Pesepak Bola Iran Dibunuh dan Jadi Target Represi Jelang Piala Dunia 2026

Di ambang Piala Dunia 2026, pesepak bola Iran terancam penjara hingga hukuman mati.

Bola.com, Jakarta - Sejumlah pesepak bola di Iran dilaporkan menjadi sasaran penangkapan hingga pembunuhan di tengah situasi politik yang kian mencekam, bahkan ketika negara tersebut sudah memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026.

Kondisi itu memicu desakan agar FIFA segera turun tangan dan memberi tekanan kepada otoritas Iran untuk menghentikan kekerasan terhadap para atlet.

Kekhawatiran paling besar saat ini tertuju pada dua pemain yang sedang ditahan di penjara Iran dan terancam hukuman mati.

Mereka adalah Amir Ghaderzadeh, penyerang berusia 19 tahun milik klub papan atas Sepahan Isfahan, serta Mohammed Hossein Hosseini, pemain berusia 26 tahun yang pernah memperkuat Persepolis.

Hosseini sebelumnya dilarang bermain oleh otoritas Iran setelah terlibat dalam aksi protes.

Kedua nama tersebut kini menjadi simbol generasi pesepak bola dan atlet Iran yang disebut menjadi korban rezim yang brutal.

Peneliti bidang olahraga dan keberlanjutan sosial, Zohreh Abdollahkhani, menyebut situasi mereka berada pada level paling berbahaya.

"Mereka berada dalam risiko eksekusi yang sangat dekat," kata Abdollahkhani kepada Mirror.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Eskalasi Meningkat

Abdollahkhani menegaskan bahwa kekerasan terhadap pesepak bola Iran bukanlah hal baru, tetapi eskalasi yang terjadi saat ini dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.

"Bukan hal baru Republik Islam membunuh pesepak bola Iran, tetapi jumlah korban, tingkat kebrutalan, dan usia mereka sekarang belum pernah terjadi. Kita bicara tentang anak-anak berusia 19 tahun," ujarnya.

Abdollahkhani, yang berbasis di University of South-Eastern Norway, juga mendesak FIFA untuk segera bertindak. Menurutnya, sejumlah figur sepak bola terkemuka Iran telah mengirim surat kepada FIFA, tetapi tidak mendapat respons.

"Beberapa tokoh sepak bola kami sudah menulis ke FIFA soal kasus ini, tapi tidak ada balasan, tidak ada apa pun, bahkan dari FIFPro," katanya.

"Organisasi-organisasi ini harus bersuara. Legitimasi mereka bertumpu pada peran sebagai suara atlet yang berada dalam bahaya," imbuhnya.

Ia menilai FIFA tidak bisa berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi di komunitas sepak bola Iran.

"FIFA punya tanggung jawab. Mereka bertanggung jawab. FIFA justru melanggar statuta mereka sendiri. Bahkan komitmen paling rendah yang pernah mereka klaim pun tidak dipenuhi oleh FIFA sendiri," lanjutnya.

 

Para Korban

Tidak hanya pemain aktif, aparat Iran juga disebut menargetkan pemain muda dan ofisial sepak bola. Pada Januari lalu, Rebin Moradi, pemain muda Saipa FC, tewas ditembak di Teheran pada usia 17 tahun.

Daftar korban juga mencakup Saba Rashtian, asisten wasit sepak bola putri, serta Mohammad Hajipour, penjaga gawang timnas sepak bola pantai Iran.

Nasib serupa juga menimpa Omid Ravankhah, pelatih Timnas Iran U-23. Paspornya dicabut saat memasuki Iran setelah ia vokal menyuarakan kritik.

Tim yang ia latih sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaan pada ajang Piala Asia U-23 di Arab Saudi. Hingga kini, keberadaan Ravankhah tidak diketahui.

 

Desakan dan Harapan

Sejumlah mantan pemain Timnas Iran, dipimpin Ali Karimi, mantan Pemain Terbaik Asia dan eks bintang Bayern Munchen, turut bersuara menentang represi tersebut. Dalam surat terbuka kepada FIFA, mereka menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh tinggal diam.

"Sepak bola, sebagai fenomena sosial paling berpengaruh di dunia, tidak bisa dan tidak boleh bungkam menghadapi eksekusi, pembunuhan, penangkapan sewenang-wenang, dan ancaman terhadap atlet," tulis mereka.

Gelombang protes anti-pemerintah meledak di Iran pada akhir tahun lalu. Sejumlah estimasi menyebut hingga 30 ribu orang tewas dalam aksi tersebut. Sementara otoritas Iran mengakui 3.117 korban jiwa, lembaga-lembaga independen meyakini jumlah sebenarnya bisa mencapai sepuluh kali lipat.

Demonstrasi awalnya dipicu keluhan para pedagang di Teheran terkait lonjakan inflasi yang sangat tinggi. Namun, aksi tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh negeri, sebelum pemerintah memberlakukan pemadaman internet secara total.

Hingga kini, FIFA telah dimintai komentar terkait situasi tersebut.

 

Sumber: Mirror

Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Timnas Corner: Semua Tentang Timnas Indonesia
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer