Cara Kylian Mbappe Dukung Rekan Setim di Real Madrid Dinilai Menyedihkan

Menyedihkan. Kylian Mbappe dikecam atas cara mendukung rekan setim di Real Madrid.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 Januari 2026, 17:15 WIB
Pemain Real Madrid Kylian Mbappe (kanan) merayakan gol kedua bagi timnya bersama Vinicius Junior dan Gonzalo Garcia pada laga La Liga/Liga Spanyol antara Villarreal vs Real Madrid di Villarreal, Spanyol, Sabtu, 24 Januari 2026. (AP Photo/Alberto Saiz)

Bola.com, Jakarta - Kylian Mbappe kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena golnya untuk Real Madrid, tetapi juga karena gestur yang memicu perdebatan.

Aksi sang megabintang Prancis itu bahkan mendapat cap "menyedihkan" dari satu di antara pengamat sepak bola ternama Prancis, Walid Acherchour.

Advertisement

Dalam kemenangan Real Madrid atas Villarreal, Minggu (25-1-2026), Mbappe mencetak gol penalti dengan gaya Panenka pada masa injury time. Gol itu ia dedikasikan kepada rekan setimnya, Brahim Diaz, yang baru saja mengalami malam paling pahit dalam kariernya di final Piala Afrika 2025.

Namun, niat Mbappe untuk menunjukkan dukungan justru dinilai keliru dan berlebihan oleh sebagian pihak.

Real Madrid unggul 1-0 lewat gol Mbappe dari jarak dekat tak lama setelah babak kedua dimulai. Di penghujung laga, Mbappe kembali menjadi aktor utama setelah memenangkan penalti untuk tim tamu.

Tanpa ragu, pemain berusia 27 tahun itu bangkit, membersihkan diri, lalu mengeksekusi penalti dengan sentuhan lembut tepat ke tengah gawang, mengecoh kiper Villarreal, Luis Junior, yang sudah terlanjur menjatuhkan badan.

Mbappe berlari ke arah bendera sudut lapangan sambil merayakan gol tersebut. Dengan telapak tangan terbuka, ia mengayunkan lengannya, menirukan lintasan bola Panenka yang baru saja ia lakukan.

Brahim Diaz, yang masuk dari bangku cadangan pada 10 menit terakhir, penampilan kompetitif pertamanya sejak tragedi di Rabat, ikut mendekat bersama para pemain Madrid lainnya.

Kamera menangkap Mbappe berteriak ke arah Brahim, "Untukmu, untukmu."

Usai pertandingan, Mbappe menegaskan bahwa penalti tersebut memang ia persembahkan sebagai bentuk penghormatan kepada rekan setimnya.


Pekan Penuh Luka

Penyerang Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi tendangan penalti di hadapan kiper Senegal #16, Edouard Mendy, pada pertandingan final Piala Afrika (CAN) antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

Beberapa hari sebelumnya, Brahim Diaz berada di titik terendah dalam kariernya. Maroko hanya berjarak satu tendangan dari gelar Piala Afrika pertama mereka dalam 50 tahun saat wasit Jean-Jacques Ndala Ngambo menunjuk titik putih pada masa tambahan waktu final melawan Senegal.

Brahim-lah yang memenangkan penalti itu setelah dengan keras memprotes tarikan El Hadji Malick Diouf. Namun, eksekusi penalti tersebut tertunda lebih dari 15 menit karena protes tim Senegal, yang dipimpin pelatih Pape Thiaw, meninggalkan lapangan.

Ketika pertandingan akhirnya dilanjutkan setelah Sadio Mane membujuk rekan-rekannya kembali, konsentrasi Brahim sudah terlanjur terganggu.

Ia memperlambat langkah terlalu dini sebelum mengeksekusi penalti, lalu mencoba Panenka yang lemah dan mudah diamankan Edouard Mendy.

Eksekusi itu begitu buruk hingga memunculkan teori konspirasi bahwa penalti tersebut sengaja disia-siakan untuk "mengimbangi" keputusan wasit, meski tentu saja momen gemilang Mendy tak bisa dihapus.


Permintaan Maaf

Penyerang Maroko, Brahim Diaz, tampak tertunduk lesu setelah laga final Piala Afrika 2025 antara Senegal vs Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. (Sebastien Bozon/AFP)

Brahim terlihat terpukul.

Setelah menerima penghargaan sebagai top scorer turnamen dengan mata berkaca-kaca, pemain berusia 26 tahun itu menyampaikan permintaan maaf kepada publik Maroko melalui media sosial.

"Hati saya hancur," tulis Brahim.

"Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan semua yang saya miliki, terutama dengan hati. Kemarin saya gagal, dan saya bertanggung jawab penuh serta meminta maaf dari lubuk hati saya," ucapnya.


Luka Belum Kering

Penyerang Maroko bernomor punggung 10, Brahim Diaz, menendang bola dan gagal mengeksekusi penalti ke gawang kiper Senegal bernomor punggung 16, Edouard Mendy, selama pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Paul ELLIS/AFP)

Situasi Brahim makin terasa pahit karena laga pertamanya kembali bersama Real Madrid langsung mempertemukannya dengan Villarreal, tim yang diperkuat Pape Gueye, pencetak gol kemenangan Senegal di final Piala Afrika 2025.

Sebelum kick-off, publik tuan rumah memberi penghormatan kepada Gueye atas prestasi kontinentalnya. Sementara itu, Brahim hanya bisa duduk di bangku cadangan Madrid, seolah tenggelam di balik kerah jaket pemanas tubuhnya.

Bagaimana perasaan Brahim terhadap gestur Mbappe tak pernah benar-benar diketahui. Namun, tidak semua pihak memahami atau menyetujui maksud sang bintang Prancis.


Menyedihkan

Eksekusi penalti Kylian Mbappe di laga Villarreal vs Real Madrid di jornada 21 Liga Spanyol 2025/2026 di La Ceramica, Minggu (25/01/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Alberto Saiz)

Pengamat sepak bola Prancis, Walid Acherchour, secara terbuka mengkritik Mbappe. Dalam acara Winamax FC, ia meluapkan ketidaksenangannya.

"Saya menilainya menyedihkan," ujar Acherchour.

"Ini seperti saya ingin membeli Ferrari, tapi tidak punya cukup uang, lalu keesokan harinya teman yang mengaku sahabat saya membeli Ferrari dan datang sambil berkata, 'Begini caranya beli Ferrari.'"

Ia melanjutkan dengan analogi lain yang tak kalah pedas.

"Atau seperti saya diputus pacar, gagal mempertahankannya, lalu keesokan harinya kamu menelepon saya, bilang kamu sekarang pacaran dengannya, dan berkata, 'Begini caranya.' Jujur saja, jangan punya teman seperti itu," cetusnya.

Acherchour memang dikenal kerap mengkritik Mbappe. Sebelumnya, ia juga beberapa kali mengecam performa Mbappe di Liga Champions, baik bersama Paris Saint-Germain maupun Real Madrid.

Kritik kali ini pun tak kalah tajam.

"Mbappe terlalu ingin menjadi tokoh utama di setiap film," kata Acherchour.

"Ini bukan ceritamu, Kylian. Biarkan orang lain menghadapi rasa sakitnya. Saya tidak bisa memahaminya. Apa Mbappe benar-benar berpikir Brahim Diaz akan pulang ke rumah dan berkata, 'Kylian membuatku melupakan segalanya dengan gesturnya, dia menunjukkan kepada semua orang bagaimana mengeksekusi Panenka?"

 

Sumber: SI

Berita Terkait