Bola.com, Jakarta - Michael Carrick baru dua minggu memimpin Manchester United, tetapi dampaknya langsung terasa. Di Emirates Stadium, ia berhasil mengalahkan Pep Guardiola secara taktis dan sekaligus mengakhiri kutukan sembilan tahun tanpa kemenangan MU di kandang Arsenal.
Namun, prestasi paling mencolok Carrick sejauh ini bukan sekadar hasil akhir, melainkan transformasi pemain-pemain yang sebelumnya tertatih-tatih.
Patrick Dorgu, misalnya, yang sempat jadi bahan ejekan bahkan di kalangan pendukung sendiri, kini berubah menjadi pencetak gol besar yang mampu mengubah jalannya pertandingan.
Gol Dorgu, memanfaatkan pantulan bola dari tiang bawah, mengingatkan pada momen-momen legendaris Tony Yeboah untuk Leeds United melawan Liverpool dan Wimbledon di era 1990-an.
Kemenangan ini tidak hanya membawa nostalgia, tetapi juga menegaskan kualitas MU di laga-laga klasik melawan rival-rival bersejarah mereka.
Kendati saat ini pertandingan melawan Arsenal bukan lagi duel langsung perebutan gelar, kemenangan pertama Setan Merah di kandang Arsenal sejak era Jose Mourinho pada 2017 menjadi momen yang disambut meriah oleh ribuan suporter yang hadir di tribune tandang.
Sorak-sorai mereka kepada Carrick setelah peluit panjang menandai antusiasme dan kepercayaan yang baru tumbuh.
Patrick Dorgu: dari Bahan Ejekan ke Pahlawan Gol
Keberhasilan Dorgu adalah bukti nyata kepiawaian Carrick dalam membangkitkan performa pemain. Di bawah Ruben Amorim, Dorgu sempat dikritik karena dianggap gagal menampilkan kualitas seperti saat membela Timnas Denmark.
Carrick justru menanamkan kepercayaan diri sehingga Dorgu mampu mencetak gol-gol krusial, termasuk lima menit setelah babak kedua dimulai yang mengubah momentum pertandingan.
Kini, Dorgu telah mencetak gol penentu di derbi Manchester dan gol spektakuler yang menjatuhkan pemimpin klasemen, membuktikan bahwa ia mampu tampil dalam pertandingan besar.
Kobbie Mainoo: Pemain Muda yang Dibangkitkan
Kobbie Mainoo juga menjadi bukti bagaimana Carrick mampu membalikkan keadaan.
Mainoo, produk akademi terkenal MU, yang pernah mencetak gol kemenangan di final Piala FA derbi Manchester dan menjadi bagian dari tim Inggris yang mencapai final Kejuaraan Eropa, sama sekali tidak pernah memulai satu laga Premier League pun di bawah Amorim musim ini.
Amorim menolak menggunakan Mainoo karena "tidak cocok dengan sistem" yang diterapkannya, dan keputusan itu terbukti salah.
Dalam dua laga pertama di bawah Carrick, Mainoo tampil percaya diri, penuh energi, dan kembali menjadi sosok penting di lini tengah. Umpannya kepada super-sub Matheus Cunha menjadi assist bagi gol kemenangan tim yang dicetak pemain Brasil itu, menegaskan peran sentralnya.
Dominasi Mainoo juga terlihat dari bagaimana dua pemain Arsenal, termasuk kapten mereka, ditarik keluar lebih dari setengah jam sebelum pertandingan berakhir.
Energi Baru
Kekuatan Carrick juga terlihat dari keberaniannya meninggalkan formasi 3-4-3 yang diterapkan Amorim, yang terbukti kaku dan lamban.
Dalam dua laga awal, Setan Merah berhasil mencetak lima gol melawan rival-rival sejarah dan pemimpin klasemen, menunjukkan energi baru dan hubungan yang lebih harmonis antara pemain dan suporter.
Tentu saja, ada catatan penting: sejarah MU menunjukkan bahwa tim ini sering tampil gemilang di laga besar, tetapi terkadang mengecewakan saat diunggulkan.
Lima laga berikutnya, yakni menjamu Fulham, Tottenham Hotspur, Crystal Palace, dan tandang ke West Ham serta Everton, akan menjadi ujian sejati bagi Carrick.
Jika ia mampu menjaga level performa seperti dua laga awal, peluang MU kembali ke Liga Champions musim depan bukan lagi sekadar impian.
Sumber: Talksport