Michael Carrick Sukses Kembalikan Konektivitas Tim, MU Sudah Temukan Sosok Manajer yang Tepat?

Apakah ini awal cerita besar atau sekadar momen singkat, Carrick belum mau menjawab. Yang jelas, Manchester United kembali hidup, dan itu sudah cukup membuat Old Trafford mulai bermimpi lagi.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 26 Januari 2026, 19:00 WIB
Pelatih interim Manchester United, Michael Carrick, memberi ucapan selamat kepada gelandang asal Kamerun Bryan Mbeumo saat meninggalkan lapangan setelah ditarik keluar dalam pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford, Manchester, Sabtu (17/1/2026). (Darren Staples / AFP)

Bola.com, Jakarta - Manchester United kembali memberi kejutan besar di Premier League. Setelah menumbangkan Manchester City, Setan Merah melanjutkan momentum dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Arsenal di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026) malam WIB.

Hasil tersebut bukan sekadar tiga poin. Itu menjadi kemenangan pertama MU di kandang Arsenal dalam delapan tahun terakhir, sekaligus memperpanjang awal manis era Michael Carrick sebagai pelatih interim.

Dua laga, dua kemenangan, dan semuanya diraih melawan tim peringkat satu dan dua klasemen. Sebuah start yang bahkan sulit dibayangkan ketika Carrick ditunjuk menggantikan Ruben Amorim kurang dari dua pekan lalu.

Meski demikian, Carrick memilih tetap menjejak bumi. Pria berusia 44 tahun itu menolak larut dalam euforia, meski atmosfer di Emirates Stadium malam itu sepenuhnya berpihak pada Manchester United.

 


Carrick Enggan Bicara Masa Depan

Michael Carrick saat menjadi pelatih Middlesbrough merayakan kemenangan di akhir pertandingan perempat final Piala Liga Inggris melawan Port Vale di Vale Park, Stoke-on-Trent, Inggris tengah, pada 19 Desember 2023. Manchester United (MU) resmi mengumumkan Michael Carrick sebagai pelatih kepala mengisi posisi Ruben Amorim yang dipecat pada 5 Januari 2026. (Oli SCARFF/AFP)

Michael Carrick terlalu berpengalaman untuk terpancing membahas peluangnya menjadi manajer permanen MU. Ia lebih nyaman berbagi cerita sederhana, bahwa kedua anaknya berada di tribun tandang Emirates Stadium dan ikut larut dalam selebrasi saat Matheus Cunha mencetak gol penentu kemenangan.

Sekitar 3.000 pendukung MU masih bernyanyi lantang hingga 15 menit setelah laga usai. Bahkan minoritas pemilik klub, Sir Jim Ratcliffe, tampak tersenyum puas di tribun kehormatan, sebuah pemandangan yang jarang terlihat dalam dua tahun terakhir.

Carrick menegaskan dirinya hanya fokus menjalankan tugas jangka pendek. “Saya di sini untuk melakukan pekerjaan. Kami membuat setiap keputusan untuk gambaran besar klub,” ujarnya kepada Sky Sports.

“Kami tidak terbawa suasana. Ini dua hasil besar, tapi kami harus tetap rendah hati dan sadar bagaimana cara kami meraihnya,” lanjutnya.

 


Start Lebih Tajam dari Era Amorim

Pelatih Manchester United, Michael Carrick, memberi isyarat dari tepi lapangan saat pertandingan Liga Inggris melawan Arsenal di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Enam poin dari dua laga membawa Carrick langsung melampaui catatan awal Ruben Amorim. Pelatih asal Portugal itu butuh lima laga untuk mengumpulkan tujuh poin, sebelum kemudian MU terpuruk dengan tiga kekalahan beruntun.

Menariknya, dua kemenangan Carrick justru diraih atas tim papan atas. MU mengoleksi lebih banyak poin dari Arsenal dan Manchester City dibanding tiga laga sebelumnya melawan Leeds, Wolves, dan Burnley.

Lanjut baca

Enam pekan lalu, hampir tak ada yang menjagokan Carrick sebagai kandidat kuat manajer permanen. Nama Oliver Glasner jauh lebih sering disebut. Kini, suara-suara yang mengingatkan trauma era Ole Gunnar Solskjaer mulai kehilangan pijakan. Carrick sendiri sadar betul betapa cepat opini bisa berubah di sepak bola. “Kami harus menunggangi emosi dan energi ini, tapi tidak boleh melihat terlalu jauh ke depan. Itu bisa berbahaya,” tegasnya.

Berita Terkait