Bola.com, Jakarta - Empat bulan menjelang Piala Dunia 2026 bergulir, perhatian publik tak hanya tertuju pada sepak bola. Kebijakan imigrasi Amerika Serikat justru menjadi sorotan, setelah muncul perincian mengenai "pemeriksaan wajib" yang harus dilalui suporter yang ingin masuk ke negara tersebut.
Turnamen musim panas ini memang akan digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, dari ketiganya, AS menjadi pusat kontroversi.
Sejumlah kebijakan Presiden Donald Trump, dari daftar larangan perjalanan, ancaman untuk mengakuisisi Greenland dengan kekuatan berlebihan, hingga kebijakan lain yang memecah opini, membuat atmosfer menjelang pesta sepak bola dunia terasa tidak sepenuhnya kondusif.
Tak sedikit negara yang bereaksi. Pemerintah Jerman, Belanda, hingga Inggris disebut menerima petisi dan desakan untuk memboikot turnamen. Suporter Denmark bahkan dikabarkan serius mempertimbangkan untuk tidak menghadiri laga timnas mereka.
Rencana pemeriksaan keamanan yang ketat di pintu masuk AS menjadi satu di antara pemicu kekhawatiran tersebut. Sebagian pihak menilai prosedur yang sedang disiapkan pemerintah AS terkesan berlebihan.
ESTA dan Persyaratan Tambahan
Bagi suporter yang hendak terbang ke Amerika Serikat, dokumen perjalanan yang lengkap menjadi syarat utama.
Selain paspor, pelancong dari negara-negara peserta Visa Waiver Programme, termasuk Australia, Jerman, dan Inggris, wajib mengajukan izin masuk melalui Electronic System for Travel Authorisation (ESTA).
Selama ini, pengajuan ESTA mengharuskan pelamar mencantumkan data standar seperti detail paspor, informasi pribadi, serta riwayat kriminal.
Namun, proposal terbaru dari pemerintahan Trump berpotensi menambah satu kewajiban baru: mencantumkan seluruh akun media sosial yang digunakan dalam lima tahun terakhir.
Proposal yang dipublikasikan pada akhir tahun lalu itu menyebutkan bahwa pertanyaan terkait media sosial akan menjadi wajib, bukan lagi opsional.
"Kami hanya ingin orang datang ke sini dengan aman. Kami menginginkan keamanan. Kami menginginkan keselamatan," kata Presiden Trump pada Desember lalu, seperti dikutip BBC.
"Kami ingin memastikan bahwa kami tidak membiarkan orang yang salah masuk ke negara kami," imbuhnya.
Media Sosial Bisa Disaring
Menurut laporan Arc Legal, jika perubahan ini diberlakukan, pelamar ESTA harus mencantumkan semua platform media sosial yang digunakan dalam lima tahun terakhir, termasuk nama pengguna.
Informasi tersebut kemudian akan diperiksa silang oleh otoritas, dan bukan tidak mungkin aktivitas daring pemohon turut ditinjau.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama bagi mereka yang aktif menyuarakan pandangan politik secara daring. Tidak mencantumkan informasi media sosial berpotensi membuat permohonan ditolak.
Saat ini, berdasarkan laman resmi US Customs and Border Protection, pengajuan tanpa mencantumkan akun media sosial, atau bagi mereka yang memang tidak memiliki akun, masih diproses "tanpa interpretasi atau asumsi negatif".
Namun, kebijakan itu bisa berubah sebelum Piala Dunia 2026 dimulai pada Juni mendatang, seiring langkah pemerintah AS yang disebut makin memperketat kontrol perbatasan.
Dengan situasi tersebut, perjalanan menuju Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat tampaknya tidak hanya soal tiket pertandingan dan akomodasi.
Bagi sebagian suporter, proses administrasi dan pemeriksaan keamanan bisa menjadi tantangan tersendiri sebelum mereka benar-benar bisa merasakan atmosfer turnamen terbesar sepak bola dunia.
Sumber: Give Me Sport