MU Belum Benar-Benar Bangkit, tapi Proyek Michael Carrick Sudah Dapat Dukungan

MU masih berproses, tetapi proyek Michael Carrick telah mendapat dukungan.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 26 Januari 2026, 20:00 WIB
Pelatih kepala Manchester United, Michael Carrick, di tengah, menyapa Patrick Dorgu dari Manchester United setelah pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Manchester, Inggris, Sabtu, 17 Januari 2026. (AP Photo/Dave Thompson)

Bola.com, Jakarta - Manchester United belum bisa disebut benar-benar bangkit. Namun, apa pun yang sedang dibangun Michael Carrick saat ini jelas telah mendapat kepercayaan, dari pemain, dan juga para pendukung.

Dalam kurun 20 bulan terakhir, MU terus dihantui pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi mereka.

Sebenarnya, tim seperti apa yang ingin mereka bangun? Sepak bola seperti apa yang hendak dimainkan? Dan apakah gaya itu cukup untuk memenuhi ekspektasi para penggemar?

Baik di era Erik ten Hag maupun Ruben Amorim, perdebatan seputar identitas MU tak pernah benar-benar reda. Pengamat dan suporter sama-sama bergulat dengan warisan tradisi klub serta cara terbaik membawanya ke era modern.

Kilau MU masa lalu kian memudar, sementara versi yang lebih baru kesulitan menemukan pijakan dan jati diri.

Satu kemenangan tidak otomatis menandai kebangkitan. Bahkan dua kemenangan di tangan manajer interim pun belum cukup untuk menyatakan MU telah kembali.

Namun, cara Michael Carrick membawa tim ini menaklukkan Manchester City dan Arsenal memberi isyarat kuat: ada sesuatu yang telah dipulihkan dari skuad ini—sesuatu yang lama dikhawatirkan hilang.

Baca ulasan mendalam The Athletic selengkapnya, di bawah ini.


DNA MU

Bek Manchester United, Patrick Dorgu, berselebrasi bersama rekan-rekan setimnya pada lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Stadion Emirates, Minggu (25/1/2026). (Ben Standsall/AFP)

Istilah "DNA United" kerap dibicarakan, sering pula dicemooh. Tetapi, Carrick dan staf kepelatihannya menemukan cara untuk membuat konsep yang abstrak itu terasa lebih nyata dan mudah dipahami.

Pertanyaannya sederhana: Manchester United itu apa?

Jawabannya kini terlihat jelas: sebuah tim yang mampu menyakiti klub-klub terbesar di Inggris ketika momennya tiba.

Lalu, bagaimana Manchester United bermain?

Jawabannya pun sama lugasnya: seperti itu.

MU memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri di Emirates Stadium, Minggu malam kemarin.

Menghadapi Arsenal yang dikenal sangat siap menghadapi serangan balik, mereka kesulitan menciptakan momen transisi cepat, senjata yang sebelumnya sangat efektif saat merepotkan Manchester City sepekan sebelumnya.

Tiga kali finis di posisi kedua membuat Mikel Arteta membangun mesin sepak bola yang solid, kerap memanfaatkan situasi bola mati untuk membongkar pertahanan rendah lawan.


Tidak Runtuh

Pemain Manchester United, Lisandro Martinez, melindungi bola dari hadangan pemain Arsenal, Martin Odegaard, dalam pertandingan Liga Inggris di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026) malam WIB. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Ketika Lisandro Martinez mencetak gol bunuh diri pada menit ke-29, skenario pertandingan seolah sudah bisa ditebak.

Lanjut baca

Arsenal adalah tim yang lebih besar dan lebih kuat dibanding sebagian besar klub Premier League. Kecepatan dan agresivitas mereka dalam perebutan bola kedua sering kali membuat lawan kehabisan ruang bernapas dan momentum menyerang. MU tertinggal di kandang tim terkuat di Inggris, secara logika diharapkan akan tenggelam dalam dinginnya malam London. Namun, Setan Merah tidak runtuh. Mereka tertekan, tetapi tidak goyah. Satu celah saja sudah cukup untuk menghidupkan kembali rencana mereka. Umpan silang ceroboh Martin Zubimendi di lini belakang Arsenal langsung dimanfaatkan Bryan Mbeumo. Ada pertandingan-pertandingan di mana kesalahan lawan sama pentingnya dengan kecemerlangan sendiri. Keputusan Mbeumo memotong ke kaki terlemahnya sebelum menembak adalah perpaduan indah dari keduanya. David Raya tidak siap menghadapi sepakan kaki kanan ke arah tersebut. Arsenal pun tak pernah merencanakan kebobolan dengan cara yang begitu aneh. Sejak saat itu, giliran Arsenal yang tampak ragu.

Berita Terkait