Hati-hati! Biaya Perbaikan Mobil Listrik Lebih Kompleks dan Mahal

Asosiasi Asuransi menyatakan bahwa perbaikan kerusakan mobil listrik lebih kompleks dan mahal dibandingkan dengan mobil konvensional, bahkan bisa dinyatakan tidak dapat diperbaiki jika terjadi di bagian sensitif.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 12 Oktober 2025, 16:20 WIB
Petugas SPBU melayani pengendara mobil di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Battery Swapping Station SPBU Pertamina, MT. Haryono, Jakarta, Senin (7/11/2022). Sejak pemerintah resmi menaikkan harga BBM mulai dari pertalite, solar dan pertamax, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) sebagai alternatif kendaraan kembali ramai dibicarakan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Bola.com, Jakarta - Asosiasi Asuransi Umum Malaysia (PIAM) mengungkapkan perbaikan kerusakan akibat kecelakaan pada mobil listrik (EV) jauh lebih kompleks dan mahal dibandingkan dengan kendaraan bermesin konvensional.

Dalam beberapa kasus, tergantung pada lokasi kerusakan, mobil listrik mungkin tidak dapat diperbaiki dan harus dinyatakan sebagai total loss (write-off), seperti yang dilaporkan oleh New Straits Times.

Advertisement

"Kalau kecelakaan terjadi di area yang salah pada mobil, kadang kendaraan itu sama sekali tidak bisa diperbaiki," ungkap CEO PIAM, Chua Kim Soon, saat konferensi pers mengenai kinerja industri asuransi untuk semester pertama 2025 yang berlangsung kemarin, sebagaimana dikutip dari paultan, Minggu (12/10/2025).

PIAM melakukan analisis terhadap data dari pasar EV yang lebih berkembang, seperti di China, untuk memahami tren jangka panjang yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia kendaraan listrik, pola mengemudi berubah, tingkat depresiasi meningkat, dan biaya perbaikan juga melonjak tajam.

Menurut Chua, mobil listrik memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan kendaraan berbahan bakar bensin, termasuk penurunan nilai jual kembali yang lebih cepat dan kompleksitas dalam sistem perbaikan. Ini menciptakan profil risiko baru yang perlu diantisipasi oleh perusahaan asuransi, terutama karena nilai depresiasi yang curam turut memperumit klaim atas biaya perbaikan yang semakin tinggi.

Temuan ini menggambarkan tantangan signifikan bagi sektor asuransi di tengah peningkatan adopsi kendaraan listrik. Penjualan EV di Malaysia mengalami lonjakan sebesar 91,4% pada paruh pertama 2025, yang didorong oleh berbagai insentif pajak, dan kini mencakup 3,4% dari total penjualan mobil baru di negara tersebut.


Perusahaan Asuransi Harus Menyesuaikan Diri

China siap perketat ekspor mobil listrik mulai 2026 demi jaga kualitas dan kepercayaan pasar global (BYD)

Walaupun insentif untuk kendaraan listrik CBU (Completely Built-Up) akan berakhir pada akhir tahun ini, insentif untuk kendaraan listrik CKD (Completely Knocked Down) yang dirakit di dalam negeri akan tetap ada hingga 2027.

Beberapa merek terkemuka telah menunjukkan komitmen mereka untuk memproduksi kendaraan listrik di Malaysia, yang menunjukkan perkembangan positif dalam industri ini.

Chua menekankan meningkatnya minat terhadap mobil listrik sangat menguntungkan bagi keberlanjutan lingkungan. Namun, ini juga mendorong perusahaan asuransi untuk beradaptasi dengan risiko baru dan kondisi operasional yang berbeda.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya keterampilan teknis dalam memperbaiki baterai, yang merupakan bagian termahal dari kendaraan listrik.

"Kita perlu membangun ekosistem lengkap untuk jaringan perbaikan baterai di Malaysia, dan saat ini, ekosistem itu masih belum matang," ungkap Chua.

Untuk memulai proses ini, PIAM telah menjalin kerja sama dengan Departemen Transportasi Jalan (JPJ) guna menetapkan standar serta persyaratan kepatuhan bagi bengkel-bengkel yang menangani kendaraan listrik.

Bengkel yang menyediakan layanan ini perlu memiliki tenaga ahli yang bersertifikat serta mengikuti protokol keselamatan yang ketat. "Anda butuh insinyur listrik untuk memperbaiki mobil listrik," tambah Chua.

"Mekanik biasa tidak bisa melakukannya, dan sangat berbahaya jika dikerjakan secara tidak benar. Jadi seluruh ekosistem ini harus dibangun dengan tepat," jelasnya, menekankan pentingnya keahlian dalam industri ini.


Bersiaplah, Premi Akan Meningkat.

Ilustrasi mobil listrik Tesla. Credit: David von Diemar/Unsplash

Saat ini, para pemilik kendaraan listrik di Malaysia masih merasakan manfaat dari premi asuransi yang cukup rendah. Ini disebabkan oleh pengaturan tarif yang masih berada di bawah kendali pemerintah, yang sedang menjalani proses liberalisasi bertahap dalam sektor asuransi kendaraan bermotor.

Berbeda dengan situasi di pasar yang lebih terbuka seperti Eropa dan Amerika Serikat, di mana biaya asuransi untuk kendaraan listrik (EV) jauh lebih tinggi akibat risiko dan biaya perbaikan yang signifikan.

"Hal itu belum terjadi di Malaysia, dan kami berusaha mengelolanya agar tidak perlu menaikkan premi. Tapi kalau melihat pasar lain, itulah realitasnya," ujar Chua.

Dengan kata lain, meskipun Malaysia masih memiliki tarif yang terjangkau, tantangan di masa depan tetap ada jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam hal asuransi kendaraan listrik.

Berita Terkait