Bola.com, Jakarta - Sepak bola di Spanyol tidak lahir dari sorak sorai stadion semata. Ia tumbuh di ruang keluarga, di obrolan makan malam, di televisi yang menyala hingga larut malam, dan di cerita lama yang terus diulang lintas generasi. Di negeri ini, mencintai sepak bola bukan keputusan instan. Ia diwariskan.
Bagi jutaan warga Spanyol, klub bukan hanya soal warna jersey atau hasil akhir pertandingan. Klub adalah bagian dari silsilah keluarga. Sebuah identitas yang diwariskan, dijaga, dan diteruskan, bahkan sebelum seseorang benar-benar memahami aturan permainan itu sendiri.
Inilah gambaran besar yang terungkap dalam studi LALIGA bertajuk “42 Legacies, 42 Ways of Winning”. Sebuah potret mendalam tentang bagaimana sepak bola hidup bukan hanya di lapangan, tetapi juga di hati, rumah, dan ingatan kolektif masyarakat Spanyol.
Cinta yang Diajarkan di Rumah, Bukan Ditemukan Sendiri
Empat dari sepuluh warga Spanyol mengaku mulai mengikuti sepak bola karena pengaruh langsung orang tua mereka. Ayah atau ibu menjadi sosok pertama yang memperkenalkan klub, rival, dan makna kemenangan maupun kekalahan.
Bagi sebagian besar penggemar, momen pertama mencintai sepak bola bukan terjadi di stadion megah, melainkan di ruang tamu sederhana. Duduk di samping orang tua, menyaksikan pertandingan sambil mendengar kisah masa lalu, tentang gol legendaris atau kekalahan pahit yang tak pernah dilupakan.
Sebanyak 52 persen warga Spanyol meyakini bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak muncul secara kebetulan. Ia diturunkan. Dari generasi ke generasi, seperti cerita keluarga yang tak pernah usang.
Ketika Anak Justru Mengajarkan Orang Tuanya
Namun, warisan ini tidak selalu berjalan satu arah. Ada fenomena yang disebut reverse legacy, ketika kecintaan terhadap sepak bola justru datang dari generasi yang lebih muda.
Sekitar delapan persen responden mengaku mulai mencintai sepak bola karena anak, keponakan, atau cucu mereka. Sebuah bukti bahwa sepak bola mampu membangun ikatan dua arah, melintasi usia dan peran dalam keluarga.
Di wilayah seperti Kepulauan Balearic dan Katalonia, fenomena ini bahkan jauh lebih terasa. Sepak bola menjadi bahasa bersama, yang menyatukan generasi tua dan muda dalam emosi yang sama.
Perempuan, Penjaga Warisan yang Lama Terlupakan
Narasi lama tentang sepak bola sebagai dunia laki-laki perlahan runtuh. Studi ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam pewarisan kecintaan terhadap klub semakin menonjol.
Sebanyak 16 persen penggemar mengaku mewarisi loyalitas klub dari ibu, nenek, atau saudari perempuan. Di beberapa wilayah, angkanya jauh lebih tinggi, menegaskan bahwa perempuan kini menjadi penjaga penting tradisi sepak bola keluarga.
Mereka bukan sekadar penonton, tetapi penutur cerita, pengikat emosi, dan penjaga ingatan klub di dalam rumah.
Stadion, Bar, dan Rumah: Ruang-Ruang Emosi Sepak Bola
Meski rumah tetap menjadi tempat utama menonton pertandingan, sepak bola di Spanyol tidak pernah kehilangan dimensi sosialnya. Bar, stadion, dan ruang publik menjadi perpanjangan dari ruang keluarga.
Menonton pertandingan bukan sekadar aktivitas, tetapi ritual kebersamaan. Datang ke stadion bersama pasangan, anak, bahkan kakek-nenek, menjadi pengalaman emosional yang memperkuat rasa memiliki.
Sepak bola menciptakan ruang di mana perbedaan usia, latar belakang, dan generasi melebur dalam satu emosi yang sama: cinta pada klub.
Klub Bukan Sekadar Tim, tapi Identitas Keluarga
Di antara 42 klub LALIGA, Sevilla FC dan Real Madrid muncul sebagai simbol kuat warisan keluarga. Mayoritas penggemar kedua klub ini mengaku mencintai tim mereka karena faktor turun-temurun.
Namun, setiap klub memiliki kisahnya sendiri. Real Betis dikenal dengan ikatan lintas generasi yang kuat, sementara klub-klub lain menonjol dalam peran perempuan atau fenomena warisan terbalik.
Semua kisah itu menyatu dalam satu benang merah: klub bukan sekadar tim yang didukung, melainkan identitas yang diwariskan.
Sepak Bola sebagai Ingatan yang Terus Hidup
Direktur Merek dan Strategi Global LALIGA, Ángel Fernández, menyebut warisan sepak bola sebagai salah satu nilai terbesar kompetisi tersebut. Bukan karena trofi atau angka, tetapi karena emosi yang terus bertahan.
Sepak bola di Spanyol adalah cerita yang tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hidup dalam kenangan lama, tumbuh dalam generasi baru, dan terus diwariskan, dari ayah ke anak, dari ibu ke putri, dari tribune stadion ke ruang keluarga.
Dan selama cerita itu terus diceritakan, sepak bola akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup.