Michael Carrick Jadi Dilema Sir Jim Ratcliffe di MU

Sir Jim Ratcliffe dihadapkan pada dilema soal Michael Carrick di MU.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 25 Januari 2026, 19:30 WIB
Pelatih Middlesbrough, Michael Carrick, mengamati permainan anak asuhnya dalam laga leg kedua semifinal Carabao Cup 2023/2024 yang digelar di Stamford Bridge, Rabu (24/1/2024). (AP Photo/Kin Cheung)

Bola.com, Jakarta - Dampak instan yang ditinggalkan Michael Carrick sebagai manajer interim Manchester United justru menghadirkan dilema besar bagi co-owner klub, Sir Jim Ratcliffe, dan jajaran pengambil keputusan di Old Trafford.

Penampilan luar biasa MU dalam satu laga saja sudah cukup mengguncang rencana jangka panjang klub.

Advertisement

Hanya dalam waktu 90 menit lebih saat menghadapi Manchester City, Carrick memberi gambaran menjanjikan tentang potensi yang bisa diraih Setan Merah jika mereka akhirnya menemukan arah yang tepat di lapangan.

Kemenangan telak itu menghadirkan euforia di kubu merah Manchester—bahkan Man City nyaris tak bisa mengeluh jika skor berakhir 6-0, dan layak dianggap sebagai momen titik balik.

Setidaknya, hasil tersebut menjadi garis tegas bahwa MU tak boleh kembali ke masa-masa paling suram di bawah kepemimpinan Ruben Amorim dan Erik ten Hag.

Jika para pemain mampu tampil dengan kecepatan, kekuatan, ketajaman, dan determinasi seperti itu melawan Man City maka standar tersebut seharusnya bisa dijadikan patokan minimum.


Referensi dari Arteta

Mulai Oktober 2022, Michael Carrick menjadi pelatih selama dua setengah tahun di Middlesbrough. Tampak dalam foto, Michael Carrick (kiri) saat masih menjadi pelatih Middlesbrough bersalaman dengan Mauricio Pochettino di akhir pertandingan sepak bola leg pertama semifinal Piala Liga Inggris antara Middlesbrough dan Chelsea di Stadion Riverside di Middlesbrough, timur laut Inggris pada 9 Januari 2024. (Oli SCARFF/AFP)

Meski begitu, Carrick masih jauh dari status manajer permanen. Para petinggi MU tentu akan mencermati penampilan tim dalam laga tandang melawan West Ham dan Everton bulan depan, sama seriusnya perhatian mereka terhadap duel berat melawan Arsenal di Emirates Stadium, Minggu malam ini.

Namun, bila Carrick mampu kembali memicu performa menghancurkan dari skuad yang kerap mengecewakan dalam beberapa waktu terakhir maka wacana mengangkatnya sebagai manajer tetap bukan lagi sekadar angan-angan.

Sejumlah nama besar seperti Thomas Tuchel, Luis Enrique, Carlo Ancelotti, hingga Roberto De Zerbi disebut-sebut masuk radar MU saat menyusun langkah ke depan.

Akan tetapi, jika MU membutuhkan referensi, cukup melihat sosok Mikel Arteta, yang akan berhadapan langsung dengan Carrick di pinggir lapangan London Utara pada Minggu malam ini.

Arteta belum pernah menangani tim sebagai manajer utama ketika mengambil alih Arsenal lebih dari enam tahun lalu. Ia memang sempat magang di bawah Pep Guardiola di Manchester City selama tiga tahun, menyerap ilmu berharga dari satu di antara pelatih terbaik dunia.


Kesabaran

Mikel Arteta. Pelatih Arsenal asal Spanyol yang kini berusia 40 tahun ini menjadi pelatih termuda di Liga Inggris musim 2022/2023. Ia mulai menangani Arsenal pada 22 Desember 2019 menggantikan posisi pelatih caretaker Arsenal saat itu, Freddie Ljungberg. Sebelumnya Mikel Arteta menjadi asisten pelatih Pep Guardiola di Manchester City sejak 3 Juli 2016. Hingga 8 laga pada musim 2022/2023 ini Arsenal dibawanya menduduki puncak klasemen sementara dengan mengoleksi 21 poin dari hasil 7 kali menang dan 1 kali kalah. (AP/Kirsty Wigglesworth)

Carrick pun memiliki bekal yang tak kalah solid. Ia menukangi Middlesbrough di Championship selama tiga musim dengan persentase kemenangan yang terbilang baik, mencapai 46,32 persen.

Kendati gagal membawa Boro promosi ke Premier League, Carrick meninggalkan kesan positif dan mendapat respek selama masa tugasnya.

Kini, taruhannya jelas jauh lebih besar. Namun, mungkin yang paling dibutuhkan Carrick dari Ratcliffe dan koleganya hanyalah satu hal yang juga pernah diberikan Arsenal kepada Arteta: kesabaran.

Ada banyak momen ketika Arsenal sebenarnya bisa memecat Arteta, terutama saat klub finis di posisi kedelapan Premier League pada musim penuh pertamanya, setelah juga finis di posisi yang sama, meski disertai gelar Piala FA, dalam setengah musim.

Bahkan setelah tiga kali finis sebagai runner-up dalam tiga musim terakhir, Arteta masih kerap dicap sebagai manajer yang gagal membawa Arsenal menjadi juara. Kekalahan dari PSG, yang kemudian menjuarai Liga Champions, di semifinal musim lalu kembali memicu tuntutan agar ia mundur.

Namun, lihat Arsenal sekarang, melaju meyakinkan di kompetisi domestik maupun Eropa. Perjalanan mereka bersama Arteta mengingatkan pada fase awal Sir Alex Ferguson di MU.


Benarkah Awal Perubahan?

Timnas Inggris dipastikan tidak memiliki pelatih kepala untuk saat ini. Pasalnya Gareth Southgate memutuskan mundur dari jabatannya pasca Inggris kalah di Final Euro 2024. (AP Photo/Matthias Schrader, File)

Itulah sebabnya Carrick berharap, jika ia mampu menstabilkan tim, membangun momentum dari kemenangan derbi yang mengesankan, dan membawa Setan Merah kembali ke kompetisi Eropa, jika bukan Liga Champions, kursi manajer itu bisa menjadi miliknya.

Faktanya, para petinggi MU telah mencoba hampir semua opsi, dan hasilnya selalu berujung kegagalan. Dari nama-nama besar seperti Jose Mourinho dan Louis van Gaal, hingga eksperimen bersama Erik ten Hag dan Ruben Amorim, semuanya berakhir pahit.

Pendekatan dengan Ole Gunnar Solskjaer sempat menghadirkan ikatan emosional yang lebih kuat dengan suporter, tetapi tetap saja tak berumur panjang.

Disebutkan pula bahwa keputusan Carrick membawa Steve Holland, mantan pelatih Chelsea dan Timnas Inggris, serta tangan kanan Gareth Southgate, sebagai asistennya merupakan langkah penting.

Holland memiliki pengalaman luas, dan kehadirannya di Old Trafford bersama Carrick berpotensi menjadi pembeda, meski ada pula yang berspekulasi bahwa langkah ini hanyalah jalan pembuka menuju penunjukan Southgate sebagai manajer permanen.

Para pendukung setia MU merasa sudah terlalu sering menempuh jalan yang sama. Namun, pertanyaannya kini muncul: mungkinkah kali ini benar-benar menjadi awal perubahan, setidaknya di atas lapangan hijau?

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait