Timnas Indonesia Sudah Punya Pelatih Baru, Komisi X DPR RI: Perlu Pembinaan Berkelanjutan, Bukan Respons Jangka Pendek

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan pergantian pelatih harus diiringi dengan penguatan sistem pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek atas kegagalan target.

BolaCom | Nandang PermanaDiterbitkan 22 Januari 2026, 22:15 WIB
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam acara perkenalan secara resmi ke publik dalam sesi konferensi pers di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyampaikan pesan yang ditujukan untuk pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman. Tujuannya agar pembenahan sepak bola nasional tidak kembali terjebak dalam pola instan yang berulang.

Hetifah menegaskan pergantian pelatih harus diiringi dengan penguatan sistem pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons jangka pendek atas kegagalan target.

Advertisement

Pesan itu disampaikan menyusul keputusan PSSI menunjuk John Herdman, pelatih asal Inggris, pada 3 Januari 2026 untuk menggantikan Patrick Kluivert.

Menurut Hetifah, perubahan ini seharusnya dimaknai sebagai momentum refleksi dan evaluasi menyeluruh, bukan semata reaksi atas kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.

“Sepak bola itu bukan proyek cepat saji. Kita butuh arah yang jelas, sistematis, dan jangka panjang. Jangan hanya fokus mengganti pelatih, tetapi membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan,” tegas Hetifah dalam keterangan resmi yang diterima Bola.com, Kamis (22/01/2026).

 
 

Perlunya Sistem dan Tata Kelola Sepak Bola yang Sehat

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian yang berada di tengah-tengah puluhan suporter Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025) malam. (Bola.com/Nandang Permanan)

Hetifah menekankan fondasi sepak bola nasional hanya dapat dibangun melalui pembinaan usia muda yang berjenjang, akademi sepak bola yang hidup dan terintegrasi, serta kompetisi yang berpihak pada pengembangan pemain lokal.

“Tanpa regenerasi yang kuat, sehebat apa pun strategi pelatih, hasilnya akan tetap sama tersandung di tengah jalan,” ujarnya.

Hetifah juga menegaskan Komisi X DPR RI akan terus mengawal transformasi sepak bola nasional agar tidak bergantung kepada figur pelatih atau pimpinan federasi, melainkan bertumpu kepada sistem dan tata kelola yang sehat.

Pemutusan kerja sama dengan pelatih sebelumnya yang dilakukan melalui mekanisme mutual termination, lanjut Hetifah, membuka ruang bagi PSSI untuk memulai arah baru pembinaan sepak bola nasional.

Momentum ini dinilainya penting untuk menata ulang filosofi bermain dan sistem pembinaan secara lebih terstruktur.

“Pelatih boleh berganti, tetapi arah pembangunan sepak bola nasional tidak boleh berubah setiap kali kita kalah. Kita harus bicara sistem, bukan sekadar figur,” pungkasnya.

Berita Terkait