Boikot Negara Besar Bisa Menghancurkan Piala Dunia 2026, Kata Pakar Keuangan Sepak Bola

Dampak dahsyat boikot di Piala Dunia 2026, FIFA dan sepak bola dunia terancam.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 Januari 2026, 16:20 WIB
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Bola.com, Jakarta - Ancaman boikot Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Utara mulai menimbulkan kekhawatiran serius.

Seorang pakar keuangan sepak bola memperingatkan, jika satu di antara negara besar Amerika Selatan ikut memboikot turnamen, dampaknya bisa sangat merusak reputasi sepak bola dunia dan FIFA sebagai federasi tertinggi.

Advertisement

Kekhawatiran itu muncul setelah pejabat Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Oke Gottlich, mengatakan bahwa saatnya mempertimbangkan boikot Piala Dunia musim panas ini.

Hal ini terkait kontroversi global yang dipicu oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali menegaskan rencana untuk menguasai Greenland demi alasan keamanan nasional, bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer.

Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang tidak mendukung rencananya.

"Benar-benar menarik kapan saatnya kita berpikir dan berbicara secara konkret tentang boikot ini," ujar Gottlich kepada harian Hamburger Morgenpost.

"Bagi saya, waktu itu jelas sudah datang," imbuhnya.


Analisis Boikot

Ilustrasi, logo Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Di tengah ketegangan politik yang meningkat, Dr. Rob Wilson, pakar keuangan sepak bola, menganalisis potensi kerugian jika negara atau pemain besar memutuskan untuk boikot Piala Dunia 2026.

Turnamen ini akan digelar secara bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Wilson menyoroti kemungkinan boikot dari Argentina atau Brasil, dua negara kunci di Amerika Selatan.

"Ini akan menyebabkan kerusakan besar," kata Wilson kepada BettingLounge.

"Jika salah satu negara besar Amerika Selatan memutuskan boikot, tim-tim lain mungkin ikut menyusul, bahkan bisa sampai benua itu sendiri dan federasinya mundur dari kompetisi. Argentina adalah juara bertahan, Brasil adalah salah satu negara paling ikonik di Piala Dunia. Jika mereka absen, pukulannya signifikan," ujar Wilson.


Dampak Boikot

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Wilson menambahkan, jika semua negara Amerika Selatan bersatu melakukan boikot, dampaknya akan sangat rumit. Ia memperkirakan kerugian finansial turnamen bisa mencapai sekitar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp33,5 triliun).

"Hanya dari pendapatan siaran saja, kemungkinan hilang antara 700 juta hingga 1 miliar dolar AS, belum termasuk kerugian di sisi pemasaran. Sponsor tidak bisa diaktifkan di wilayah tersebut, dan ini bahkan mengurangi dana yang bisa disalurkan FIFA ke negara-negara berkembang di Amerika Selatan," jelasnya.

Selain itu, boikot akan mengurangi jumlah pertandingan yang dimainkan sehingga biaya operasional tetap harus ditanggung, terutama di tingkat kota tuan rumah.

"Jumlah pertandingan yang berkurang jelas berdampak pada kota-kota penyelenggara, tergantung negara mana yang boikot. Angkanya bisa sangat besar dan cepat menjadi rumit," lanjut Wilson.

Wilson juga menekankan, boikot semacam ini akan mengurangi legitimasi kompetisi, termasuk Piala Dunia itu sendiri.

"Secara filosofis, ini menurunkan nilai turnamen. Saat Amerika Serikat atau Rusia memboikot Olimpiade, Anda tidak lagi tahu apakah benar-benar bertanding melawan yang terbaik di dunia. Dampaknya besar, terutama jika Piala Dunia kehilangan pemain besar," ulasnya.

"Ini akan merusak sepak bola dunia secara tak terhitung," tambahnya.


Risiko Pemindahan atau Pembatalan

Piala Dunia FIFA 2026 akan diselenggarakan di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dari Juni hingga Juli 2026. Turnamen kali ini menandai edisi pertama turnamen itu dengan kompetisi 48 tim dengan total 104 pertandingan. (ULISES RUIZ/AFP)

Lebih lanjut, Wilson, yang juga Profesor Keuangan Olahraga Terapan dan Kepala Pendidikan Eksekutif di UCFB, memperingatkan bahwa upaya memindahkan atau membatalkan Piala Dunia berisiko melumpuhkan FIFA secara finansial.

"Bukan biaya saja masalahnya, tapi kontrak, logistik, keamanan, infrastruktur siaran, dan semua aspek hukum yang akan terlibat," jelas Wilson.

Anggaran untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2026 diperkirakan mendekati 4 miliar dolar AS, dengan masing-masing kota tuan rumah mengeluarkan lebih dari 250 juta dolar AS untuk fan park, transportasi, penambahan kapasitas hotel, dan berbagai proyek lain.

"Secara logistik, ini hampir tidak mungkin dipindahkan," kata Wilson.

Ia menambahkan, memindahkan turnamen secara paksa ke tuan rumah baru bisa menelan lebih dari 7 miliar dolar AS, belum termasuk biaya kompensasi, perjalanan baru, dan risiko gangguan.

Wilson menekankan, jika dipindahkan, ini bisa menjadi "class action terbesar dalam sejarah" karena penggemar, sponsor, stasiun penyiaran, stadion, dan berbagai proyek infrastruktur sudah terlibat dan akan menuntut ganti rugi.

Meski demikian, ia menilai pembatalan total dan penjadwalan ulang pada 2030 lebih realistis, meski kemungkinan itu tetap kecil.

 

Sumber: Sportbible

Berita Terkait