Luca Marini Usul Format Kualifikasi MotoGP Diubah

Pembalap Honda HRC Castrol, Luca Marini, mengusulkan agar format kualifikasi di MotoGP diubah. Seperti apa?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 November 2025, 15:15 WIB
Adik Valentino Rossi, Luca Marini. (Mirco Lazzari gp / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Pembalap Honda, Luca Marini, menilai MotoGP perlu mempertimbangkan ulang sistem kualifikasi yang berlaku saat ini. Menurutnya, format tersebut memberikan kerugian besar bagi pembalap yang gagal menembus sesi Q2.

Dalam format sekarang, sepuluh pembalap tercepat di sesi latihan Jumat sore otomatis lolos ke Q2, yang menentukan posisi start barisan depan. Sementara sisanya harus menjalani Q1 pada Sabtu pagi untuk memperebutkan dua tiket tersisa.

Advertisement

Mereka yang gagal menembus Q2 harus memulai balapan dari posisi ke-13 ke bawah, dengan urutan yang sama untuk Sprint dan Grand Prix.

"Dengan level MotoGP saat ini, tidak lolos ke Q2 adalah kerugian besar," ujar Marini kepada GPone.com.

"Akan lebih baik jika kami bisa menegosiasikan ulang format ini bersama semua tim dan pembalap. Jika seseorang kehilangan peluang karena kecelakaan atau bendera kuning yang membatalkan lap terbaik, rasanya sayang harus mengorbankan seluruh akhir pekan," lanjutnya.


Solusi Sederhana

Pembalap Repsol Honda Luca Marini. (Mirco Lazzari gp / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Marini juga menyoroti bahwa dengan adanya dua start dalam satu akhir pekan, Sprint dan Grand Prix, peran kualifikasi kini menjadi makin krusial.

Ia pun mengajukan solusi sederhana: menambah jumlah pembalap yang bisa naik dari Q1 ke Q2, sebagaimana yang berlaku di Moto2 dan Moto3, di mana empat pembalap berhak melaju ke Q2.

"Cukup dengan menambah jumlah pembalap yang lolos dari Q1 ke Q2 maka mereka yang sebenarnya punya kecepatan untuk menang, tapi terjebak di Q1 bisa mendapat lebih banyak kesempatan," jelasnya.

Sebagai perbandingan, di kelas Moto2 dan Moto3, 14 pembalap langsung masuk Q2 sejak Jumat sore sehingga total ada 18 pembalap yang memperebutkan pole position, lebih banyak dibanding hanya 12 di MotoGP.

"Namun, saat ini sistemnya seperti itu dan kami harus berusaha tampil baik sejak Jumat," kata Marini.

"Masalahnya, start dari posisi ke-13, seperti saya di Sepang, butuh keajaiban di tikungan pertama," tambah adik Valentino Rossi ini.


Podium dari Pembalap dari Tengah

Pembalap Honda, Luca Marini. (Andreas SOLARO / AFP)

Musim ini, sejumlah podium spektakuler datang dari pembalap yang memulai dari posisi tengah, tetapi semuanya berasal dari peserta Q2.

Di antaranya Marco Bezzecchi yang menang dari posisi ke-10 di Silverstone, Francesco Bagnaia yang finis kedua dari posisi ke-11 di Qatar, Fabio di Giannantonio yang naik dari urutan ke-10 ke posisi kedua di Phillip Island, serta Enea Bastianini yang finis ketiga di Sprint Brno setelah start dari posisi ke-11.

Kendati menempati posisi ke-14 dalam klasemen BMW Best Qualifier Award, Marini enggan menyebut kualifikasi sebagai satu-satunya kelemahan motor RC213V. Namun, ia mengakui motor-motor rival mampu memanfaatkan ban belakang lebih efektif untuk putaran cepat.

"Motor lain bisa memaksimalkan potensi ban belakang di lap pertama karena mereka punya grip lebih baik," ujarnya.

"Ini hal yang harus kami pahami. Yamaha yang biasanya lebih lambat dari kami di balapan bisa tampil cepat di kualifikasi. KTM juga kadang kesulitan di balapan, tapi luar biasa di kualifikasi. Ducati dan Aprilia adalah motor dengan keseimbangan terbaik," tutur pembalap berusia 28 tahun ini.

Marini menegaskan Honda perlu meningkatkan performa saat time attack agar seluruh pembalapnya bisa start lebih depan dan berpeluang naik podium.

Pada akhir pekan di Sepang lalu, Marini sempat terjatuh saat mencoba menyalip Pol Espargaro untuk posisi kedelapan dalam Sprint Race. Namun, ia mampu bangkit dan finis kedelapan pada Grand Prix hari Minggu.

 

Sumber: Crash

Berita Terkait