Ancaman Terbesar Arsenal dalam Perburuan Gelar Liga Inggris? Arsenal Itu Sendiri

Ancaman terbesar Arsenal dalam perrburuan gelar Liga Inggris: Arsenal sendiri.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Januari 2026, 19:30 WIB
Jurrien Timber (kiri), Gabriel Magalhaes (kedua dari kanan), dan Martin Zubimendi (kanan) menyesali kegagalan timnya, Arsenal, mencetak gol ke gawang Manchester United pada lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Minggu (26/1/2026) malam WIB. (Mike Egerton/PA via AP)

Bola.com, Jakarta - Ancaman terbesar bagi ambisi Arsenal meraih gelar Liga Inggris musim ini bukanlah Manchester City, bukan pula Aston Villa. Ancaman terbesar itu justru datang dari diri mereka sendiri.

Pendukung Man City dan Villa tentu berhak merasa tersinggung. Jika pada akhirnya ada tim lain yang mampu merebut gelar dari tangan pasukan Mikel Arteta, mereka pantas mendapatkan apresiasi penuh. Toh, selisih poin yang harus dikejar masih cukup besar.

Namun, makin sulit mengabaikan satu kesan kuat: jika Arsenal kembali gagal, mereka sendirilah arsitek kejatuhan itu.

Kekalahan 2-3 di kandang sendiri dari Manchester United membuat Arsenal kini menjalani tiga laga tanpa kemenangan di Premier League. Keunggulan mereka di puncak klasemen terpangkas menjadi empat poin.

Dampaknya bukan sekadar soal angka di klasemen, melainkan juga luka lama yang kembali terbuka di kalangan suporter, luka akibat terlalu sering finis sebagai runner-up.

Hasil ini terasa janggal jika melihat penampilan Arsenal beberapa hari sebelumnya. Pada tengah pekan, mereka tampil meyakinkan di panggung Liga Champions.

Kemenangan 3-1 atas Inter Milan di San Siro, bahkan dengan rotasi pemain, menjadi etalase nyata bahwa Arsenal memiliki kapasitas untuk menjadi juara.

Perlu dicatat pula bahwa MU tidak menjalani laga tengah pekan. Mereka punya waktu persiapan penuh selama tujuh hari. Keuntungan itu bisa sangat berarti bagi ambisi Michael Carrick membawa timnya finis empat besar.

Sebaliknya, Arsenal yang masih bertarung di empat kompetisi harus menemukan cara untuk bertahan di tengah jadwal yang makin padat dan melelahkan.

Namun, cerita kekalahan ini tidak bisa disederhanakan menjadi soal kelelahan semata.

Baca ulasan khas The Athletic selengkapnya, di bawah ini.


Dua Wajah Arsenal

Pemain Arsenal, Gabriel Jesus (kanan), merayakan gol bersama rekan setimnya dalam pertandingan fase liga Liga Champions melawan Inter Milan di Giuseppe Meazza, Italia, Rabu (21/1/2026). (AP Photo/Luca Bruno)

Dalam beberapa pekan terakhir, Arsenal seperti terbelah menjadi dua wajah. Satu Arsenal yang dominan dan percaya diri di Liga Champions serta kompetisi domestik lainnya. Satu lagi Arsenal versi Premier League, tampak ragu, terbebani, dan jauh dari meyakinkan.

Saat menghadapi Liverpool, Nottingham Forest, hingga MU, Arsenal terlihat seperti tim yang memikul ekspektasi berlebihan.

Lanjut baca

MU datang ke Emirates Stadium dengan modal kemenangan derbi, tetap berstatus underdog, dan justru menemukan kebebasan dari posisi itu. Pada beberapa momen, laga ini tampak seperti duel antara tim yang tak punya apa pun untuk ditakutkan melawan tim yang merasa segalanya bisa hilang. "Sangat sulit membedakan kompetisi satu dengan yang lain, setidaknya bagi saya, memisahkan performa individu pemain dan performa kolektif," ujar Arteta seusai pertandingan. "Namun, faktanya, kami tidak menang dalam tiga laga Premier League terakhir, dan sekarang kami harus segera mengumpulkan poin." Kompetisi lain terasa seperti penawar rasa; Premier League justru menyerupai perjalanan panjang dan melelahkan menuju kepuasan. Bagi suporter Arsenal, apa yang menanti di ujung jalan ini? Kegembiraan, atau sekadar rasa lega?

Berita Terkait