Bayern Munchen Teratas dalam Perolehan Hadiah Liga Champions, Klub Liga Inggris Mendominasi

Bayern Munchen memimpin peringkat hadiah uang dari Liga Champions 2025/2026 sejauh ini.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 08 Februari 2026, 18:45 WIB
Pemain Bayern Munchen merayakan gol yang dicetak Harry Kane ke gawang Union St Gilloise dalam laga matchday ketujuh Liga Champions 2025/2026, Kamis (22/1/2026) dini hari WIB. (Karl-Josef HILDENBRAND / AFP)

Bola.com, Jakarta - Bayern Munchen muncul sebagai klub dengan pemasukan hadiah terbesar dari League Phase Liga Champions musim 2025/26 sejauh ini. Raksasa Jerman tersebut mengantongi sekitar 100 juta euro, unggul tipis dari sejumlah klub elite Eropa lainnya.

Liverpool dan Manchester City menempel ketat dengan masing-masing mengumpulkan sekitar 97 juta euro, sementara Arsenal berada tepat di belakangnya dengan raihan sekitar 96 juta euro.

Advertisement

Dominasi klub Inggris juga terlihat jelas dalam daftar ini. Lima dari tujuh klub dengan pendapatan hadiah terbesar berasal dari Premier League.

Di luar klub Inggris, Barcelona menempati posisi keenam dengan sekitar 89 juta euro. Rival abadinya, Real Madrid, berada di peringkat kesembilan dengan pemasukan sekitar 81 juta euro.

Sementara itu, juara bertahan, Paris Saint-Germain, sejauh ini mengumpulkan sekitar 82 juta euro dan menempati posisi kedelapan.

Data tersebut merupakan bagian dari analisis dampak finansial League Phase Liga Champions 2025/26 yang dirilis Football Benchmark.


Format Baru

Viktor Gyokeres dan rekan-rekannya di Arsenal merayakan gol ke gawang Kairat Almaty dalam lanjutan Liga Champions 2025/2026 di Emirates Stadium, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB. (Ben STANSALL / AFP)

Laporan tersebut menunjukkan bahwa perubahan format kompetisi, dari fase grup tradisional menjadi sistem liga tunggal berisi 36 tim, tidak mengubah struktur kekuatan finansial sepak bola Eropa. Klub-klub elite tetap mendominasi baik dalam hal kelolosan maupun pendapatan.

Meski begitu, format baru dinilai menghadirkan dinamika kompetitif yang lebih tinggi.

Setiap pertandingan di League Phase kini memiliki pengaruh besar terhadap peluang lolos, kegagalan, hingga penentuan lawan di fase gugur, bahkan hingga pertandingan terakhir.

Seluruh 36 klub peserta mendapatkan jaminan pendapatan awal sebesar 18,62 juta euro. Namun, jumlah total hadiah yang diterima sangat bergantung pada hasil pertandingan serta komponen "value pillar", yang berkaitan dengan performa historis klub di kompetisi Eropa dan koefisien klub.


Pengaruh Finansial

Sondre Brunstad Fet dari Bodo/Glimt memegang bola sambil merayakan gol kedua timnya dalam laga fase pembuka Liga Champions melawan Juventus, Rabu (26/11/2025) dini hari WIB.

Menurut laporan tersebut, bagi klub-klub papan atas, hadiah Liga Champions hanya menjadi pelengkap dari sumber pendapatan yang sudah beragam, bukan faktor utama yang mengubah struktur keuangan mereka.

"Bagi klub-klub terbesar, hadiah uang berfungsi melengkapi model pendapatan yang sudah terdiversifikasi, bukan membentuk ulang struktur tersebut. Real Madrid, Barcelona, Paris Saint-Germain, Manchester City, dan Bayern München semuanya mencatat rasio di bawah 15 persen," tulis laporan itu.

Sebaliknya, bagi klub-klub dengan basis finansial lebih kecil, pendapatan dari Liga Champions memiliki dampak yang jauh lebih signifikan.

"AS Monaco, Union Saint-Gilloise, dan Olympiacos masing-masing menghasilkan pendapatan hadiah yang setara dengan lebih dari setengah total pendapatan operasional terbaru mereka. Pada level ini, partisipasi di Liga Champions menjadi komponen penentu performa keuangan tahunan. Dalam kasus ekstrem, hadiah dari kompetisi Eropa berfungsi sebagai pengganda. Qarabag FK dan FK Bodo/Glimt mencatat total hadiah yang bahkan melampaui pendapatan operasional tahunan terakhir mereka," lanjut laporan tersebut.


Kesenjangan Kompetitif

Marcus Rashford usai mencetak gol bersama Barcelona saat melawan Olympiacos di ajang Liga Champions 2025/2026. (MANAURE QUINTERO / AFP)

Walau format baru Liga Champions dinilai mampu menghidupkan kembali daya tarik kompetisi sekaligus meningkatkan potensi pendapatan klub, perubahan tersebut belum mampu menciptakan keseimbangan kompetitif antarklub.

Analisis tersebut menegaskan bahwa konsentrasi pendapatan Liga Champions pada segelintir klub di liga domestik tertentu masih berperan besar dalam membentuk keseimbangan kompetisi.

"Akses berulang terhadap pendapatan Eropa dapat memperlebar kesenjangan finansial antara klub peserta dan pesaing domestiknya, yang pada akhirnya memperkuat dominasi mereka di level liga dalam jangka panjang," demikian kesimpulan laporan itu.

Fenomena ini paling terasa di liga dengan pasar lebih kecil, tetapi kini mulai relevan pula di kompetisi yang lebih besar, di mana partisipasi rutin di kompetisi Eropa terus menjadi fondasi keunggulan kompetitif jangka panjang klub-klub elite.

 

Sumber: Inside World Football

Berita Terkait