Bola.com, Jakarta - Final Piala Super Spanyol 2025/2026 melawan Barcelona menjadi laga terakhir Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid. Klub mengonfirmasi kepergiannya setelah kekalahan tersebut, tapi kepergiannya tidak semata disebabkan hasil laga itu.
Ada sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kegagalannya di Santiago Bernabeu. Salah satu masalah utama adalah minimnya kendali Alonso atas ruang ganti, di mana ia merasa kurang dihormati oleh para pemain.
Seiring kepergiannya dari Real Madrid, ESPN mengungkap tiga hal utama yang paling mengecewakan bagi Xabi Alonso selama masa jabatannya yang singkat.
Apa saja? Berikut ulasannya:
Kontribusi Pemain Bintang yang Jauh dari Harapan
Menurut laporan tersebut, Xabi Alonso sangat kecewa dengan kontribusi sejumlah pemain besar di dalam tim. Kekecewaan ini dinilai wajar, mengingat nama seperti Jude Bellingham dan Vinicius Junior tampil jauh dari performa terbaik sepanjang 2025 dan nyaris tidak memberikan dampak signifikan terhadap kesuksesan tim.
Dalam banyak kesempatan, Real Madrid justru tampak terlalu bergantung kepada Kylian Mbappe. Ketergantungan yang berlebihan ini membuat Xabi Alonso frustrasi, karena ia berharap kontribusi lebih merata dari seluruh pemain kunci, bukan hanya satu sosok bintang.
Ide Taktik Ditolak dan Sindiran Nursery
Hal lain yang paling mengganggu Xabi Alonso adalah kegagalannya menerapkan ide-ide sepak bolanya di lingkungan Real Madrid yang lebih didominasi oleh pemain ketimbang pelatih. Situasi ini sebelumnya juga pernah disoroti oleh Thierry Henry.
Alonso sebenarnya datang dengan gagasan-gagasan radikal serta program latihan yang intens. Namun, pendekatan tersebut mendapat penolakan dari sebagian besar pemain.
Kondisi inilah yang memicu Alonso melontarkan sindiran nursery pada November lalu, yang jika diterjemahkan merujuk pada anggapan timnya seperti ruang penitipan anak, sebuah komentar yang mencerminkan tingkat frustrasinya terhadap sikap para pemain.
Penyesalan Pribadi Xabi Alonso
Selain kecewa terhadap tim dan situasi klub, Alonso juga menyimpan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. Ia merasa beberapa insiden seharusnya bisa ditangani dengan cara yang berbeda.
Alonso menilai bahwa pendekatan yang lebih baik dalam menghadapi konflik internal mungkin dapat menciptakan harmoni yang lebih kuat di dalam skuad.
Penyesalan ini menjadi refleksi pribadi sang pelatih, yang menyadari bahwa masa jabatannya di Real Madrid mungkin akan berakhir dengan cerita berbeda jika sejumlah keputusan diambil secara lebih bijaksana.
Sumber: Madrid Universal