Senegal Protes Banyaknya Kekacauan Jelang Final Piala Afrika 2025 Melawan Maroko

Kontroversi kembali mewarnai sepak bola Afrika jelang laga puncak Piala Afrika 2025.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 18 Januari 2026, 17:15 WIB
Sadio Mane (kanan) menjadi pahlawan kemenangan Senegal setelah mencetak gol ke gawang Mesir pada semifinal Piala Afrika 2025, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

Bola.com, Jakarta - Kontroversi kembali mewarnai sepak bola Afrika jelang laga puncak Piala Afrika 2025. Timnas Senegal secara terbuka melayangkan protes keras kepada panitia penyelenggara turnamen dan tuan rumah Maroko, menjelang final AFCON yang akan digelar pada Minggu malam waktu setempat.

Singa Teranga, juara Piala Afrika 2021, menuduh adanya berbagai bentuk ketidakberesan dalam persiapan mereka menuju partai final melawan Maroko. Senegal menilai kondisi tersebut berpotensi mengganggu fokus tim dan memengaruhi jalannya pertandingan krusial di lapangan.

Advertisement

Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Federasi Sepak Bola Senegal (FSF), mereka mengungkapkan serangkaian keluhan serius, mulai dari masalah keamanan, akomodasi, fasilitas latihan, hingga distribusi tiket untuk laga final.

“FSF menginformasikan kepada publik nasional dan internasional, serta badan penyelenggara, terkait berbagai disfungsi yang terjadi dalam persiapan menuju final Piala Afrika,” tulis federasi dalam pernyataan panjangnya.


Minim Pengamanan

Pemain Senegal, Sadio Mane, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Mesir pada laga semifinal Piala Afrika di Stadion Grand Stade de Tangier, Tangier, Maroko, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mohamed Bounaji)

Masalah pertama yang disoroti Senegal adalah minimnya pengamanan saat kedatangan tim di Stasiun Kereta Rabat. FSF mengklaim tidak adanya pengamanan memadai membuat para pemain dan staf kepelatihan berada dalam situasi yang berisiko.

“FSF mengecam absennya langkah-langkah keamanan yang layak saat kedatangan tim kami di Stasiun Rabat. Kondisi ini membuat pemain dan staf berada dalam kontak langsung dengan suporter lokal, sesuatu yang tidak sesuai dengan standar pertandingan sebesar final kontinental,” tulis pernyataan tersebut.

Selain itu, Senegal juga mengeluhkan kualitas akomodasi awal yang mereka terima. Menurut FSF, hotel yang disediakan pada awalnya tidak memenuhi standar kenyamanan dan profesionalisme untuk sebuah partai final Piala Afrika.

“Terkait logistik hotel, FSF telah mengajukan protes resmi. Setelah itu, barulah sebuah hotel bintang lima ditunjuk untuk tim kami, sehingga kondisi yang layak akhirnya bisa terpenuhi,” lanjut pernyataan tersebut.


Fasilitas Latihan

Tak berhenti di situ, fasilitas latihan juga menjadi sorotan tajam. Senegal menolak berlatih di Kompleks Mohamed VI, yang diketahui merupakan markas utama timnas Maroko. Mereka menilai keputusan tersebut melanggar prinsip keadilan dan sportivitas.

“FSF telah menyampaikan kepada CAF penolakan untuk berlatih di Kompleks Mohamed VI. Fasilitas tersebut merupakan basis tim lawan dan hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait keadilan kompetisi,” tegas federasi.

Bahkan hingga pernyataan tersebut dirilis, Senegal mengklaim belum mendapatkan kepastian mengenai lokasi latihan resmi mereka jelang laga final.

“Lebih jauh, hingga saat ini FSF belum menerima informasi resmi terkait lokasi latihan tim Senegal sebelum final,” lanjut mereka.


Distribusi Tiket

Isu lain yang turut memanaskan situasi adalah distribusi tiket pertandingan. FSF menyebut kuota tiket yang diberikan kepada Senegal sangat terbatas dan tidak sebanding dengan besarnya animo pendukung mereka.

“Situasi ini sangat mengkhawatirkan. Paket resmi hanya mencakup dua tiket VVIP. FSF juga menyesalkan ketidakmampuan untuk membeli tiket VIP dan VVIP tambahan seperti yang diperbolehkan pada babak semifinal,” tulis FSF.

Meski demikian, federasi mengonfirmasi bahwa mereka masih bisa membeli tiket untuk para pendukung Senegal dalam batas maksimal yang ditetapkan CAF, yakni 300 tiket kategori 1, 850 tiket kategori 2, dan 1.700 tiket kategori 3. Namun jumlah tersebut dinilai jauh dari cukup.

“FSF menilai jumlah ini tidak sebanding dengan permintaan yang ada dan percaya bahwa pembatasan tersebut merugikan suporter Senegal,” pungkas pernyataan tersebut.

Sumber: FSF

Berita Terkait