Bola.com, Jakarta - Gelandang Bayern Munchen dan Timnas Jerman, Leon Goretzka, melontarkan respons tajam terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjelang Piala Dunia 2026.
Ia menegaskan bahwa pernyataan-pernyataan Trump yang menyudutkan Eropa justru membangkitkan rasa nasionalisme dan identitas Eropa di kalangan para pesepak bola Benua Biru.
Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu sejak awal memang berada di bawah sorotan tajam, terlebih sejak Trump kembali menjabat untuk periode keduanya di Gedung Putih.
Selain memicu kontroversi terkait klaim atas Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, Trump juga menuai kritik luas setelah menyebut Eropa sebagai kawasan yang "membusuk" dan akan menjadi "jauh lebih lemah" akibat kebijakan imigrasi.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah wawancara dengan Politico, September lalu.
"Di Eropa, mereka datang dari seluruh penjuru dunia," kata Trump kala itu.
"Bukan hanya dari Timur Tengah, mereka datang dari Kongo, jumlahnya luar biasa banyak. Bahkan lebih buruk lagi, mereka datang dari penjara-penjara di Kongo dan banyak negara lain. Dan entah mengapa, mereka ingin bersikap benar secara politik, padahal menurut saya itu justru kebalikan dari sikap benar secara politik."
Lantang Bersuara
Goretzka dikenal sebagai satu di antara dari sedikit pemain profesional yang kerap bersuara lantang soal isu-isu bernuansa politik.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, pemain berusia 30 tahun itu secara terbuka mengecam pernyataan duta besar Qatar terkait homoseksualitas, yang ia sebut sebagai bentuk homofobia "menindas" yang berasal "dari milenium yang berbeda".
Dalam konteks Piala Dunia mendatang, Goretzka juga tidak ragu menyinggung situasi politik yang mengiringinya.
Kepada media Jerman, Die Zelt, ia mengakui dirinya mengikuti perdebatan tersebut.
"Tentu saja saya menyadari adanya perdebatan politik," ujar Goretzka.
"Namun, saya tetap berharap ini akan menjadi turnamen yang hebat, akan memajukan sepak bola di sana dan menunjukkan kepada banyak orang betapa menariknya permainan ini. Donald Trump membuat kami merasa bukan hanya sebagai orang Jerman, tetapi juga sebagai orang Eropa," lanjutnya.
Eropa Masih Terdepan
Kendati Argentina saat ini berstatus sebagai pemegang gelar Piala Dunia, Goretzka optimistis dominasi Eropa akan kembali terlihat pada edisi kali ini.
"Dalam pertandingan paling penting di dunia, kami masih berada di depan semua benua lainnya," tegas Goretzka.
"Kami sama sekali tidak tertinggal. Eropa akan menunjukkan kepada semua orang apa yang bisa kami lakukan di atas lapangan," imbuhnya.
Piala Dunia 2022 menjadi pengecualian dari tren dominasi Eropa. Turnamen tersebut, yang digelar di tengah musim kompetisi klub Eropa, berakhir dengan gelar juara untuk Argentina, sementara Maroko mencetak sejarah dengan menyingkirkan Spanyol dan Portugal sebelum melaju hingga semifinal.
Kendati demikian, dalam beberapa edisi terakhir, fase akhir Piala Dunia tetap didominasi tim-tim Eropa.
Sejak Brasil menjuarai Piala Dunia 2002, sebanyak 15 dari 20 tim semifinalis berasal dari Eropa.
Goretzka pun menyadari bahwa pernyataan terbukanya mengandung risiko.
"Ketika Anda berbicara sebagai seorang atlet, Anda mengambil risiko," akunya.
"Anda harus menang. Jika tidak, komitmen Anda bisa berbalik arah, disalahpahami dengan sengaja, atau dipelintir," ucap pemain berusia 30 tahun itu.
Sikap Jerman soal Wacana Boikot Piala Dunia 2026
Di Jerman, wacana boikot Piala Dunia 2026 juga sempat mencuat. Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Oke Gottlich, awal bulan ini menilai bahwa setidaknya perlu ada diskusi mengenai kemungkinan tersebut.
Ia secara terbuka meminta Presiden DFB, Bernd Neuendorf, untuk menjelaskan kapan Trump dianggap telah "melewati batas".
Namun, Neuendorf menegaskan bahwa sejauh ini batas tersebut belum dilampaui.
"Sayangnya, dia terlalu cepat mengangkat isu ini," ujar Neuendorf, seperti dikutip The Athletic.
"Kami akan membahasnya dalam rapat komite eksekutif pekan ini. Namun, berdasarkan semua yang saya dengar dan juga pandangan pribadi saya, jelas bahwa perdebatan ini tidak tepat waktu dan tidak relevan bagi kami."
"Saya tidak melihat ini sebagai perdebatan besar sama sekali karena saya yakin kami di federasi memiliki pandangan yang sama bahwa pembahasan ini sepenuhnya keliru pada tahap ini," kata Neuendorf.