73 Orang dan 13 Klub Dihukum Berat Akibat Match-Fixing di China

Skandal match-fixing di China. Sebanyak 73 individu dilarang seumur hidup berkecimpung di sepak bola dan 13 klub kena sanksi berat.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 30 Januari 2026, 14:15 WIB
Ilustrasi sepak bola China. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola China kembali diguncang skandal besar. Dalam kampanye masif pemberantasan korupsi dan match fixing, otoritas setempat menjatuhkan sanksi keras berupa larangan seumur hidup kepada 73 individu yang terlibat di dunia sepak bola.

Selain itu, sebanyak 13 klub profesional juga dihukum dengan pengurangan poin dan denda finansial.

Advertisement

Satu di antara klub yang terdampak adalah juara bertahan Liga Super China (Chinese Super League/CSL), Shanghai Port, yang akan memulai musim 2026 dengan minus lima poin.

Secara keseluruhan, sembilan klub CSL harus memulai kompetisi dengan defisit poin, termasuk Shanghai Shenhua, runner-up musim lalu, yang dikenai potongan hingga 10 poin.

Total akumulasi poin yang dicabut dari 13 klub di dua kasta tertinggi sepak bola China mencapai 72 poin, disertai denda gabungan sebesar 7,2 juta yuan China atau sekitar Rp17,3 miliar.

Keputusan tersebut diumumkan secara resmi pada Kamis oleh Kementerian Keamanan Publik, Administrasi Umum Olahraga China, dan Asosiasi Sepak Bola China (CFA).

Ketiga lembaga itu menyatakan sanksi ini merupakan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai "kampanye khusus untuk memberantas pengaturan skor, perjudian, dan korupsi di industri sepak bola".


Tokoh Besar Ikut Terseret

Li Tie gagal membawa China lolos kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022. (AFP)

Di antara puluhan individu yang dijatuhi larangan seumur hidup terdapat nama besar Li Tie, mantan pelatih Timnas China yang juga pernah bermain di Liga Inggris bersama Everton. Selain Li Tie, sanksi serupa dijatuhkan kepada Chen Xuyuan, Presiden CFA periode 2019-2023.

Li Tie telah lebih dulu dijatuhi hukuman berat. Pada Desember 2024, ia divonis 20 tahun penjara atas kasus suap setelah terbukti menerima dan memberikan suap. Hukuman tersebut diperkuat pada April 2025 setelah bandingnya ditolak pengadilan.

Selain larangan seumur hidup, tiga individu lain dinyatakan melakukan pelanggaran hukum. Meski tidak dituntut secara pidana, mereka tetap dijatuhi sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama lima tahun.

CFA menegaskan sikap tegasnya dalam menangani pelanggaran. Asosiasi menyatakan akan terus menegakkan disiplin dengan prinsip nol toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran dan praktik tidak etis.


Daftar Klub yang Dihukum

Ilustrasi sepak bola China. (Bola.com/Adreanus Titus)

Sebanyak 13 klub dijatuhi sanksi berupa pengurangan poin dan denda, dengan sembilan di antaranya berasal dari Liga Super China.

Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger, beberapa dari empat klub yang tak pernah terdegradasi sejak CSL berdiri pada 2004, menjadi yang paling berat hukumannya. Keduanya dipotong 10 poin dan masing-masing didenda 1 juta yuan.

Tiga klub CSL lainnya, yakni Qingdao Hainiu, Wuhan Three Towns, dan Shandong Taishan, dikenai denda 800 ribu yuan. Poin mereka masing-masing dipotong tujuh, lima, dan enam poin.

Henan dijatuhi pengurangan enam poin dengan denda 600 ribu yuan. Sementara itu, Shanghai Port, Zhejiang, dan Beijing Guoan masing-masing dipotong lima poin. Shanghai Port dan Beijing Guoan didenda 400 ribu yuan, sedangkan Zhejiang harus membayar 600 ribu yuan.

Di kasta kedua, China League One, empat klub turut dihukum. Meizhou Hakka, Suzhou Dongwu, dan Ningbo masing-masing dipotong tiga poin, dengan Meizhou Hakka menerima pengurangan empat poin. Keempat klub tersebut dikenai denda 200 ribu yuan.

CFA menyatakan seluruh keputusan diambil berdasarkan jumlah, situasi, sifat, serta dampak sosial dari transaksi tidak pantas yang terlibat dalam setiap kasus.


Perjalanan Kasus Li Tie

Mantan pelatih timnas China, Li Tie mengaku harus menyogok untuk mendapatkan posisinya. (AFP/Cacace)

Li Tie merupakan satu di antara figur sentral dalam skandal ini. Mantan gelandang yang mencatatkan 92 penampilan bersama Timnas China dan tampil di Piala Dunia 2002 itu ditangkap setelah diselidiki atas dugaan pelanggaran hukum serius terkait korupsi.

Pada Maret 2024, Li tampil dalam pengakuan yang disiarkan televisi nasional sebagai bagian dari penyelidikan pengaturan skor.

Ia mengakui telah membayar tiga juta yuan sebagai suap untuk mendapatkan jabatan pelatih timnas, serta mengungkap bahwa dua promosi klub yang ia raih sebelumnya diperoleh melalui praktik pengaturan pertandingan.

"Saya sangat menyesal," ujar Li kala itu.

"Saya seharusnya tetap menunduk dan berjalan di jalur yang benar. Ada hal-hal tertentu yang saat itu dianggap sebagai kebiasaan dalam sepak bola," imbuhnya.

Sebelum melatih timnas, Li sempat menangani Hebei China Fortune dan Wuhan Zall, serta membawa kedua klub tersebut promosi ke CSL. Pada 2019, ia menggantikan Marcello Lippi sebagai pelatih sementara timnas, sebelum diangkat secara permanen.

Namun, ia dipecat pada 2021 setelah gagal meloloskan China ke Piala Dunia 2022 Qatar.

Dalam pernyataan resmi setahun kemudian, jaksa penuntut China menyebut Li Tie diduga melakukan berbagai pelanggaran, dari menerima dan memberi suap hingga keterlibatan suap oleh pegawai non-negara.

 

Sumber: The Athletic