Jude Bellingham dan Media Inggris: Hubungan yang Retak

Mengapa pemain terbaik Inggris justru menjadi sosok yang paling jarang berbicara di hadapan publik?

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 04 Februari 2026, 08:00 WIB
Jude Bellingham dan Kylian Mbappe dalam pertandingan Villarreal vs Real Madrid di El Madrigal, Minggu dini hari WIB (16-3-2025). (Bola.com/X @realmadriden)

Bola.com, Jakarta - Jude Bellingham adalah bintang utama Timnas Inggris. Ia disebut sebagai pemain terbaik Inggris saat ini, talenta generasi emas, bahkan digadang-gadang layak menjadi harta nasional. Namun, di balik kilau performanya di lapangan, hubungan Bellingham dengan media justru menjadi sorotan yang tak kalah besar.

Sejak era David Beckham, Inggris nyaris tak pernah memiliki superstar dengan daya tarik global sebesar Bellingham. Wajahnya terpampang di papan iklan, hadir di berbagai program televisi, dan menjadi salah satu ikon Piala Dunia musim panas ini. Kondisi itu seharusnya menjadikannya pusat cerita positif, tetapi realitasnya justru lebih rumit.

Advertisement

Bellingham secara terbuka mengaku tidak menikmati wawancara media. Ia merasa kerap dijadikan kambing hitam dan memandang sebagian pers Inggris seolah berharap Timnas Inggris gagal. Pernyataan tersebut memantik perdebatan besar, apakah itu keluhan yang berlebihan atau reaksi wajar dari pemain yang terus disorot.

Pertanyaan mendasarnya pun mengemuka, mengapa pemain terbaik Inggris justru menjadi sosok yang paling jarang berbicara di hadapan publik.

 


Pahlawan Inggris yang Menyelamatkan di Momen Krusial

Selebrasi Jude Bellingham dalam laga Liga Spanyol antara Real Madrid vs Sevilla, Minggu (21/12/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Performa Jude Bellingham di lapangan nyaris tak terbantahkan. Pada Euro 2024, ia menjadi penyelamat Inggris lewat gol salto spektakuler di menit ke-95 saat menghadapi Slovakia, gol yang menghindarkan Inggris dari kekalahan memalukan dan membuka jalan menuju kemenangan.

Kini ia bermain untuk Real Madrid, memenangkan Liga Champions, dan dipandang sebagai alasan utama mengapa Inggris percaya diri menatap Piala Dunia. Dengan status tersebut, wajar jika publik bertanya-tanya mengapa suara Bellingham justru jarang terdengar.

Di tengah statusnya sebagai ikon sepak bola Inggris modern, absennya Bellingham dari sesi wawancara justru menjadi paradoks yang sulit diabaikan.

 


Merasa Dijadikan Kambing Hitam

Gelandang Real Madrid asal Inggris #05, Jude Bellingham (kanan), dan kiper Real Madrid asal Belgia #01, Thibaut Courtois, bereaksi setelah pertandingan pekan ke-6 League Phase UEFA Champions League antara Real Madrid CF dan Manchester City di Stadion Santiago Bernabeu di Madrid pada 10 Desember 2025. (Oscar DEL POZO/AFP)

Pandangan Bellingham tentang media terungkap jelas lewat pernyataannya di kanal YouTube pribadinya, yang direkam selama Euro. Ia menuturkan bahwa dahulu ia berbicara ke media dengan jujur dan terbuka, tetapi situasinya berubah.

“Saat ini, ketika saya berada di depan media, rasanya seperti mereka menunggu saya mengucapkan sesuatu yang setengah kontroversial untuk dijadikan cerita besar,” ujar Bellingham.

Ia juga menyoroti fenomena di media sosial. “Para suporter di stadion jauh lebih mendukung. Ada tren di media sosial seolah lucu atau keren melihat Inggris kalah. Mereka selalu butuh tokoh antagonis, seseorang untuk dijadikan kambing hitam, dan sepertinya itu akan menjadi saya.”

Bellingham mengaku frustrasi dengan sorotan terhadap bahasa tubuhnya. “Saya marah karena ingin menang. Saya tidak suka kalah. Yang saya pedulikan hanya tim, menang, dan meraih trofi. Ketika orang mengatakan hal-hal itu, itulah yang paling menyakiti saya.”

Pernyataan tersebut semakin emosional ketika ia menyebut dampaknya bagi keluarga. “Ini menjadi personal. Orang bertanya kenapa saya tidak melakukan wawancara, seolah ada yang salah dengan saya. Itu menyakitkan, saya tidak akan bohong. Itu menyakiti orang tua saya, saudara saya, dan teman-teman saya.”

 


Ledakan Emosi di Media Sosial

Pemain Real Madrid, Jude Bellingham, melakukan selebrasi setelah mencetak gol dalam laga kontra AS Monaco pada matchday ketujuh Liga Champions 2025/2026 di Santiago Bernabeu, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Jose Breton)

Ketegangan kembali mencuat ketika pelatih Real Madrid, Alonso, dipecat di tengah isu disharmoni ruang ganti. Bellingham merespons rumor tersebut dengan keras melalui media sosial.

“Sampai sekarang saya membiarkan terlalu banyak hal seperti ini berlalu, berharap kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Tapi jujur saja, ini omong kosong,” tulis Bellingham.

Ia menambahkan, “Saya benar-benar kasihan kepada orang-orang yang mempercayai setiap kata dari para badut ini dan ‘sumber’ mereka. Jangan percaya semua yang Anda baca. Sesekali mereka harus dimintai pertanggungjawaban karena menyebarkan informasi merusak demi klik dan kontroversi.”

Reaksi tersebut memperlihatkan betapa dalamnya rasa frustrasi Bellingham terhadap pemberitaan yang ia anggap tidak adil.

 


Pelajaran dari Masa Lalu dan Perlindungan Berlebihan

Aksi Jude Bellingham di laga Villarreal dan Real Madrid di jornada 21 Liga Spanyol 2025/2026 di La Ceramica, Minggu (25/01/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Alberto Saiz)

Kasus ini mengingatkan pada pengalaman Joe Cole, yang dalam autobiografinya menceritakan bagaimana ia menjadi sasaran media sejak usia 16 tahun. Sebuah halaman depan surat kabar menuliskan bahwa ia digaji besar di usia muda, meski faktanya tidak benar.

Sorotan seperti itu, menurut Cole, membentuk persepsi negatif yang sulit dihapus. Situasi serupa dinilai menjadi salah satu alasan mengapa Bellingham memilih pindah ke Borussia Dortmund saat meninggalkan Birmingham City.

Di Jerman, Bellingham dikenal ramah, populer, dan komunikatif. Hal yang sama juga dirasakan oleh staf dan rekan setimnya di Timnas Inggris, sosok yang hangat, humoris, dan mudah bergaul dengan aksen khas Birmingham.

Namun, sejak debutnya di Euro 2021 dalam usia sangat muda, perlindungan terhadap Bellingham dinilai terlalu ketat. Kini, perlindungan itu justru berubah menjadi jarak dengan media, sementara FA disebut ingin ia lebih sering berbicara.

 


Solidaritas Tim dan Perdebatan Media

Gelandang Real Madrid, Jude Bellingham (tengah) berebut bola dengan bek Liverpool, Ibrahima Konate (kiri) dalam pertandingan sepak bola fase liga Liga Champions UEFA antara Liverpool dan Real Madrid di Anfield, Liverpool, Inggris barat laut, pada 4 November 2025. (Paul ELLIS / AFP)

Ketika muncul klaim keliru bahwa Bellingham tidak ikut merayakan kemenangan Inggris di Albania, rekan-rekannya langsung menunjukkan solidaritas. Sejumlah pemain, termasuk Harry Kane, mengunggah foto perayaan yang dengan sengaja menampilkan Bellingham.

Hal itu menegaskan satu hal, apa pun persepsi publik, Timnas Inggris memilih bersatu dan melindungi rekan setim mereka dari tekanan luar.

Perdebatan makin panas setelah Ian Wright menyinggung isu perlakuan berbeda terhadap pemain kulit hitam. Pernyataan tersebut memicu diskusi luas, meski tidak semua pihak sepakat dengan generalisasi terhadap media.

Yang jelas, Jude Bellingham adalah talenta luar biasa, juara Liga Champions bersama Real Madrid, dan aset terbesar Inggris saat ini. Prestasi itu semestinya menjadi cerita utama, bukan tenggelam oleh konflik yang tak pernah ia cari.

Sumber:Mirror

Berita Terkait