Apakah Portugal Mulai Harus Berpisah dengan Cristiano Ronaldo?

Simak ulasan "apakah sekarang waktu yang tepat bagi Portugal untuk berpisah dengan Cristiano Ronaldo?"

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 18 November 2025, 15:00 WIB
Cristiano Ronaldo dari Portugal bertepuk tangan saat diganti di laga semifinal UEFA Nations League kontra Jerman di Allianz Arena, Munich, Jerman, Rabu, 4 Juni 2025. (AP Photo/Martin Meissner)

Bola.com, Jakarta - Ketika Roberto Martinez resmi mengambil alih kursi pelatih Timnas Portugal pada Januari 2023, Cristiano Ronaldo baru menjalani debutnya bersama klub Arab Saudi, Al Nassr.

Ketika itu, Ronaldo terlihat seakan memasuki masa "pensiun mewah" dari level tertinggi sepak bola. Namun, Martinez, yang dikenal diplomatis, tetap menunjukkan keyakinan besar pada Ronaldo.

Advertisement

Ia menyanjung komitmen sang penyerang dalam latihan dan pengaruhnya dalam menjaga standar tim. Narasi bahwa Ronaldo sudah habis, ia abaikan begitu saja.

Sejak saat itu, Ronaldo menambah 25 gol lagi untuk Portugal, memperpanjang rekor dunianya menjadi 143 gol.

Di antaranya, ia mencetak gol-gol penting melawan tim-tim peringkat 20 besar FIFA seperti Kroasia, Swiss, Denmark, serta satu sundulan voli melawan Spanyol di final Nations League musim panas lalu.

Bulan lalu, ia bahkan dua kali membobol gawang Hungaria dalam kualifikasi Piala Dunia 2026. Wajar banyak pihak masih enggan menutup buku sang pemain 40 tahun tersebut.

Namun, fakta di lapangan juga mengarah pada satu sinyal kuat: Portugal mulai harus memikirkan hidup tanpa ketergantungan pada Ronaldo.

Memutus relasi dengan pemain yang sudah tampil 226 kali, menjadi ikon tim selama bertahun-tahun, serta satu di antara wajah Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Portugal dan Spanyol, jelas bukan keputusan ringan bagi Martinez.

Keputusan itu bukan sekadar soal teknis sepak bola. Ada emosi, kebanggaan, sisi politik, bahkan pertimbangan komersial. Ini mungkin jadi keputusan terbesar dalam karier Martínez. Ronaldo bukan sekadar pesepak bola, ia adalah ikon nasional, figur global, dan magnet perhatian publik.


Dimulai dari Sanksi

Selebrasi Cristiano Ronaldo dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Portugal vs Hungaria, Rabu (15/10/2025). (AP Photo/Armando Franca)

Momen untuk mengambil keputusan sebenarnya muncul dengan sendirinya. Ronaldo harus menjalani sanksi larangan bermain setelah mengayunkan siku ke wajah Dara O'Shea ketika Portugal menghadapi Republik Irlandia.

Martínez berargumen bahwa hukuman seharusnya hanya satu pertandingan karena Ronaldo, menurutnya, menerima provokasi verbal dan fisik. Ia juga meminta keringanan mengingat ini kartu merah pertama Ronaldo di level internasional.

Namun, pelanggaran siku dikategorikan tindakan kekerasan, dan hukuman berdasar regulasi FIFA bisa mencapai tiga laga.

Satu pertandingan telah ia jalani. Tanpa Ronaldo, Portugal justru menunjukkan kapasitasnya sebagai tim kolektif ketika membantai Armenia 9-1 pada hari Minggu lalu dan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.

Andai tetap dibawa ke turnamen itu, Ronaldo hampir pasti absen pada satu hingga dua laga awal fase grup.

Wayne Rooney dulu hanya diskors dua laga usai melakukan injakan terhadap Ricardo Carvalho, yang kini menjadi asisten Martinez, di Piala Dunia 2006.

Momen itu diikuti dengan kedipan mata Ronaldo ke bangku cadangan, seakan perangkap mereka berhasil. Kini, di Inggris, ada yang mungkin tersenyum sinis bila hukuman panjang menanti Ronaldo.


FIFA Tentu Ingin CR7 Hadir

Pelatih Portugal Roberto Martinez berjabatan tangan dengan Cristiano Ronaldo saat Ronaldo diganti di laga semifinal Nations League kontra Jerman di Allianz Arena, Munich, Jerman, Rabu, 4 Juni 2025. (AP Photo/Matthias Schrader)

Kendati demikian, skenario hukuman berat tampak kecil kemungkinan. FIFA tentu ingin melihat Ronaldo tampil di Piala Dunia keenam dalam kariernya. Ia adalah bintang global yang bisa mendongkrak daya tarik turnamen dan menjadi magnet perhatian media.

Dengan lebih dari satu miliar pengikut media sosial, 10 kali lebih banyak dibanding akun resmi FIFA, kehadirannya jelas sangat berharga bagi penyelenggara.

Aspek komersial Piala Dunia di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat pun bertumpu pada daya magnet CR7. Sebagian orang mungkin melihat ini dapat memengaruhi penentuan panjang sanksi.

FIFA selalu menegaskan keputusan itu dibuat secara independen, tetapi persepsi publik berkata lain.

Pertanyaannya: apakah Piala Dunia tanpa satu di antara "showman" terbesar dalam sejarah modern akan tetap sama? Televisi jelas ingin Ronaldo hadir untuk babak penutup drama panjang Ronaldo versus Messi. Ketidakhadirannya akan terasa.


Martinez Berada pada Persimpangan Besar

Cristiano Ronaldo bersama Roberto Martinez usai Porrtugal menjadi juara ajang UEFA Nations League. (John MACDOUGALL / AFP)

Hanya, keputusan untuk mengakhiri era Ronaldo tetap sarat risiko. Melepas pemain terbaik sepanjang sejarah Portugal, bahkan lebih dari Eusebio, ketika sedang menjalani sanksi akan dianggap tidak berperasaan.

Tekanan terhadap Martínez sangat besar. Pilihan termudah baginya adalah tetap membawa Ronaldo.

Namun, kemudahan itu bukanlah pilihan yang tepat.

Armenia memang tim peringkat 104 dunia, tetapi absennya Ronaldo justru terlihat membebaskan para pemain lain secara psikologis. Mereka tampil lebih lepas, lebih kolektif, lebih percaya diri tanpa label "tim CR7".

Bruno Fernandes dan Joao Neves mencetak hattrick, sementara Goncalo Ramos, Renato Veiga, dan Francisco Conceicao menambah sisanya.

Pendukung Ronaldo mungkin menyebut Portugal kekurangan penyerang tengah level tertinggi. Ramos, penyerang 24 tahun dengan 10 gol dari 22 laga internasional, memang tampil menjanjikan bersama PSG setelah mencetak gol penting melawan Barcelona dan Nice, meski belum mencapai level elite.

Mungkin ia baru akan berkembang sepenuhnya jika tak lagi berada di bawah bayang-bayang Ronaldo.

Portugal memiliki kedalaman skuad luar biasa, dari Ruben Dias hingga Bernardo Silva, Joao Neves, Ruben Neves, Vitinha, Matheus Nunes, Bruno Fernandes, hingga Rafael Leao.

Tim ini akan tetap kuat tanpa Ronaldo. Jika Portugal memilih melanjutkan perjalanan tanpa dirinya, mereka tetap akan memberikan penghormatan atas dua dekade dedikasi Ronaldo, dan jeda internasional Maret bisa menjadi momen perpisahan yang pantas di Lisbon.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah Martinez berani mengambil keputusan untuk "menutup era" sang legenda?

 

Sumber: SI

Berita Terkait