Transfer Liam Rosenior ke Chelsea: Logika Brutal Sepak Bola Modern

Restrukturisasi sepak bola Eropa melalui skema multi-club ownership mulai menunjukkan dampak nyata bagi klub-klub di luar lingkar elite.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 05 Januari 2026, 21:00 WIB
Pelatih Strasbourg, Liam Rosenior, disebut menjadi kandidat terkuat calon manajer anyar Chelsea, menggantkan Enzo Maresca. (AFP/Frederick FLORIN)

Bola.com, Jakarta - Restrukturisasi sepak bola Eropa melalui skema multi-club ownership mulai menunjukkan dampak nyata bagi klub-klub di luar lingkar elite. Fenomena ini mungkin terasa abstrak bagi sebagian pihak, tetapi tidak demikian bagi Racing Club Strasbourg. Bagi klub Ligue 1 tersebut, pekan ini menjadi momen yang sangat gamblang untuk melihat konsekuensi dari kesepakatan besar yang mereka buat.

Strasbourg berada di ambang kehilangan sosok penting dalam proyek kebangkitan mereka. Pelatih muda asal Inggris, Liam Rosenior, hampir pasti akan hijrah ke Chelsea, klub utama dalam jaringan MCO yang berada di bawah naungan perusahaan induk BlueCo. Situasi ini menjadi contoh nyata bagaimana keseimbangan kekuasaan bekerja dalam struktur kepemilikan multi-klub.

Advertisement

Chelsea memang tidak hanya mempertimbangkan satu nama. Felipe Luís, mantan bek kiri Chelsea dan tim nasional Brasil yang kini sukses meniti karier kepelatihan bersama Flamengo, juga masuk daftar kandidat. Namun, seluruh tanda mengarah pada Rosenior sebagai pilihan utama klub London Barat tersebut.

Kepindahan ini bukan sekadar soal promosi karier seorang pelatih. Bagi Strasbourg dan suporternya, ini adalah ujian besar tentang sejauh mana klub masih memiliki kendali atas nasib sendiri sejak bergabung dalam ekosistem BlueCo.

Di titik inilah pertanyaan tentang harga kemandirian sebuah klub mulai mengemuka.

 


Dari Skeptisisme ke Pujian Suporter

Para suporter Chelsea memberikan dukungan kepada timnya dalam laga final UEFA Conference League 2024/2025 melawan Real Betis di Tarczynski Arena, Wroclaw, Polandia, Kamis (29/05/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Czarek Sokolowski)

Ketika Rosenior ditunjuk sebagai pelatih Strasbourg pada 2024, sambutannya tidak sepenuhnya hangat. Sebagian suporter menilai penunjukan tersebut sebagai keputusan lain yang dikendalikan dari London, bukan dari Alsace. Latar belakang Rosenior yang pernah bekerja bersama Paul Winstanley di Brighton and Hove Albion, yang kini menjadi direktur olahraga Chelsea, memperkuat kecurigaan itu.

Namun, keraguan tersebut perlahan sirna. Rosenior membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih dengan membawa identitas permainan menyerang dan atraktif. Ia juga menunjukkan penghormatan besar terhadap nilai historis Strasbourg sebagai klub kebanggaan kota dan wilayah Alsace.

Hasilnya terasa nyata. Strasbourg tampil kompetitif sepanjang musim lalu dan hanya gagal mengamankan tiket Liga Europa setelah dua kekalahan di penghujung kompetisi. Popularitas Rosenior pun menanjak, menjadikannya figur sentral dalam proyek olahraga klub.

 


Perpisahan yang Datang Terlalu Cepat

Pelatih Chelsea, Enzo Maresca, melambaikan tangan kepada suporter di dekat trofi UEFA Conference League yang diraih tim asuhannya setelah mengalahkan Real Betis dengan skor 4-1 di laga final yang berlangsung pada Kamis (29/5/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Denes Erdos)

Menjelang jeda kompetisi, performa Strasbourg di liga memang memasuki fase sulit, meski mereka mencatat tiga kemenangan di ajang UEFA Conference League. Hasil imbang 1-1 melawan Nice pada Sabtu malam diyakini menjadi laga terakhir Rosenior di pinggir lapangan Strasbourg.

Kehilangan pelatih di tengah musim memicu kemarahan kelompok suporter garis keras. Mereka menuntut mundurnya Presiden klub, Marc Keller, yang dianggap gagal melindungi kepentingan Strasbourg sejak penjualan klub ke BlueCo. Bagi mereka, klub kini tidak lebih dari cabang dari kekuatan yang bermarkas di London Barat.

Kemurkaan serupa sempat terjadi pada musim panas lalu, ketika kapten Strasbourg, Emmanuel Emegha, dijual ke Chelsea dan kemudian dipinjamkan kembali. Pola tersebut kini terulang, kali ini dengan skala yang lebih sensitif.

 


Realitas Brutal Era Multi-Club Ownership

Pelatih Strasbourg, Liam Rosenior, disebut menjadi kandidat terkuat calon manajer anyar Chelsea, menggantkan Enzo Maresca. (AFP/Frederick FLORIN)

Inilah wajah keras dari sistem MCO. Ketika Chelsea membutuhkan pelatih atau pemain, klub mitra dalam jaringan BlueCo berpotensi menjadi rujukan pertama. Pertanyaan besar pun muncul, apakah klub-klub Prancis lain bersedia menerima kesepakatan serupa.

Situasi keuangan memperumit dilema tersebut. Penerapan aturan rasio biaya skuad mendorong klub-klub Premier League mencari mitra MCO baru, sementara runtuhnya kesepakatan hak siar DAZN membuat banyak klub Prancis membutuhkan suntikan dana segera. Dalam kondisi itu, investasi dari luar negeri menjadi sangat menggoda.

Namun, harga yang harus dibayar adalah kemandirian. Relasi antara sepak bola Inggris dan Prancis kini tidak lagi sebatas pasar terbuka, melainkan hierarki formal yang ditentukan oleh struktur kepemilikan.

 


Investasi Besar dan Bayang-Bayang Kekuasaan

Pelatih kepala Strasbourg asal Inggris, Liam Rosenior, memberi isyarat selama pertandingan L1 Prancis antara RC Strasbourg Alsace dan Stade Brestois 29 (Brest) di Stade de la Meinau di Strasbourg, Prancis timur, pada 30 November 2025. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Dari sudut pandang BlueCo, semua langkah ini dianggap sah dan bahkan menyelamatkan Strasbourg. Mereka menyoroti investasi besar dalam skuad, peminjaman pemain muda Chelsea seperti Kendry Páez dan Mamadou Sarr, serta renovasi stadion La Meinau yang dibiayai dana grup. Fasilitas latihan baru pun dijanjikan akan segera dibangun.

BlueCo juga menegaskan bahwa Chelsea akan membayar klausul pelepasan Rosenior. Selain itu, mereka mengklaim mendapat dukungan politik penuh di tingkat kota dan wilayah, serta restu dari otoritas keuangan sepak bola Prancis, DNCG.

Contoh lain adalah Joaquín Panichelli, striker 23 tahun yang kini menjadi bagian timnas Argentina. Jika perkembangannya berlanjut, ia hampir pasti akan dijual. Bagi BlueCo, keberadaan Panichelli di Strasbourg adalah hasil dari keahlian rekrutmen dan dukungan finansial mereka. Maka, menurut mereka, wajar jika Chelsea memiliki hak prioritas.

 


Antara Bertahan Hidup dan Kehilangan Identitas

Strasbourg diperkirakan tidak akan kesulitan mencari pengganti Rosenior. Dengan jatah kompetisi Eropa dan belanja musim panas yang melampaui klub Prancis lain, daya tarik posisi tersebut tetap tinggi.

Namun, ada sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka investasi atau hasil di lapangan. Itu adalah perasaan menjadi bagian kecil dari sebuah imperium besar. Meski tidak semua pelatih atau pemain Strasbourg akan berakhir di Chelsea, bayang-bayang kemungkinan itu akan selalu ada.

Dampak psikologisnya terhadap suporter masih menjadi tanda tanya. Dunia sepak bola belum pernah berada di titik seperti ini sebelumnya. Era multi-club ownership telah tiba, dan Strasbourg kini berada di garis depan untuk merasakan seluruh konsekuensinya.


Persaingan di Liga Inggris 2025/2026

Berita Terkait