Bola.com, Jakarta - Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan reputasi besar sebagai pelatih visioner dari Portugal. Namun, filosofi yang membesarkan namanya justru menjadi sumber masalah selama 14 bulan kepemimpinannya di Old Trafford.
Pelatih berusia 40 tahun itu kerap mendapat kritik tajam karena dianggap terlalu kaku dalam pendekatan taktik. Amorim identik dengan formasi 3-4-3, sistem yang membawanya meraih dua gelar Primeira Liga bersama Sporting CP, tetapi sulit diterapkan secara konsisten di Premier League.
Seiring waktu, keraguan mulai bermunculan. Bukan hanya dari publik dan pundit, tetapi juga dari internal klub yang mempertanyakan efektivitas sistem tersebut dengan komposisi skuad Manchester United.
Tekanan itu makin terasa ketika hasil di lapangan tak kunjung membaik, meski dana besar telah digelontorkan untuk mendukung proyek Amorim.
Sempat Ubah Formasi, Tapi Kembali ke Pakem Lama
Laporan The Athletic pada Desember lalu menyebut Manchester United sebenarnya sempat mencoba alternatif taktik di sesi latihan. Amorim bahkan sempat meninggalkan skema tiga bek dan memakai formasi 4-2-3-1.
Eksperimen itu berbuah manis saat United menundukkan Newcastle United 1-0 pada 26 Desember. Namun, perubahan tersebut tak bertahan lama. Empat hari berselang, Amorim kembali ke 3-4-3 dan hanya mampu bermain imbang 1-1 kontra Wolverhampton Wanderers.
Jelang laga melawan Leeds United, Amorim sempat memberi sinyal adanya perbedaan pandangan terkait sistem permainan. Ia juga mengisyaratkan kesulitan merekrut pemain yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan formasi favoritnya.
Meski demikian, Amorim tetap menggunakan 3-4-3 saat menghadapi Leeds, laga yang akhirnya menjadi penampilan terakhirnya sebagai manajer Manchester United.
Investasi Besar, Hasil Tak Sebanding
Manchester United sejatinya sudah mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan Amorim. Klub membayar kompensasi sebesar €11 juta kepada Sporting CP demi memboyongnya ke Old Trafford, menggantikan Erik ten Hag yang didepak setelah dua setengah musim.
Tak berhenti di situ, lebih dari £200 juta dihabiskan United pada bursa transfer musim panas 2025. Nama-nama mahal seperti Benjamin Sesko, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha direkrut dengan nilai di atas £60 juta. Kiper Senne Lammens juga didatangkan dari Royal Antwerp dengan banderol £18,2 juta.
Namun, investasi masif itu tak berbanding lurus dengan performa tim. United justru mencatat start terburuk sejak musim 1992/1993 dengan hanya meraih tujuh poin dari enam laga awal Premier League.
Musim Terburuk dan Tanpa Trofi
Musim 2025/2026 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah Manchester United. Setan Merah finis di peringkat ke-15 Premier League dengan hanya mengoleksi 42 poin, jumlah terendah mereka di kasta tertinggi sejak degradasi musim 1973/1974.
Di ajang domestik, United tersingkir di babak kelima Piala FA oleh Fulham dan angkat koper dari Carabao Cup di perempat final usai kalah dari Tottenham Hotspur. Harapan terakhir di Eropa pun kandas setelah kembali dikalahkan Spurs di final Liga Europa di Bilbao.
Kekalahan itu memastikan United menutup musim tanpa satu pun trofi, sekaligus gagal lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak 2014.
Tekanan Internal dan Pernyataan Kontroversial
Situasi semakin memburuk ketika co-owner Sir Jim Ratcliffe turun langsung ke Carrington pada September lalu. Serangkaian pertemuan digelar, termasuk dengan Amorim, untuk membahas performa tim yang tak kunjung stabil.
Tekanan memuncak setelah United tersingkir secara memalukan dari Carabao Cup oleh klub League Two, Grimsby Town. Amorim kala itu secara terbuka mempertanyakan masa depannya.
“Sesuatu harus berubah. Para pemain jelas menunjukkan apa yang mereka inginkan,” ujarnya.
Beberapa hari kemudian, Amorim kembali memancing kontroversi dengan pernyataan emosional, “Kadang saya benci pemain saya, kadang saya mencintai mereka.”
Kini, setelah proyek mahal dan ambisius itu runtuh, Manchester United harus kembali memulai dari awal. Sementara Ruben Amorim meninggalkan Old Trafford dengan satu pelajaran pahit, filosofi besar tak selalu bisa bertahan tanpa fleksibilitas.
Sumber: The Athletic