulai tersingkir dari stadion.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 10 Oktober 2025, 19:15 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbincang sambil memegang replika tiket Piala Dunia berukuran besar bersama Presiden AS, Donald Trump, di Ruang Oval, sementara Wakil Presiden, JD Vance (ketiga dari kiri), mengamati pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Semboyan FIFA berbunyi "For the Game. For the World" (Untuk Pertandingan. Untuk Dunia).

Namun, dengan harga tiket Piala Dunia 2026 yang terus meroket bahkan sebelum undian grup digelar atau bola pertama ditendang, slogan itu kini terdengar makin jauh dari kenyataan.

Advertisement

Dalam waktu kurang dari dua hari setelah jendela penjualan pertama dibuka, FIFA diam-diam menaikkan harga tiket di sedikitnya sembilan pertandingan.

Tiket laga penyisihan grup Timnas Amerika Serikat di Los Angeles dan Seattle, misalnya, yang semula dijual seharga 535 dolar AS (sekitar Rp8,8 juta) pada Rabu, naik menjadi 565 dolar AS (Rp9,3 juta) di penghujung hari yang sama.

Kursi kategori terbawah, yang dikenal sebagai Category 3, juga tak luput dari kenaikan, dari 185 dolar AS (Rp3 juta) menjadi 205 dolar AS (Rp3,3 juta).


Siapa yang Diuntungkan?

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara tentang Piala Dunia 2026 bersama Presiden AS, Donald Trump, dan Wakil Presiden, JD Vance, di Ruang Oval Gedung Putih pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. Trump mengumumkan bahwa pengundian Piala Dunia FIFA 2026 akan berlangsung di Kennedy Center. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Situasi serupa terjadi di stadion-stadion besar lain. Di MetLife Stadium, New York, harga tiket babak 16 besar kini telah menembus empat digit alias di atas 1.000 dolar AS (Rp16,5 juta), sementara tiket perempat final di Kansas City dipatok mendekati 1.200 dolar AS (Rp19,8 juta).

FIFA menyebut sistem ini sebagai "variable pricing", mekanisme yang diklaim bertujuan melindungi suporter dari praktik calo. Namun, banyak yang mempertanyakan siapa sebenarnya yang diuntungkan.

Pasalnya, badan sepak bola dunia itu kini memiliki platform penjualan ulang (resale platform) sendiri, dan menarik dua kali potongan 15 persen dari setiap transaksi.

Lebih jauh lagi, FIFA bahkan menjual "Right To Buy" digital token seharga 3.999 dolar AS (sekitar Rp66,2 juta). Token itu bukan tiket pertandingan, melainkan hanya "hak istimewa" untuk membeli tiket di tahap berikutnya!


Penggemar Jadi Korban Pertama

Sejumlah suporter Timnas Kroasia yang hadir di Khalifa International Stadium juga ikut merayakan kemeriahan setelah Kroasia mencatatkan separuh dari kiprah di Piala Dunia selalu berakhir di posisi tiga besar. (AFP/Paul Ellis)

Bagi banyak penggemar sejati sepak bola, ironi ini terasa begitu nyata.

Mereka justru menjadi korban pertama dari kebijakan harga yang makin tak terjangkau, sembari bertanya-tanya apakah slogan FIFA tentang inklusivitas dan persatuan dunia hanyalah kedok dari turnamen yang kini tampak makin eksklusif bagi kalangan berduit.

Selama puluhan tahun, Piala Dunia dikenal sebagai "pesta rakyat dunia", ajang yang menyatukan budaya dan emosi dari berbagai penjuru lewat si kulit bundar. Kini semangat itu seolah perlahan menguap.

Pesan tersirat dari FIFA kini terasa jelas: jika tak mampu membayar, bersiaplah tersingkir. Langkah berikutnya, menurut banyak pengamat, mungkin tinggal menunggu saat Piala Dunia ikut dipagari sistem siaran berbayar.

"For the Game. For the World"?

Mungkin tidak lagi.

 

Sumber: Inside World Football

Berita Terkait