Bola.com, Jakarta - Antonio Conte tampaknya melontarkan sindiran halus kepada mantan pelatih Manchester United, Ruben Amorim, saat membahas pentingnya peran pelatih dalam mengembangkan potensi pemain muda, seperti Rasmus Hojlund.
Nama Hojlund kembali menjadi sorotan setelah penyerang berusia 22 tahun itu mulai menemukan kembali performa terbaiknya bersama Napoli.
Ia bergabung dengan klub Serie A tersebut pada September lalu dengan status pinjaman dari MU, disertai klausul kewajiban pembelian bersyarat senilai sekitar 38 juta paun.
Kepindahan itu terjadi setelah Amorim memberi tahu sang striker bahwa ia tidak masuk rencana tim di Old Trafford.
Hojlund sejatinya direkrut MU dari Atalanta pada 2023 dengan nilai transfer mencapai 72 juta paun di era Erik ten Hag. Namun, performanya tak pernah benar-benar memenuhi ekspektasi.
Musim lalu, ia hanya mampu mencetak empat gol di Premier League dan kesulitan menampilkan ketajaman seperti saat masih bermain di Italia.
Kini, setelah meninggalkan Manchester dan menapaki jalur yang sebelumnya juga ditempuh Scott McTominay, Hojlund perlahan kembali menunjukkan kualitas yang sempat membuatnya menjadi satu di antara penyerang muda paling diminati di Eropa.
Bersama Napoli, ia sudah mengoleksi sembilan gol dan tiga assist musim ini.
Pembinaan yang Tepat
Antonio Conte menilai kebangkitan Hojlund tidak lepas dari proses pembinaan yang tepat.
"Rasmus adalah pemain yang mengalami peningkatan sangat besar sejak pertama kali datang," ujar Conte.
"Dia baru berusia 22 tahun, kami melihat potensi besar dalam dirinya. Tapi, pemain muda seperti ini tentu membutuhkan pelatih yang bisa mengembangkan mereka, mengajarkan cara bekerja untuk tim, soal posisi, kapan harus mendekati bola dan kapan menyerang ruang," imbuhnya.
"Pekerjaan kami adalah terus meningkatkan semua pemain dan membuat mereka lebih baik dibandingkan saat pertama kali tiba," lanjut Conte.
Kontribusi Hojlund juga sudah berbuah gelar. Ia turut mengantar Napoli menjuarai Piala Super Italia, mencetak gol dan assist pada semifinal melawan AC Milan sebelum Napoli mengalahkan Bologna di partai final.
Menariknya, keberhasilan itu datang hanya sepekan sebelum Ruben Amorim dipecat MU.
Bahagia di Napoli
Usai mengangkat trofi, Hojlund mengunggah foto di media sosial dengan keterangan, "Inilah seperti apa keputusan yang tepat," sebuah pernyataan yang banyak ditafsirkan sebagai sindiran kepada mantan klubnya.
Napoli pun tak menutupi keinginan untuk mempermanenkan status Hojlund.
Direktur olahraga Napoli, Giovanni Manna, bulan lalu menyebut penyelesaian transfer permanen untuk musim 2026/2027 seharusnya hanya tinggal formalitas begitu klausul yang disepakati terpenuhi.
Sang pemain secara terbuka mengungkapkan kebahagiaannya bermain di Italia selatan.
"Manchester United memberi tahu saya bahwa saya tidak masuk rencana mereka untuk musim ini. Bagi saya dan Napoli, ini adalah sebuah peluang. Saya ingin langsung mengenakan seragam Azzurri," kata Hojlund kepada Corriere dello Sport, Desember lalu.
"Saya berbicara dengan Manna, lalu dengan Conte, dan saya memahami arti tantangan ini bagi saya. Panggilan pertama dari Conte singkat, tapi sangat jelas. Kami berdua tahu ini langkah yang tepat. Jika pelatih seperti dia menelepon Anda, yang bisa dilakukan hanyalah mengatakan 'ya'," tuturnya.
Pengalaman Bertanding
Kendati masih muda, Hojlund merasa sudah cukup banyak pengalaman bertanding.
"Untuk usia saya, saya sudah bermain cukup banyak. Saya belum merasa sebagai pemain berpengalaman, tapi jelas saya punya banyak pertandingan di kaki saya," akunya.
Di Napoli, ia juga tampil impresif bersama Scott McTominay, yang langsung menjuarai Serie A pada musim pertamanya dan terpilih sebagai pemain terbaik.
Keduanya sempat menjadi rekan setim di Manchester United selama satu musim sehingga kehadiran McTominay membantu Hojlund beradaptasi di lingkungan baru.
"Kami berada di tahap karier yang berbeda. Saya masih harus banyak belajar, sementara dia lebih berpengalaman. Saya masih muda dan butuh bermain, dan ini adalah kesempatan besar bagi saya," kata Hojlund.
"Saya selalu ingin menjaga standar tetap tinggi. Kalau merasa puas diri, Anda berisiko menurun. Saya terus berusaha berkembang: dalam hal gol, permainan, pertumbuhan pribadi, bahkan belajar bahasa Italia," ucapnya.
"Beradaptasi dengan budaya baru itu sangat penting, apalagi di Italia, di mana bahasa punya peran besar. Sekarang saya hampir memahami semuanya, meski berbicara dengan dialek Napoli itu cerita lain," katanya lagi.
Sumber: Daily Mail