Bola.com, Jakarta - Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi panggung sempurna bagi para pemain muda. Ledakan potensi atlet-atlet Gen Z begitu terasa saat berlaga pada ajang level Super 500 itu. Sebagai informasi, Gen Z adalah mereka yang lahir pada periode 1997 hingga 2012.
Jagoan tunggal putra tuan rumah, Alwi Farhan, jelas paling mencuri perhatian. Pebulutangkis kelahiran 2005 itu menjuarai Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Penampilan Alwi Farhan di babak final pun akan terus diingat. Pebulutangkis Gen Z lain asal Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul dibuat tidak berdaya oleh Alwi Farhan.
Alwi Farhan hanya membutuhkan 25 menit untuk mengalahkan Panitchaphon Teeraratsakul di babak final Daihatsu Indonesia Masters yang digelar di Istora Senayan, Jakarta pada Minggu (25/1/2026).
Alwi Farhan meraih kemenangan dengan dua gim langsung atas Panitchaphon Teeraratsakul. Skornya pun sangat mencolok yakni 21-5 dan 21-6.
Mendaki Puncak Tertinggi
Alwi Farhan tentu tidak puas dengan gelar juara yang didapatkan di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Usianya yang masih 20 tahun membuat Alwi masih memiliki kesempatan untuk mengejar hal yang lebih tinggi.
Alwi Farhan pun ingin terus mendaki ke level yang lebih tinggi. Meraih banyak gelar bergengsi lain dan pada akhirnya bisa meraih hasil maksimal di Olimpiade.
"Pastinya saya akan kejar di Super 750, Super 1000, gelar-gelar berngensi seperti All England, Kejuaraan Dunia, Asian Games, Olimpiade. Target jangka pendeknya, maksudnya dibidik dari sekarang bisa membidik untuk bermain di Olimpiade, dan semoga peak-nya di Olimpiade nanti," ujar Alwi Farhan usai menjuarai Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Bukan Cinta Pertama
Lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 12 Mei 2005, Alwi Farhan sebenarnya tidak memilih bulutangkis sebagai cinta pertamanya. Sepak bola lebih menarik perhatian Alwi kecil saat itu.
Bahkan, Alwi Farhan cukup serius menekuni sepak bola. Sosok bernama lengkap Alwi Farhan Alhasny itu pernah bergabung dengan SSB Ksatria Solo. Alwi kecil dan kawan-kawan rutin menjalani latihan di Lapangan Kadipolo, yang dulu dikenal sebafai lokasi latihan klub sepak bola legendaris, Arseto.
Alwi Farhan kemudian harus memilih pada usia 10 tahun. Pilihan itu pun jatuh pada bulutangkis. Sebuah pilihan yang seharusnya tidak akan pernah disesali oleh Alwi Farhan.
Di usianya yang baru 20 tahun, banyak gelar bergengsi yang sudah dikoleksi Alwi Farhan. Misalnya, gelar juara dunia level junior hingga terbaru gelar Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Potensi Lain
Selain Alwi Farhan, ada pebulutangkis Gen Z lain yang bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Misalnya ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin ngegas sejak awal turnamen. Laju Raymond dan Joaquin tampak sulit terbendung. Namun, mereka harus mengakhiri Daihatsu Indonesia Masters 2026 dengan status antiklimaks.
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menelan kekalahan dua gim langsung dari pasangan asal Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. Meski menelan kekalahan di babak final Daihatsu Indonesia Masters 2026, Raymond/Joaquin tidak patang arang dan ingin mengejar gelar-gelar yang lain.
"Menjadi pelajaran bagi kami agar lebih baik lagi," tegas Joaquin.
Menjawab Kerinduan
Bulutangkis Indonesia memiliki prestasi luar biasa di level dunia, termasuk di kancah Olimpiade. Atlet-atlet terbaik Tanah Air pernah menyumbangkan medali emas dari semua nomor cabang olahraga tersebut.
Namun, sudah cukup lama rasanya publik tidak menyaksikan atlet Indonesia membawa pulang medali emas dari nomor tunggal putra dan ganda putra bulutangkis Olimpiade.
Markis Kido/Hendra Setiawan menjadi pasangan ganda putra terakhir Indonesia yang meraih medali emas di Olimpiade. Keduanya membawa pulang gelar bergengsi itu dari Olimpiade Beijing 2008.
Sementara itu tunggal putra Indonesia bahkan lebih lama berpuasa medali emas di ajang Olimpiade. Taufik Hidayat adalah sosok terakhir yang membawa gelar prestisius itu dari Athena 2004.
Kesempatan untuk mengakhiri puasa medali emas di sektor tunggal putra dan ganda putra sangat terbuka. Tinggal bagaimana para pemain muda seperti Alwi Farhan dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menyemai harapan itu.
Pesta Rakyat yang Terlaksana
Sementara itu dari sisi penyelenggaraan, Daihatsu Indonesia Masters 2026 memiliki tujuan menarik. Mereka ingin mengembalikan antusiasme massyarakat terhadap bulutangkis. Bahkan, ingin menciptakan pesta rakyat selama penyelenggaraan turnamen level Super 500 itu.
Banyak perubahan yang memang dilakukan oleh panitia di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Misalnya screening tiket yang hanya dilakukan sebelum memasuki tribune Istore Senayan. Kemudian banyaknya stan kuliner yang harganya sangat terjangkau. Selain itu ada juga ruang untuk bermain anak.
“Kali ini di luar dugaan, begitu banyak partisipasi, dukungan, masukan, serta pemberitaan yang sangat positif. Hal ini membuat kami melihat atmosfer kebangkitan bulu tangkis Indonesia mulai terbentuk. Ini menjadi harapan kami sejak awal, bahwa event ini menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali euforia bulu tangkis Indonesia,” ujar Achmad Budiharto, selaku ketua panitia Daihatsi Indonesia Masters 2026.