Jelang Piala Dunia 2026, AS Terapkan Langkah Keamanan Baru di Tengah Kebijakan Imigrasi Ketat

AS mengonfirmasi langkah-langkah keamanan baru untuk Piala Dunia 2026 di tengah kekhawatiran isu ICE.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 Januari 2026, 07:00 WIB
Presiden Donald Trump berbicara kepada media selama konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada 3 Januari 2026, di Palm Beach, Florida. (Joe Raedle/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Amerika Serikat memastikan akan menerapkan serangkaian langkah keamanan baru menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait isu imigrasi dan peran aparat Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).

Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 bersama dua negara tetangganya di Amerika Utara, Meksiko dan Kanada.

Dari total 104 pertandingan, sebanyak 78 laga dijadwalkan berlangsung di wilayah AS. Turnamen ini diperkirakan akan menarik lebih dari lima juta pengunjung dari seluruh dunia, dengan laga pembuka digelar pada 11 Juni dan partai final berlangsung pada 19 Juli di MetLife Stadium, New Jersey.

Namun, di balik persiapan besar tersebut, sejumlah kekhawatiran turut membayangi. Pemerintahan Donald Trump diketahui telah memberlakukan larangan visa terhadap 75 negara, di tengah kebijakan imigrasi yang makin ketat.

Selain itu, langkah agresif ICE dalam menahan dan mendeportasi individu yang dianggap tinggal secara ilegal di AS turut memunculkan kecemasan tersendiri jelang turnamen akbar ini.

Sebanyak 11 kota di Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2026. Laporan terbaru dari The Independent mengungkap berbagai metode dan kebijakan yang telah disiapkan otoritas setempat guna menjamin keamanan dan keselamatan selama turnamen berlangsung.


Teknologi Anti-Drone dan Ancaman Siber

Ilustrasi serangan siber. (Photo by Kaur Kristjan on Unsplash)

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security) dilaporkan telah mengalokasikan dana sebesar 115 juta dolar AS untuk pengadaan teknologi penangkal drone.

Teknologi ini disebut sebagai "garis depan supremasi udara Amerika" dalam upaya mencegah potensi ancaman dari serangan drone.

Selain itu, Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) juga menggelontorkan dana senilai 350 juta dolar AS yang akan didistribusikan ke seluruh kota tuan rumah.

Dana tersebut diperuntukkan bagi pembelian perangkat dan sistem anti-drone guna memastikan mekanisme pertahanan siap digunakan jika terjadi ancaman dari udara.

Isu keamanan siber juga menjadi perhatian serius. Pasca Piala Dunia 2022 di Qatar, para analis menemukan adanya potensi celah keamanan siber setelah sebuah router dilaporkan berhasil diretas.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyebabkan gangguan besar, termasuk terhadap layanan komunikasi dan siaran streaming pertandingan.

Lanjut baca

Pada Olimpiade Paris 2024, tercatat lebih dari 140 serangan siber terjadi, meski persiapan matang membuat tidak ada gangguan besar yang berdampak langsung pada penyelenggaraan ajang tersebut. Untuk Piala Dunia mendatang, risiko serangan siber dinilai lebih tinggi. Chris Grove, Direktur Strategi Keamanan Siber di Nozomi Networks, menilai perbedaan lanskap politik dan sosial saat ini dapat mendorong kelompok tertentu mencoba membuat pernyataan melalui aksi peretasan.

Berita Terkait