Bernabeu Terlalu Kejam: Xabi Alonso dan Pekerjaan Mustahil di Real Madrid

Xabi Alonso menemukan "fakta" bahwa Real Madrid adalah pekerjaan yang mustahil untuk semua orang kecuali dua orang.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 13 Januari 2026, 11:30 WIB
Ilustrasi - Xabi Alonso (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Tekanan yang menjerat Xabi Alonso di Real Madrid mudah dipahami.

Pelatih asal Spanyol itu resmi dibebastugaskan pada Senin waktu setempat, mengakhiri periode singkatnya di kursi panas Santiago Bernabeu, sebuah pekerjaan yang kerap disebut mustahil bagi siapa pun, kecuali segelintir orang terpilih.

Advertisement

Real Madrid adalah klub dengan standar nyaris tak masuk akal. Mereka telah 15 kali menjuarai Liga Champions, menyandang status klub terbesar di dunia, memiliki stadion megah yang baru diperluas, serta dihuni deretan bintang seperti Kylian Mbappe, Jude Bellingham, dan Vinicius Junior.

Nilai skuad mereka menembus lebih dari 1 miliar paun (sekitar Rp22,7 triliun). Dengan segala kemewahan itu, ekspektasi publik pun melambung setinggi langit.

Tak heran para penggemar frustrasi ketika Real kehilangan disiplin taktik dan emosi, pemain mendapat kartu merah secara tak terduga, lalu kalah dari tim papan tengah seperti Celta Vigo pada Desember, serta kembali gagal menaklukkan Barcelona, untuk kelima kalinya dalam enam pertemuan, kali ini dengan trofi Piala Super Spanyol sebagai taruhannya.

 

 


Arogansi Madridista

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso meminta para pemainnya segera mengalihkan fokus ke Liga Champions menghadapi debutan Kairat Almaty. (VYACHESLAV OSELEDKO/AFP)

Kesabaran bukan kosakata yang hidup di Bernabeu. Real Madrid bukan sekadar klub sepak bola besar, melainkan juga drama tanpa akhir, semacam "Home and Ole".

Para pendukungnya kerap dicap merasa paling berhak, dan memang ada kesan arogansi di kalangan Madridista. Namun, mereka akan membalas kritik itu dengan satu kalimat sederhana: lihat saja deretan trofi di museum klub.

Sebelum laga, atmosfer di sekitar Calle de Marceliano Santa María, hanya puluhan meter dari Bernabeu, menggambarkan semuanya. Jalanan dipenuhi ribuan orang, nyaris tak bisa dilalui kendaraan. Ada yang menenteng kaleng bir Mahou, ada pula yang membawa suar.

Replika trofi Liga Champions dikibarkan, asap piroteknik berputar di udara. 90 menit sebelum kick-off, massa bergerak menuju bundaran di dekat stadion, makin memadat.

Bus mewah yang membawa skuad Real melintas diiringi sirene, pengawalan polisi, dan kuda-kuda yang menahan lautan manusia. Gareth Bale, yang pernah terbang di sisi sayap Madrid, dulu kerap duduk di dekat jendela bus, menyerap adrenalin dari pemandangan itu.

Di tengah kerumunan tersebut, terasa jelas kekuatan dukungan, gairah, dan dahaga akan kemenangan. Tugas Alonso adalah memenuhi tuntutan itu, dan itu bukan perkara mudah.


Bernabeu Tak Menunggu Siapa Pun

Pelatih Real Madrid asal Spanyol, Xabi Alonso, berdiri di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Spanyol antara Real Madrid CF dan CA Osasuna di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, pada 19 Agustus 2025. (Thomas COEX/AFP)

Alonso mengawali musim dengan percaya diri. Ia bahkan dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik La Liga bulan Agustus. Namun, tak butuh waktu lama bagi pria berusia 44 tahun itu untuk kembali berjuang mempertahankan jabatannya.

Sejarah Real Madrid dibangun di atas standar yang sangat tinggi, standar yang pertama kali dipancang oleh nama-nama seperti Alfredo Di Stefano, Francisco Gento, dan Ferenc Puskas pada era 1950-an.

Ketika tim dianggap tak memenuhi harapan, para penggemar menyampaikan kekecewaan dengan cara klasik: melambaikan saputangan putih. Biasanya, setelah itu, usia seorang pelatih tak akan panjang.

Jam di Bernabeu berdetak lebih keras dari tempat lain. Alonso pantas mendapat waktu, tetapi waktu adalah kemewahan yang jarang diberikan Real kepada pelatihnya. Padahal, rekam jejak Alonso mengesankan.

Ia sukses besar di Jerman, membawa Bayer Leverkusen menjuarai Bundesliga dan mengembangkan talenta seperti Florian Wirtz hingga bernilai 116 juta paun. Namun, di Madrid, semua itu seolah cepat dilupakan.

Situasinya kian kejam karena Alonso adalah mantan pemain kesayangan. Ia mencatatkan 192 penampilan bersama Real Madrid dan turut meraih gelar Liga Champions 2014, meski harus absen di final kontra Atletico Madrid karena skorsing.

Kedekatan emosional itu tetap tak memberinya kelonggaran. Di Real Madrid, aturannya sederhana: hasil atau pergi.

 


Kesabaran Versi Madrid

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, memberikan arahan kepada anak asuhnya saat melawan Osasuna pada laga pekan perdana La Liga di Stadion di Santiago Bernabeu, Rabu (20/8/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Sejak memasuki abad ke-21, Real Madrid telah memiliki 19 pelatih kepala, termasuk dua periode masing-masing untuk Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti. Dua sosok raksasa itu meninggalkan bayang-bayang panjang yang sulit dilewati Alonso.

Dalam periode terakhir mereka, Zidane memimpin 114 pertandingan, Ancelotti 234, sebuah gambaran tentang "kesabaran" versi Madrid.

Di antara dua era Zidane, Julen Lopetegui hanya bertahan 14 laga, Santiago Solari 32 laga. Berkedip sedikit saja, mereka sudah pergi. Pekerjaan ini benar-benar brutal.

Popularitas Alonso sebagai mantan pemain tak mampu melindunginya. Ketika tanda-tanda kerentanan muncul, publik berbalik, media ikut menekan, dan para pengamat Madrid tak menunjukkan belas kasihan.

Alonso menghadapi panas sekuat tenaga, tetapi api itu terlalu besar untuk dipadamkan.

 


Masalah Madrid Lebih dalam dari Sekadar Alonso

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, berjalan bersama para pemainnya saat pertandingan La Liga Spanyol melawan Rayo Vallecano di Estadio de Vallecas, Spanyol, Minggu (9/11/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Nyaris tak ada pemahaman bahwa skuad Madrid tidak sepenuhnya seimbang. Bahwa Alonso mungkin tak memilih semua rekrutan terbaru. Bahwa opsinya makin terbatas oleh badai cedera.

Dean Huijsen, Trent Alexander-Arnold, Antonio Rüdiger, Dani Carvajal, hingga Eder Militao sempat absen. Simpati nyaris tak ada. Pendukung yang terbiasa dengan standar tertinggi selalu menuntut lebih.

Segala hal tentang Alonso disorot, terutama kemampuan manajemen manusia untuk mengendalikan dan menginspirasi ruang ganti yang sarat ego. Ancelotti berhasil melakukannya dengan otoritas yang tenang, satu anggukan, satu instruksi sederhana.

Reputasinya sebagai pelatih dan pemain membuat para bintang mendengarkan. Dengan kepribadian rendah hati dan selera humor, Ancelotti membuat pemain memahami arti berkorban demi tim. Ia ahli membujuk, bukan sekadar melatih.

Nama besar Zidane juga berperan besar dalam kesuksesannya mengelola ruang ganti. Di hadapan kebesaran, para pemain meningkatkan level kerja mereka. Zidane dan Ancelotti membuat pemain merasa dicintai, egonya dirawat.

Jika para pemain itu menuntut "medali di atas meja" maka meja yang dibutuhkan akan sangat panjang. Ancelotti memenangi Liga Champions dua kali sebagai pemain dan lima kali sebagai pelatih. Zidane sekali sebagai pemain, tiga kali sebagai pelatih.

 


Alonso Pergi Terlalu Cepat

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso saat laga Grup H Piala Dunia Antarklub 2025 melawan Al Hilal di Hard Rock stadium, Miami, Amerika Serikat, Kamis (19/06/2025) WIB. (AFP/Dan Mullan)

Ada rasa sayang karena Alonso tak diberi kesempatan lebih panjang. Kariernya menunjukkan ia petarung, pemimpin, dan sosok yang bisa memberikan hasil jika didukung waktu dan kepercayaan.

Alonso menuntut tanggung jawab, ia bahkan sudah ditunjuk sebagai kapten Real Sociedad pada usia 20 tahun oleh John Toshack. Ia berbagi kepemimpinan dengan Steven Gerrard untuk membangkitkan Liverpool pada babak kedua final Liga Champions 2005 melawan AC Milan asuhan Ancelotti.

Dedikasinya pada detail hampir obsesif. Di Liverpool, ia berlatih menembak dari garis tengah jika suatu hari peluang itu datang, dan benar saja, ia mencetak gol dari jarak 70 yard ke gawang Newcastle United pada 2006.

Di final Piala Dunia 2010, ia menerima tendangan kungfu brutal dari Nigel de Jong di tulang rusuk, tetapi tetap melanjutkan pertandingan.

Alonso adalah pribadi yang kuat, pelatih yang baik, tetapi ia berada di zona perang ruang ganti yang menuntut dukungan lebih besar dari para pemain. Ia memiliki kemampuan manajemen manusia, berangkat dari pengalamannya sebagai pemain.

 


Bab Telah Ditutup

Ekspresi Xabi Alonso di laga Girona vs Real Madrid di Montilivi di pekan ke-14 La Liga 2025/2026, Senin (01/12/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Joan Monfort)

Kisah Mohamed Salah pada Desember lalu mengingatkan pada peristiwa lama di Liverpool. Pada 2008, Alonso absen dalam lawatan ke San Siro menghadapi Inter Milan karena menemani istrinya, Nagore, yang melahirkan anak pertama mereka, Jontxe.

Alonso adalah sosok yang sangat disukai, sangat manusiawi, tetapi berada di bawah tekanan ekstrem.

Betapa ia mungkin mendambakan kendali ruang ganti dan pengaruh rekrutmen seperti yang dimiliki Pep Guardiola di Manchester City. Betapa ia membutuhkan lebih banyak pemain Real yang benar-benar menyatu dengan mentalitas timnya.

Kini, bab itu telah ditutup. Tongkat estafet beralih ke Alvaro Arbeloa, pelatih Castilla terbaru yang dipromosikan cepat ke kursi utama Real Madrid.

Ia pun akan diuji tanpa ampun sejak hari pertama. Apakah Arbeloa mampu menahan panas yang tak sanggup ditahan Alonso? Jawabannya, untuk saat ini, masih menjadi tanda tanya besar. 

 

Sumber: SI

Berita Terkait