Bola.com, Jakarta - Gol-gol telat yang dulu menjadi senjata kini justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Liverpool. Dalam lima bulan terakhir, pola itu perlahan merusak musim mereka, dan hingga kini, belum ada jawaban yang benar-benar jelas.
Pada awal musim, ada satu pemandangan menarik di pusat latihan Liverpool. Di salah satu dinding, terpajang foto-foto momen krusial dari pertandingan, dipasang sebagai sumber motivasi bagi para pemain yang tengah berlatih, pengingat bahwa mereka sedang berjuang mempertahankan gelar Liga Inggris.
Seiring bergulirnya laga demi laga, koleksi foto itu terus bertambah.
Satu di antara yang pertama adalah gambar Federico Chiesa yang merayakan gol menit ke-88 ke gawang Bournemouth pada pekan pembuka Premier League.
Gol itu mengembalikan Liverpool ke posisi unggul setelah sempat kehilangan keunggulan dua gol. Mohamed Salah kemudian memastikan kemenangan lewat gol di masa injury time.
Tak jauh dari situ, terpajang pula foto remaja Rio Ngumoha yang mencetak gol penentu di menit ke-100 saat Liverpool menang dramatis 3-2 atas Newcastle di St James' Park.
Sepekan berselang, Dominik Szoboszlai mencetak gol tendangan bebas menit ke-83 ke gawang Arsenal, disusul penalti Salah pada menit ke-95 saat menghadapi Burnley.
Dua kemenangan tipis beruntun, dua foto tambahan di dinding.
Baca ulasan mendalam BBC selengkapnya, di bawah ini.
Retakan Terlihat
Lima pertandingan berlalu, Liverpool mengoleksi 15 poin sempurna. Mereka memuncaki klasemen dengan rekor 100 persen kemenangan dan difavoritkan untuk kembali menjadi juara.
Tambahkan pula gol kemenangan menit ke-92 melawan Atletico Madrid di Liga Champions, lagi-lagi dalam laga di mana Liverpool sempat menyia-nyiakan keunggulan dua gol, dan dari luar, segalanya tampak berjalan sesuai rencana bagi tim besutan Arne Slot.
Pelatih asal Belanda itu menilai kemampuan timnya mencetak gol telat sebagai buah dari kepercayaan diri dan kebugaran fisik.
Namun, retakan sebenarnya sudah terlihat.
Gol-gol yang mereka kebobolan mulai menunjukkan pola, dan kini, lima bulan berselang, hampir tak ada lagi foto baru yang layak menghiasi dinding di Kirkby.
Kebiasaan Berbalik Arah
Kebiasaan Liverpool mencetak gol penentu di menit akhir kini berbalik arah. Justru mereka yang kerap kebobolan di saat-saat krusial. Liverpool pun terlihat makin mudah ditaklukkan.
Dalam tiga laga liga setelah start emas tersebut, melawan Crystal Palace, Chelsea, dan Manchester United, Liverpool selalu kebobolan gol penentu pada menit ke-84 atau setelahnya.
Ketika Erling Haaland mengeksekusi penalti di masa injury time di Anfield akhir pekan lalu, itu menjadi kali keempat musim ini Liverpool kebobolan gol kemenangan lawan di waktu tambahan liga.
Tidak ada satu pun tim dalam satu musim Premier League yang pernah mencatat angka lebih buruk dari itu.
Hanya Burnley, Leeds, dan Newcastle yang kebobolan lebih banyak gol pada 10 menit terakhir plus injury time dibanding Liverpool (10 gol), dan tidak ada tim yang kehilangan lebih banyak poin akibat gol-gol tersebut selain Liverpool, delapan poin melayang.
Delapan poin itu sejatinya cukup untuk membawa mereka sejajar dengan Aston Villa di posisi ketiga. Namun, kenyataannya, Liverpool kini terdampar di peringkat keenam, tertinggal empat poin dari Chelsea di urutan kelima.
Ceroboh dan “Kami Kelelahan”
Virgil van Dijk beberapa kali musim ini menggunakan kata "ceroboh" untuk menggambarkan performa timnya.
"Setelah 60 menit, kami mulai bermain ceroboh dan ini bukan pertama kalinya. Kami harus membenahi hal itu," kata van Dijk seusai hasil imbang 1-1 melawan Burnley pada Januari lalu.
Beberapa hari kemudian di Milan, pernyataan tersebut ditanyakan kepada bek kiri, Milos Kerkez. Ia sepakat dengan analisis Van Dijk.
"Setelah menit ke-60 atau 70, kami selalu kehilangan fokus dan disiplin taktik. Saya tidak tahu, mungkin kami kelelahan, saya tidak yakin apa penyebabnya, tapi saya setuju dengan itu," ujarnya kepada BBC Sport.
Pendekatan Latihan Beda
Satu di antara alasan utama Arne Slot dipilih sebagai penerus Jurgen Klopp adalah reputasinya dalam menjaga kebugaran pemain. Dari daftar kandidat pelatih saat itu, hanya Ruben Amorim yang memiliki catatan lebih baik.
Slot menerapkan pendekatan latihan yang berbeda. Intensitasnya lebih rendah dibanding era sebelumnya. Ia membawa Ruben Peeters, yang pernah bekerja bersamanya di Feyenoord, sebagai pelatih performa utama tim.
Keduanya merancang program latihan spesifik untuk tiap pemain, menyesuaikan intensitas dengan jadwal dan tuntutan pertandingan.
Sesi latihan menjadi lebih panjang, tetapi tidak sekeras sebelumnya. Pada hari pertandingan, Liverpool juga bermain dengan intensitas yang lebih rendah saat tidak menguasai bola dibanding tim Klopp.
Pendekatan itu, dikombinasikan dengan fondasi kebugaran warisan Klopp, membuat Liverpool relatif minim cedera musim lalu, dan akhirnya menjadi juara Premier League.
Situasi Beda Musim Ini
Musim ini, situasinya berbeda.
Ketika Van Dijk kembali berbicara pada Minggu lalu, jawabannya terasa menggambarkan kebingungan yang ada. Liverpool sendiri belum bisa menunjuk satu penyebab pasti. Seperti yang kerap diulang Slot, selalu saja ada "gol yang berbeda".
Kali ini, penyebabnya datang dari satu di antara pemain paling berpengalaman: Alisson. Sang kiper melakukan kesalahan yang berujung pelanggaran terhadap Matheus Nunes.
"Saya pikir Anda tidak bisa membandingkan semua gol. Mungkin Anda bisa membandingkan gol Palace dan Bournemouth, tapi yang ini tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Faktanya, kami kebobolan di menit akhir dan saya terus mengatakan ini, kami harus bisa lebih baik," kata Van Dijk.
"Saya tidak tahu saat ini. Sulit bagi saya untuk mengatakan itu. Saya belum melihat keseluruhan pertandingan dengan jelas sekarang, jadi ini akan kami diskusikan (pada Senin)," imbuh kapten Liverpool itu ketika ditanya apakah timnya kembali bermain ceroboh.
Krisis cedera yang melanda Liverpool juga memperparah keadaan. Kedalaman skuad di bangku cadangan menjadi masalah nyata.
Man City bisa memasukkan Rayan Cherki dan langsung mengubah dinamika serangan. Sementara itu, pergantian pertama Slot adalah Curtis Jones menggantikan Cody Gakpo pada menit ke-85, sebelum Chiesa masuk di masa injury time.
Sejarah yang Keliru
Di situlah posisi Liverpool saat ini: tim yang sadar akan kelemahannya, tetapi tak mampu menutupinya, apalagi memperbaikinya.
Sebelum laga Minggu lalu, Liverpool tidak pernah kalah dalam 109 pertandingan kandang liga ketika mencetak gol pembuka (98 menang, 11 imbang).
Itu adalah kali paling akhir mereka memimpin dalam laga Premier League, tetapi tetap kalah, setelah gol penyeimbang Bernardo Silva menit ke-84 disusul penalti telat Haaland.
Ironisnya, tendangan bebas indah Szoboszlai yang membuka skor seharusnya menjadi satu lagi foto di dinding Kirkby. Namun, pada akhirnya, gol itu tak berarti apa-apa karena Liverpool kembali gagal mempertahankan keunggulan.
Dalam sejarah Premier League, tidak ada tim yang mencetak gol kemenangan injury time lebih banyak daripada Liverpool, 47 gol, unggul jauh atas Arsenal (36) dan Manchester United (34).
Liverpool selama ini identik dengan drama menit akhir sepanjang sejarah panjang mereka. Namun, saat ini, mereka justru sedang menorehkan sejarah yang keliru.
Seperti yang diakui Slot usai laga, "Kami hampir mulai terbiasa kebobolan gol di waktu tambahan".
Sumber: BBC