Sadio Mane, Legenda yang Jadi Pahlawan Senegal dan Selamatkan Wajah Sepak Bola Afrika

Sadio Mane kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola Afrika. Bukan hanya lewat gol atau assist, tetapi juga melalui kepemimpinan luar biasa final Piala Afrika 2025.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 19 Januari 2026, 11:45 WIB
Penyerang Senegal, Sadio Mane, mengangkat trofi sambil merayakan kemenangan bersama rekan-rekannya setelah menjuarai Piala Afrika dengan mengalahkan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. (AFP/Sebastian Bozon)

Bola.com, Jakarta - Sadio Mane kembali menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola Afrika. Bukan hanya lewat gol atau assist, tetapi juga melalui kepemimpinan luar biasa di momen paling menegangkan pada final Piala Afrika 2025, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. 

Di usia 33 tahun, penyerang Senegal itu resmi mengukuhkan statusnya sebagai salah satu legenda terbesar Afrika sepanjang masa.

Advertisement

Mantan bintang Liverpool tersebut kini menjadi pemain ketiga di Afrika yang mampu meraih lebih dari satu gelar Piala Afrika, sekaligus lebih dari satu penghargaan African Footballer of the Year. Mane sejajar dengan dua ikon dari Kamerun, Roger Milla dan Samuel Eto’o.

Prestasi itu kian sempurna setelah Mane memimpin Senegal menjuarai Piala Afrika 2025, setelah menundukkan Maroko dalam final dramatis. Ini menjadi gelar Piala Afrika kedua bagi Senegal setelah edisi 2021.

Di turnamen ini, Mane tampil impresif dengan dua gol dan tiga assist, menjadikannya pemain dengan kontribusi gol terbanyak kedua sepanjang kompetisi. Ia pun dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Piala Afrika 2025, menegaskan perannya sebagai jantung permainan Lions of Teranga.

 


Momen Paling Ikonik

Penyerang Senegal bernomor punggung 10, Sadio Mane, mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama rekan-rekan setimnya setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Namun, momen paling ikonik justru terjadi bukan saat ia mencetak gol, melainkan ketika laga final diwarnai kontroversi besar. Pada menit-menit akhir injury time, wasit Jean-Jacques Ngambo Ndala memberikan penalti kontroversial untuk Maroko setelah tinjauan VAR, hanya beberapa menit setelah menganulir gol Senegal di menit ke-92.

Keputusan tersebut memicu protes keras. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, bahkan memerintahkan timnya meninggalkan lapangan dan masuk ke terowongan, menyebabkan laga tertunda sekitar 15 menit.

Di tengah situasi panas, Sadio Mane menjadi satu-satunya pemain Senegal yang tetap berada di lapangan. Ia berdialog dengan ofisial pertandingan dan para pemain Maroko, lalu secara heroik memanggil rekan-rekannya kembali dari terowongan.

“Ya, memang saya yang meyakinkan tim untuk kembali ke lapangan,” ujar Mane seusai laga, seperti dikutip dari Sporting News.

“Pemain dan pelatih sudah memutuskan untuk mundur, tapi saya tidak memahami keputusan itu. Saya bilang kepada semua orang untuk kembali dan bermain apa pun risikonya," imbuh dia. 

Keputusan Mane terbukti krusial. Penalti Brahim Diaz gagal setelah panenka-nya dengan mudah ditepis Edouard Mendy, sebelum Pape Gueye melepaskan tembakan roket kaki kiri di babak tambahan untuk memastikan kemenangan Senegal.

 

 


Duta Sepak Bola Afrika

Penyerang Senegal, Sadio Mane, merayakan kemenangan bersama timnya setelah laga final Piala Afrika 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (25/1/2026) dini hari WIB. (Franck Fife/AFP)

Mantan penyerang Nigeria, Daniel Amokachi, mengatakan kepada BBC World Service tentang kehebatan Mane. 

“Mane melangkah lebih jauh untuk membawa timnya kembali, dan itu terbayar. Sosoknya benar-benar duta besar sepak bola. Kita tahu seperti apa pribadinya di luar lapangan, dan dia sangat memahami makna sepak bola," kata Amokachi. 

Sementara itu, mantan pemain Maroko Hassan Kachloul menilai sepak bola Afrika dan dunia nyaris dirugikan sebelum Mane turun tangan. Ya, Mane menyelamatkan wajah sepak bola afrika. 

“Yang paling saya suka, satu-satunya pemain dari tim Senegal yang tetap ada adalah Sadio Mane,” ujar Kachloul kepada E4.

“Itu menunjukkan betapa besar sosok dirinya. Dia kembali ke ruang ganti dan membawa para pemain kembali ke lapangan. Mane adalah orang yang membuat mereka kembali bermain.”   


Tak Boleh Gantung Sepatu

Pemain Senegal Sadio Mane (tengah) berebut bola dengan pemain Maroko Neil Yoni El Aynaoui pada laga final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Themba Hadebe)

Mane sejatinya telah mengumumkan bahwa Piala Afrika 2025 akan menjadi turnamen terakhirnya, setelah enam kali tampil di Piala Afrika. Namun, federasi dan seluruh rakyat Senegal tampaknya belum siap melepas sang legenda.

Pelatih Pape Thiaw bahkan secara terbuka berharap Mane mengurungkan niat pensiun dari timnas.

“Negara tidak sepakat dengan keputusan itu, dan saya juga tidak sepakat,” kata Thiaw kepada ESPN.

“Dia milik Senegal. Dia memberi teladan, kerendahan hati, pendidikan, dan pengorbanannya untuk negara.”

Sadio Mane kini tercatat sebagai top skor sepanjang masa Senegal dengan 53 gol, serta pemain dengan jumlah caps terbanyak kedua. Dalam waktu dekat, ia akan kembali memimpin Senegal di Piala Dunia 2026, dengan harapan besar bahwa kisahnya bersama tim nasional belum akan berakhir.

Satu hal pasti, Sadio Mane bukan sekadar bintang. Ia adalah simbol, pemimpin, dan legenda Afrika.  

Sumber: Sporting News 

Tag Terkait

Berita Terkait