Bola.com, Jakarta - Kondisi Manchester United (MU) sedang tidak baik-baik saja. Kali ini, parameternya adalah total kekayaan klub.
Menurut data terbaru, MU terjun bebas ke peringkat kedelapan daftar klub sepak bola terkaya di dunia. Pada tahun lalu, Setan Merah menempati peringkat keempat.
Meski pendapatan MU meningkat £40 juta (Rp908,7 miliar), rezim Sir Jim Ratcliffe dan INEOS di Old Trafford justru menyaksikan klub turun ke posisi terendah sepanjang sejarah pada tabel pendapatan.
Yang menyesakkan, kekayaan MU disalip oleh rival terbesar mereka, Liverpool. Kini The Reds menjadi klub Inggris dengan pendapatan terbesar di dunia.
Menurut The Sun, Kamis (22/1/2026), data terbaru tersebut disusun pakar keuangan sepak bola Deloitte. Data ini menunjukkan MU kini juga berada di bawah Manchester City dan Arsenal. Red Devils hanya menempati peringkat keempat klub terkaya di di Premier League.
Total pemasukan MU dari tiket pertandingan, hak siar, dan kerja sama komersial memang naik dari £653 juta (Rp14,8 triliun) pada musim 2023/2024 menjadi £692 juta (Rp15,7 triliun) pada musim lalu.
Namun, finis di posisi ke-15 Premier League berkontribusi pada penurunan pendapatan hak siar sebesar £45 juta (Rp1,02 triliun). Mereka banyak kehilangan pendapatan karena tidak bermain di Liga Champions, dan hanya sebagian tertutupi oleh perjalanan mereka hingga final Liga Europa.
Efek Prestasi Buruk dan Tak Main di Eropa
MU dalam 10 kesempatan sebelumnya pernah menjadi klub terkaya di dunia. Namun, kini para rival di domestik maupun Eropa membukukan pendapatan yang lebih besar.
Ini menjadi pertama kalinya klub Old Trafford itu keluar dari lima besar sepanjang 29 tahun sejarah penyusunan Deloitte Money League.
Lebih jauh lagi, Manchester United hanya memainkan 20 laga kandang musim ini, setelah tersingkir dari dua ajang piala domestik pada laga pertama, serta tidak tampil di kompetisi Eropa. Klub Manchester Merah ini diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan hingga £85 juta (Rp1,93 triliun) akibat lebih sedikitnya pertandingan di Old Trafford dan nihilnya pemasukan Eropa.
“Jika kita kembali 10 atau 15 tahun lalu dan melihat pendapatan hari pertandingan Manchester United, mereka adalah pemimpin industri," kata Tim Bridge dari Deloitte.
“Kemampuan mereka menghasilkan pendapatan komersial menjadi tolok ukur bagi semua klub lain dalam menyusun strategi. Saya rasa kondisi itu kini tidak lagi berlaku."
“Peluang tetap ada bagi Manchester United. Mereka bisa dibilang masih merupakan merek klub sepak bola global terbesar dan dapat memaksimalkannya dengan cara yang hanya mungkin dilakukan segelintir klub."
“Namun untuk melakukan itu dibutuhkan fasilitas yang benar-benar memadai. Klub harus memikirkan ulang bagaimana mereka berinteraksi dengan suporter dan seperti apa hubungan itu dibangun," imbuh Deloitte.
Pendapatan Liverpool Melonjak
Sebaliknya, Liverpool, mencatat kenaikan pendapatan £106 juta (Rp2,4 triliun) menjadi £729 juta (Rp16,5 triliun), dan kini berada di peringkat kelima.
Manchester City juga mengalami sedikit penurunan, dengan pendapatan turun £7 juta (Rp159 miliar) menjadi £723 juta (Rp16,4 triliun). Klub yang bermarkas di Etihad itu melorot dari peringkat kedua ke keenam setelah finis ketiga di Premier League serta tersingkir di babak 16 besar Liga Champions musim lalu.
Sementara itu, Arsenal melonjak dari peringkat ke-10 ke ketujuh, dengan pendapatan naik hampir 15 persen dari £624 juta (Rp14,1 triliun) menjadi £717 juta (Rp16,2 triliun), setelah melaju ke semifinal Liga Champions dan meraup sekitar £99 juta (Rp2,24 triliun) dari hadiah UEFA.
Liverpool menjadi satu-satunya klub Premier League yang masuk lima besar, dengan Real Madrid menjadi klub pertama yang menembus angka £1 miliar, disusul Barcelona, Bayern Munichen, dan PSG.
Dampak Format Baru Liga Champions
Angka-angka tersebut juga menunjukkan dampak dari format baru Liga Champions dan kesepakatan hak siar televisi yang mulai diterapkan musim lalu.
“Performa di lapangan tetap menjadi faktor utama bagi klub untuk naik ke jajaran teratas peringkat," tulis Tim Bridge dari Deloitte
“Banyak klub diuntungkan oleh kompetisi Eropa dan turnamen klub internasional yang baru maupun diperluas."
“Klub-klub papan atas memainkan lebih banyak pertandingan rata-rata dibanding musim sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan kompetisi dan performa olahraga."
“Meski ini menghadirkan peluang finansial besar, keseimbangan harus dijaga antara optimalisasi pendapatan dan perlindungan nilai permainan di lapangan serta kesejahteraan pemain, di tengah jadwal pertandingan yang semakin padat," imbuh Tim Bridge.
10 Klub Berpenghasilan Terbesar di Dunia
- Real Madrid: Rp23,01 triliun
- Barcelona: Rp19,3 triliun
- Bayern Munchen: Rp17,05 triliun
- Paris Saint-Germain: Rp16,58 triliun
- Liverpool: Rp16,55 triliun
- Manchester City: Rp16,42 triliun
- Arsenal: Rp16,28 triliun
- Manchester United: Rp15,71 triliun
- Tottenham Hotspur: Rp15,33 triliun
- Chelsea: Rp11,58 triliun
Sumber: The Sun