Ruben Amorim Bukan Satu-satunya yang Gagal Melihat Kualitas Kobbie Mainoo

Bukan hanya Amorim, ada yang lain yang terlambat menyadari kehebatan Kobbie Mainoo.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 09 Februari 2026, 09:30 WIB
Gelandang Manchester United asal Inggris bernomor punggung 37, Kobbie Mainoo (depan kiri), mengontrol bola selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Fulham di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, pada 1 Februari 2026. (Paul ELLIS/AFP)

Bola.com, Jakarta - Keberhasilan skema sepak pojok pendek Manchester United saat menghadapi Tottenham Hotspur memang terlihat rapi dan efektif. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pola tersebut sejatinya bukan sesuatu yang rumit dan seharusnya bisa diantisipasi oleh lini pertahanan profesional.

Skema itu tampak cerdas karena berujung gol, tetapi keberhasilannya lebih disebabkan oleh kegagalan pemain Tottenham membaca situasi dan bereaksi cepat.

Advertisement

Para pemain Spurs tidak menyadari pergerakan Kobbie Mainoo yang menyelinap menjauh dari tiang dekat, menerima bola, lalu mengirimkan umpan balik ke Bryan Mbeumo yang kemudian berujung gol ke gawang Guglielmo Vicario.

Namun, Tottenham bukan pihak pertama, dan tampaknya juga bukan yang terakhir, yang luput menangkap kualitas Mainoo.

Gelandang muda MU itu kerap luput dari perhatian, meski perannya sangat vital.

Mainoo bukan pemain yang mencolok. Ia tidak gemar pamer, jarang melakukan gestur berlebihan, dan hampir tak pernah terlibat adu argumen di lapangan. Ia bukan sosok pemalu, tetapi juga bukan tipe pemain yang mencari sorotan.

Justru di situlah kekuatannya: efisien, tenang, dan selalu berada di posisi yang tepat.


Beri Keseimbangan

Gelandang Manchester United asal Inggris bernomor punggung 37, Kobbie Mainoo (C), berduel dengan gelandang Bournemouth asal Inggris bernomor punggung 16, Marcus Tavernier (L), selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Bournemouth di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, Selasa (16-12-2025) dini hari WIB. (PETER POWELL/AFP)

Satu di antara pihak yang sebelumnya gagal melihat nilai lebih Mainoo adalah Ruben Amorim. Entah karena titik buta yang kadang dimiliki seorang pelatih, atau karena Amorim melihat sesuatu yang tidak sepenuhnya ia sukai, Mainoo sempat tersingkir dari rencana utama.

Padahal, Mainoo adalah pemain yang bisa memberi keseimbangan lini tengah bagi tim papan atas mana pun.

Sejak kembali dipercaya Michael Carrick, gelandang berusia 20 tahun itu tampil konsisten dan efisien, menjadi bagian penting dari rangkaian empat kemenangan beruntun Setan Merah.

Carrick melihat Mainoo sebagai kombinasi ideal antara pemain muda yang masih dalam proses belajar, tetapi sudah memiliki pengalaman besar. Ia pernah tampil sebagai starter di final Kejuaraan Eropa, bahkan mencetak gol di final Piala FA, pengalaman langka untuk pemain seusianya.

"Tidak diragukan lagi masih ada banyak hal yang bisa berkembang dari dirinya, tapi dia juga sudah punya banyak pengalaman," kata Carrick.

"Dia terbiasa dengan laga besar, momen besar, dan situasi penuh tekanan. Dia memberi dampak besar di pertandingan, dan kami akan terus bekerja dengannya, membantu, serta mencoba meningkatkan kemampuannya," imbuh sang pelatih.


Tahap Awal

Gelandang Manchester United, Kobbie Mainoo (depan), mengontrol bola pada laga melawan Fulham pada lanjutan Liga Inggris di Old Trafford, Minggu (1/2/2026). (Paul Ellis/AFP)

Kebangkitan MU memang tidak lepas dari kontribusi besar Bruno Fernandes. Namun, duet Mainoo dan Casemiro di lini tengah menjadi jantung dari transformasi performa tim dalam beberapa pekan terakhir.

"Itu akan sangat membantu perkembangannya," ujar Carrick.

"Bermain di samping Casemiro, belajar darinya, bahkan hal-hal yang mungkin belum ia sadari sedang ia pelajari. Itu bagian dari perjalanannya untuk berkembang."

"Dia masih di tahap awal kariernya. Tapi, dalam empat pertandingan ini, dia langsung menemukan ritmenya," kata Carrick.

Dalam empat laga tersebut, termasuk kemenangan terbaru atas Tottenham lewat gol Mbeumo dan gol penutup Fernandes, yang terjadi setelah kartu merah krusial Cristian Romero di babak pertama, Carrick mulai membangun argumen kuat bahwa dirinya layak dipertimbangkan sebagai pelatih permanen.


Ubah Atmosfer Klub

Gelandang Manchester United asal Inggris bernomor punggung 37, Kobbie Mainoo (kanan), mencoba mengoper bola selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Arsenal dan Manchester United di Stadion Emirates di London pada 25 Januari 2026. (Ben STANSALL/AFP)

Pelatih berusia 44 tahun tersebut berhasil mengubah atmosfer klub secara signifikan.

"Kami datang dengan keyakinan kami, prinsip kami, dan meminta para pemain melakukan hal-hal tertentu serta bersikap dengan cara tertentu," ujar Carrick.

"Sulit menjelaskan secara detail apa yang berubah, tapi saya senang dengan tingkat kepercayaan dan koneksi di tim. Semua terlibat dan berinvestasi penuh. Itu sangat berarti."

"Permainan bisa mengalir ke berbagai arah dan tampak sangat berbeda, baik atau buruk. Tapi, berada dalam kondisi emosional yang baik sangat membantu," katanya lagi.

Saat ini, di bawah kepemimpinan Carrick, suasana di Old Trafford berada dalam kondisi yang sangat positif, dan mungkin, tak ada yang merasakannya lebih kuat daripada Kobbie Mainoo.

 

Sumber: Mirror

Berita Terkait