FIFA Beri Donald Trump Peran Kontroversial di Piala Dunia 2026

FIFA beri peran kontroversial di final Piala Dunia 2026 untuk Presiden AS, Donald Trump.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Januari 2026, 20:30 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di resor ski Davos, Swiss, pada Rabu (21/1/2026). (Dok. Gian Ehrenzeller/Keystone via AP)

Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang sebagai ajang sepak bola paling prestisius dan paling banyak ditonton di dunia, kini menghadapi risiko kehilangan otentisitasnya.

Turnamen yang akan digelar di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat ini, kini menempatkan Presiden AS, Donald Trump, dalam peran khusus di final yang dijadwalkan pada 19 Juli mendatang.

Advertisement

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Sementara Lionel Scaloni dan Timnas Argentina bersiap terbang demi meraih kemenangan, bertekad mempertahankan status mereka sebagai tim terbaik di kancah internasional, sejumlah tim lain juga akan berjuang keras untuk mengangkat trofi prestisius itu di MetLife Stadium, New Jersey.

Siapa yang bakal keluar sebagai juara di ajang internasional musim panas ini masih menjadi misteri. Namun, satu hal yang pasti, Trump, yang keterlibatannya makin menimbulkan kontroversi di kalangan suporter, akan berada di garis depan sejak awal hingga akhir turnamen.

Pengalaman serupa pernah terjadi saat Chelsea menjuarai Piala Dunia Antarklub 2025, dan kini peran baru Trump di Piala Dunia 2026 menimbulkan keprihatinan.


Peran Khusus dari FIFA

Presiden FIFA Gianni Infantino berfoto selfie dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam acara drawing Piala Dunia 2026, Sabtu (6/12/2025). (AP Photo/Evan Vucci)

Tidak seperti biasanya bagi seorang Presiden, Trump terlibat aktif dalam persiapan Piala Dunia 2026 yang hanya tinggal beberapa bulan lagi.

Sebaliknya, rekan sejawatnya dari Meksiko, Claudia Sheinbaum, dan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, lebih banyak berada di luar sorotan publik. Trump justru membuat turnamen yang seharusnya aman menjadi kontroversial.

Saking seriusnya dampak keterlibatan Trump, mantan menteri Konservatif Inggris, Simon Hoare, bahkan menyarankan agar negara-negara Inggris menolak partisipasi di Piala Dunia 2026 akibat tingkah laku Trump saat berbicara di House of Commons pada Senin malam waktu setempat.

Hoare meminta Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, turun tangan. Hasilnya, Inggris dan Skotlandia bukan satu-satunya tim yang mempertanyakan partisipasi mereka.


Peran Trump Menonjol

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara tentang Piala Dunia 2026 bersama Presiden AS, Donald Trump, dan Wakil Presiden, JD Vance, di Ruang Oval Gedung Putih pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. Trump mengumumkan bahwa pengundian Piala Dunia FIFA 2026 akan berlangsung di Kennedy Center. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Terlepas apakah negara-negara lain memutuskan untuk memboikot ajang internasional terbesar ini, peran Trump tetap menonjol.

Infantino, saat menjadi pembicara di acara Davos Kick-Off untuk Piala Dunia 2026 yang bersamaan dengan World Economic Forum, menegaskan bahwa Trump, penerima FIFA Peace Prize pertama yang diumumkan saat undian Piala Dunia di Washington pada Desember 2025, akan hadir secara dekat ketika pemenang mengangkat trofi, Juli mendatang.

"Trofi ini akan diberikan pada 19 Juli kepada kapten tim yang memenangkan Piala Dunia," kata Infantino.

"Saya akan menyerahkannya bersama Presiden Amerika Serikat, tuan rumah turnamen. Tidak ada yang bisa menyentuh trofi ini."

Menurut aturan FIFA yang baku, hanya pihak tertentu, biasanya pemenang dan kepala negaranya, yang diizinkan menyentuh trofi Piala Dunia. Namun, keputusan ini menempatkan Trump di antara mereka yang berhak.


Jejak "Menyela" Penyerahan Trofi

Presiden FIFA, Gianni Infantino (kanan), mengarahkan Presiden AS, Donald Trump, menjauh dari para pemain Chelsea yang merayakan kemenangan setelah mereka memenangkan pertandingan final Piala Dunia Antarklub FIFA di Stadion MetLife pada 13 Juli 2025 di East Rutherford, New Jersey. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia Antarklub, Amerika Serikat menjadi tuan rumah kompetisi tersebut, satu tahun sebelum AS, Meksiko, dan Kanada dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2026. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Trump bukan sosok asing dalam hal menyela penyerahan trofi. Musim panas 2025, ia ingin berada di garis depan ketika Reece James dan rekan-rekannya di Chelsea mengangkat Piala Dunia Antarklub 2025.

Trump juga menyerahkan penghargaan Pemain Terbaik Turnamen kepada Cole Palmer.

Ini bukan pertama kalinya FIFA tampak "memanjakan" keinginan Trump untuk menjadi pusat perhatian.

Tanpa penjelasan transparan mengenai mekanisme pemilihan, Trump dianugerahi FIFA Peace Prize pada awal Desember 2025, setelah ia gagal mendapatkan Nobel Peace Prize.

"Anda jelas pantas menjadi penerima FIFA Peace Prize pertama atas tindakan Anda, atas apa yang telah Anda capai, dengan cara Anda, tapi dengan cara yang luar biasa,” kata Infantino saat menyerahkan penghargaan tersebut.

"Dan Anda selalu bisa mengandalkan dukungan saya, dukungan seluruh komunitas sepak bola, untuk membantu Anda menegakkan perdamaian dan kemakmuran dunia," lanjut Infantino.


Rasa Malu

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Namun, sumber internal FIFA yang berbicara dengan The Guardian mengungkapkan ada rasa "malu mendalam" di kalangan beberapa pejabat FIFA terkait keputusan ini, sekaligus merasa tidak nyaman dengan cara penghargaan tersebut diserahkan.

Meski begitu, beberapa petinggi badan sepak bola dunia menegaskan keputusan mereka tetap mengganjar Trump dengan penghargaan tersebut dan menolak berkomentar terkait rumor atau opini publik.

"FIFA sangat mendukung Peace Prize tahunan ini, penghargaan untuk mengakui tindakan luar biasa demi perdamaian dan persatuan. FIFA mencatat bahwa penerima Nobel Peace Prize 2025 (pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado) telah memberikan medalinya kepada Presiden Trump," kata Juru bicara FIFA.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait