Brahim Diaz Minta Maaf usai Gagal Panenka di Final Piala Afrika 2025: Jiwa Saya Terluka...

Brahim Diaz menyampaikan permintaan maaf setelah kegagalannya mengeksekusi penalti di final Piala Afrika 2025. Apa katanya?

Bola.com, Jakarta - Gelandang serang Maroko, Brahim Diaz, menyampaikan permintaan maaf terbuka usai gagal mengeksekusi penalti penentu dengan gaya Panenka pada final Piala Afrika 2025 melawan Senegal.

Kegagalan tersebut menjadi satu di antara momen krusial dalam kekalahan Maroko 0-1 dari Senegal pada laga puncak yang digelar di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB.

Dalam pernyataannya, Brahim mengakui sepenuhnya tanggung jawab atas penalti yang gagal di menit-menit akhir pertandingan.

Pemain berusia 26 tahun itu menyebut momen tersebut sebagai luka yang tidak mudah disembuhkan.

Maroko yang berstatus tuan rumah mendapat hadiah penalti pada masa tambahan waktu babak kedua saat skor masih imbang. Keputusan wasit diambil setelah Brahim dinilai dilanggar bek Senegal, El Hadji Malick Diouf.

Kontroversi pun tak terhindarkan. Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw, memprotes keras keputusan tersebut hingga meminta timnya meninggalkan lapangan, yang berujung pada penundaan pertandingan selama sekitar 16 menit.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 3 halaman

Permintaan Maaf

Setelah para pemain Senegal kembali ke lapangan, Brahim maju sebagai eksekutor. Ia memiliki peluang emas untuk menghadirkan gelar Piala Afrika pertama bagi Maroko sejak 1976.

Namun, sepakan penalti dengan teknik cungkil yang dilepaskannya justru mengarah lurus ke kiper Senegal, Edouard Mendy.

Laga pun berlanjut ke babak extra time, di mana Pape Gueye mencetak gol penentu kemenangan Senegal.

"Jiwa saya terluka," tulis Brahim dalam pernyataan di media sosial.

"Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, terutama dengan hati saya."

"Kemarin saya gagal, dan saya mengambil tanggung jawab penuh serta meminta maaf dengan sepenuh hati. Akan sulit bagi saya untuk pulih karena luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan mencoba."

"Bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk semua yang percaya kepada saya dan untuk semua yang ikut menderita bersama saya."

"Saya akan terus melangkah sampai suatu hari saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan rakyat Maroko," tulisnya.

3 dari 3 halaman

Pemain Paling Menonjol

Terlepas dari kegagalan di final, Brahim tetap menjadi satu di antara pemain paling menonjol sepanjang turnamen. Penyerang Real Madrid itu mencetak gol dalam lima pertandingan beruntun hingga semifinal.

Pemain yang memutuskan membela Maroko setelah berafiliasi dengan Spanyol pada awal 2024 itu juga sempat terekam beradu argumen dengan pelatih Timnas Maroko, Walid Regragui, sesaat setelah penalti gagal tersebut.

Ia kemudian ditarik keluar delapan menit setelah babak tambahan waktu pertama dimulai dan langsung berjalan menuju lorong stadion sambil menangis.

Brahim sempat kembali ke lapangan untuk menerima penghargaan top scorer turnamen, setelah mencatatkan lima gol dari tujuh pertandingan.

Ia tampak sangat emosional saat menerima Sepatu Emas dan harus ditenangkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, serta Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF), Fouzi Lekjaa.

Sehari setelah final, Infantino mendesak Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) untuk mengambil langkah-langkah yang tepat menyusul "adegan-adegan buruk" yang terjadi pada laga puncak tersebut.

Sementara itu, FRMF menyatakan akan menelusuri jalur hukum terkait keputusan Senegal yang sempat menarik timnya keluar lapangan selama pertandingan berlangsung.

 

Sumber: The Athletic via NY Times

Video Populer

Foto Populer