Bola.com, Jakarta - Momen terakhir John Terry sebagai pemain Chelsea akan selalu dikenang. Namun, ironisnya, bukan semata karena keagungan kariernya, melainkan karena cara perpisahan yang hingga kini masih memicu perdebatan dan kritik.
John Terry tak terbantahkan merupakan satu di antara pemain terbesar dalam sejarah Chelsea. Lebih jauh lagi, bek asal Inggris itu kerap disebut sebagai satu di antara bek tengah terbaik yang pernah tampil di era Premier League.
Banyak pengamat dan penggemar sepak bola Inggris menilai Terry, yang kini berusia 45 tahun, sebagai yang terbaik, atau setidaknya masuk jajaran teratas, dalam sejarah kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Kecintaan publik Stamford Bridge kepada Terry lahir dari gaya bermainnya yang tanpa kompromi. Keberaniannya merebut bola, dedikasi total, serta mentalitas pantang menyerah membuatnya menjadi idola suporter.
Lahir di Barking, Terry menghabiskan hampir seluruh karier profesionalnya bersama Chelsea. Ia bergabung sejak usia muda dan baru meninggalkan klub pada 2017, tepat 22 tahun setelah pertama kali mengenakan seragam biru London Barat itu, dengan koleksi gelar yang luar biasa.
Perpisahan Istimewa, tapi...
Selama membela Chelsea, Terry mempersembahkan lima gelar Premier League, lima Piala FA, empat Piala Liga, trofi Liga Europa, serta mahkota Liga Champions. Ia juga dua kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Chelsea, masing-masing pada musim 2000/01 dan 2005/06.
Dengan rekam jejak sebesar itu, tak sedikit pihak yang menilai Terry pantas mendapat perpisahan istimewa di laga terakhirnya bersama The Blues.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Menit-menit terakhir Terry di lapangan bersama Chelsea menjadi kenangan yang sulit dilupakan, bukan karena keharuan, melainkan kontroversi.
Para penggemar, terutama di media sosial X, ramai-ramai mengkritik momen yang mereka sebut "memalukan" terkait langkah terakhir Terry di rumput Stamford Bridge dengan seragam Chelsea.
Dalam laga liga melawan Sunderland, Terry justru meninggalkan lapangan pada menit ke-26. Pada momen itu, rekan-rekan setimnya membentuk barisan guard of honour sebagai penghormatan terakhir bagi sang legenda.
Ribuan penonton di Stamford Bridge berdiri memberikan tepuk tangan, menyampaikan rasa terima kasih atas pengabdian panjang Terry kepada klub.
Dampak Meluas
Alasan pemilihan menit ke-26 tak lepas dari nomor punggung ikonik yang dikenakan Terry sepanjang kariernya di Chelsea.
Kendati Sunderland kala itu sudah dipastikan terdegradasi dan hanya bermain demi harga diri, tetap saja keputusan melakukan seremoni perpisahan di tengah pertandingan dinilai janggal. Banyak pihak menilai hanya sosok sebesar John Terry yang bisa "lolos" dari situasi semacam itu.
Manajer Sunderland saat itu, David Moyes, mengungkapkan setelah kekalahan 1-5 timnya, bahwa ia telah diberi tahu sebelumnya mengenai rencana pergantian Terry. Bahkan, Terry sendiri disebut telah menginformasikan rencana tersebut kepada editor fanzone Chelsea, CFC UK.
Akun Twitter fanzine tersebut, @onlyapound, kemudian membocorkan informasi itu sebelum pertandingan dimulai.
Dampaknya meluas ke dunia taruhan. Sejumlah bandar taruhan mengonfirmasi telah membayar taruhan terkait waktu pergantian Terry.
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat melakukan penyelidikan, namun Terry, Chelsea, dan Sunderland akhirnya terbebas dari sanksi setelah unit integritas FA menyatakan tidak menemukan bukti spot-fixing.
Meski lolos dari hukuman, reaksi publik telanjur keras. Banyak penggemar, terutama dari klub rival, mengecam aksi tersebut.
Reaksi Suporter
Seorang suporter menyebutnya sebagai potret sepak bola modern yang benar-benar memalukan. Nada serupa mendominasi unggahan di media sosial, dengan banyak pihak menilai seremoni itu berlebihan dan tidak perlu.
Seorang penggemar menulis, "Perpisahan yang menyedihkan untuk John Terry, diganti di tengah babak pertama. Hal seperti ini membuat sepak bola terlihat seperti lelucon, sangat memalukan."
Yang lain bahkan menyarankan hukuman, "Chelsea seharusnya dikurangi poin karena guard of honour untuk John Terry di tengah pertandingan. Memalukan."
Kritik juga diarahkan langsung kepada Chelsea.
"Ini salah satu hal paling memalukan yang pernah saya lihat di sepak bola. Chelsea menyuruh Sunderland menendang bola keluar agar bisa menarik Terry di menit ke-26," tulis seorang pengguna.
Komentar lain berbunyi, "Saya tidak bisa melupakan guard of honour ini. Sejujurnya, ini yang paling memalukan yang pernah saya dengar dalam sepak bola."
Pendapat Shearer
Legenda Premier League sekaligus top scorer sepanjang masa kompetisi tersebut, Alan Shearer, turut menyampaikan pandangannya dalam acara Match of the Day.
"Pertama-tama, (Terry) adalah raksasa Premier League, 717 penampilan, 15 trofi, tetapi saya tidak yakin dengan ini," ujar Shearer.
"Kesepakatan Sunderland untuk menendang bola keluar di menit ke-26, saya rasa tidak seharusnya ada hal yang bisa merusak integritas pertandingan," lanjutnya.
"Saya tahu niatnya baik dan dia pantas mendapat guard of honour, tetapi seharusnya dilakukan sebelum atau sesudah laga, atau di menit terakhir," ucap Shearer.
Untungkan Penjudi
Kontroversi itu bahkan menguntungkan sebagian penjudi. Tiga orang berhasil menebak dengan tepat bahwa Terry akan diganti pada menit ke-26 dan memasang taruhan sebelum laga dengan odds 100/1.
Dua slip taruhan yang beredar di media sosial menunjukkan kemenangan sebesar 2.525 dan 1.010 paun dari modal masing-masing 25 dan 10 paun.
"Kami menanggapi permintaan odds unik soal pergantian John Terry, salah satu dari ratusan permintaan pada laga Chelsea. Kredit untuk tiga penjudi yang memasang taruhan dengan odds 100-1. Sejujurnya, satu-satunya kesalahan kami adalah tidak lebih cepat menyadari bahwa akan ada satu lagi perpisahan Chelsea yang memicu rasa cringe untuk JT," ungkap seorang juru bicara Paddy Power saat itu.
Demikianlah, menit terakhir John Terry bersama Chelsea akan selalu dikenang. Bukan hanya sebagai penutup karier seorang legenda, tetapi juga sebagai satu di antara momen paling kontroversial dalam sejarah Premier League.
Sumber: Give Me Sport