Sentuhan Tangan Dingin 2 Pelatih Cantik Bikin Persib Merajai Hydroplus Soccer League

Dominasi Persib Putri U-15 dan U-18 di Hydroplus Soccer League 2025/2026 membuat kedua tim putri asal Bandung itu kukuh di puncak klasemen.

BolaCom | Muhammad FaqihDiterbitkan 15 Februari 2026, 15:58 WIB
Tim putri Persib Bandung U-15 yang mengikuti Hydroplus Soccer League 2025/2026. (Dok. Hydroplus Soccer League)

 

Bola.com, Bandung - Akademi Persib Putri U-15 dan U-18 tampil luar biasa dalam ajang Hydroplus Soccer League 2025/2026. Kedua tim menunjukkan performa impresif dengan catatan belum tersentuh kekalahan sepanjang kompetisi tersebut.

Advertisement

Dominasi Persib Putri U-15 dan U-18 di ajang tersebut membuat kedua tim putri asal Bandung itu kukuh di puncak klasemen. Persib Putri U-15 mencatatkan sembilang kemenangan dan dua kali hasil imbang dari 11 pertandingan.

Sementara itu, statistik Persib U-18 tidak kalah mengesankan. Zahra Putri dan kawan-kawan meraih delapan kemenangan dan satu kali hasil imbang dengan total mengumpulkan 28 poin.

Kesuksesan Persib putri U-15 dan U-18 di ajang Hydroplus Soccer League tidak lepas dari sentuhan dua tangan pelatih cantik yang berada di balik layar.

Kedua pelatih ini adalah Dian Nadia (Persib U-18) dan Naftalia Nurayalza (Persib U1-5). Keduanya menjadi sosok penting di balik performa gemilang Persib Putri U-15 dan U-18.


Pelatih Berlisensi

Pelatih Akademi Persib Putri U-18, Dian Nadia. (Bola.com/Muhammad Faqih)

Dian Nadia punya latar belakang panjang di dunia sepak bola. Pelatih dengan lisensi B Diploma itu sempat memperkuat Timnas Indonesia musim 2010/2011 dan bermain di Piala AFF.

Selain itu, dia juga pernah menjadi duta sepak bola wanita ke Amerika Serikat. Pengalamannya itu menjadi bekal penting dalam karier sepak bolanya.

"Kemudian ada privilege dari PSSI untuk mendapatkan beasiswa lisensi kepelatihan. Jadi saya ambil Lisensi C. Alhamdulillah dapat beasiswa dari PSSI pada 2021," kata Dian kepada wartawan, Sabtu (14/2/2026).

"Kemudian kemarin mendapatkan beasiswa lisensi B lagi, karena sudah aktif terus melatih dalam satu tahun terakhir. Mendapat lisensi B di 2024," lanjutnya.

Dalam perjalanannya sebagai pelatih, Dian mengakui sempat dipandang sebelah mata karena berstatus sebagai pelatih wanita. Namun, Nadia tidak terlalu menanggapi dan memilih menjawab lewat prestasi.

"Tutup telinga saja, buktikan saja wanita justru lebih bisa menguasai tim. Pendekatannya kepada anak-anak karena wanita gitu. Terus mengerti psikologis antar-wanita juga. Saya merasa beruntung cukup beruntung menangani wanita juga," ungkapnya.

Dian pun mempunyai mimpi besar dalam karier kepelatihannya. Dia berharap bisa meraih lisensi kepelatihan A dan dapat kembali diberikan kepercayaan menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia putri U-16 dan 17.

"Kemarin alhamdulillah mendampingi Coach Timo Scheunemann di Timnas U-17 dan U-16. Mudah-mudahan tahun ini bisa dipercaya kembali oleh PSSI. Saya bisa mendampingi lagi Head Coach di Timnas Putri," ucapnya.


Dari Basket ke Sepak Bola

Pelatih Akademi Persib Putri U-15, Naftalia Nurayalza. (Bola.com/Muhammad Faqih)

Sementara itu, ada juga Naftalia Nurayalza memiliki perjalanan karier kepelatihan berbeda dengan Dian Nadia. Naftalia awalnya berkiprah di dunia olahraga basket.

Namun, pelatih berusia 23 tahun tersebut mencoba tantangan dengan terjun ke sepak bola saat pandemi COVID-19. Naftalia mengaku awalnya iseng mengikuti lisensi kepelatihan, tetapi hal itu justru membuka jalan kariernya.

"Masuk ke dunia perkuliahan awalnya saya iseng ambil lisensi, namun ya mungkin yang di atas sudah mengaturnya, emang dikasih rezeki di sepak bola, ternyata berlanjut terus," ujar Naftalia.

Tidak butuh waktu lama, manajemen Persib putri tertarik untuk mendatangkan Naftalia. Wanita yang mengantongi lisensi C Diploma ini akhirnya ditugaskan menjadi asisten pelatih Persib putri.

"Ada yang hubungi saya dari tim Akademi Persib, saya pertama kali jadi asisten juga langsung di tim Akademi Persib, dan ternyata berlanjut sampai saat ini," terangnya.

Dia mengaku tantangan terbesarnya sebagai pelatih Persib putri adalah latar belakang yang bukan dari sepak bola dan komunikasi dengan pemain.

"Banyak sekali, karena yang pertama saya dasar bukan dari sepak bola, hanya sekilas lah. Yang kedua, saya kurang bagus dalam komunikasi, khususnya di depan orang banyak, jadi itu tantangan terberat saya," ujarnya.

Berita Terkait