5 Alasan Liga Champions Kini Mudah buat Tim-tim Premier League: Faktor Kaya Raya hingga Kedalaman Skuad

Seolah-olah Liga Champions lebih mudah bagi tim-tim Inggris dibandingkan Premier League, dan memang demikian. Berikut lima alasan utamanya.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Februari 2026, 15:45 WIB
Pemain Arsenal, William Saliba (kiri), berduel dengan striker Man City, Erling Haaland, pada pekan 5 Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Minggu (21/9/2025) malam WIB. (AP Photo/Kin Cheung)

Bola.com, Jakarta - Ketika babak playoff knockout Liga Champions 2025/2026 berlangsung pekan ini, hanya satu tim Liga Inggris yang akan bertanding. Newcastle United akan bertandang ke Baku untuk menghadapi juara bertahan Azerbaijan, Qarabag FK, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. 

Bagi hampir semua tim, mencapai babak playoff sudah merupakan sebuah keberhasilan. Juara bertahan Eredivisie dan Serie A gagal mencapai play-off krena  tersingkir di fase liga, begitu pula dua klub dari La Liga, satu klub Belanda lainnya, satu klub Jerman, dan satu klub Prancis.

Advertisement

Kedua finalis Liga Champions musim lalu, Inter Milan dan Paris Saint-Germain, juga tidak tampil cukup baik di fase liga untuk langsung lolos ke babak 16 besar. Mereka harus melalui play-off, bersama Real Madrid, Atletico Madrid, Borussia Dortmund, dan Juventus.

Tujuan utama fase liga pada dasarnya adalah menghindari eliminasi. Arsenal finis teratas di fase liga Liga Champions dengan menyapu bersih kemenangan dalam delapan pertandingan. Liverpool finis ketiga, Tottenham Hotspur keempat, Chelsea keenam, dan Manchester City kedelapan. Dengan kata lain, berikut asal delapan klub yang mendapat bye ke babak 16 besar. 

Perinciannya Jerman 1, Spanyol 1, Portugal 1, dan Inggris 5 klub. 

Yang lebih mencolok lagi: empat dari lima klub Premier League yang finis di delapan besar meraih rata-rata poin per pertandingan di Liga Champions lebih tinggi dibandingkan di liga domestik mereka.

Liverpool berada di posisi keenam di Inggris, tetapi ketiga di Eropa. Tottenham baru saja memecat manajernya, hanya lima poin di atas zona degradasi di Inggris, namun finis keempat di tahap awal turnamen yang secara teori menampilkan tim-tim terbaik dunia.

Seolah-olah Liga Champions lebih mudah bagi tim-tim Inggris dibandingkan Premier League, dan memang demikian. Berikut lima alasan utamanya.   


1. Tim-tim Premier League Lebih Kaya

Penyerang Liverpool, Mohamed Salah, dan bek The Reds, Virgil van Dijk, merayakan keberhasilan mencetak gol ke gawang Everton dalam laga pekan kesembilan Liga Inggris 2023/2024 di Anfield, Sabtu (21/10/2023) malam WIB. Liverpool menang 2-0 dalam laga ini. (Paul ELLIS / AFP)

Beberapa pekan lalu, Deloitte merilis Money League, yang memberi peringkat 30 klub sepak bola terkaya di dunia berdasarkan pendapatan. Berikut jumlah klub dari tiap negara yang masuk dalam daftar tersebut:

  • Portugal: 1
  • Prancis: 1
  • Turki: 2
  • Spanyol: 3
  • Italia: 4
  • Jerman: 4
  • Inggris: 15

Liga Inggris memiliki kesepakatan hak siar paling tinggi, jauh melampaui yang lain. Pendapatan tersebut didistribusikan lebih merata dari klub papan atas hingga terbawah dibandingkan liga-liga besar Eropa lainnya. Hasilnya terlihat seperti daftar di atas.

Memang, pendapatan tidak selalu berkorelasi langsung dengan kesuksesan, misalnya West Ham United berada di posisi ke-20 dalam Money League. Namun secara luas dan dalam jangka waktu panjang, tim-tim terkaya pada akhirnya cenderung menjadi tim terbaik karena alasan yang jelas.   


2. Penuh Pemain-pemain Top dan Berkualitas

Pemain Chelsea, Liam Delap (tengah), merayakan gol ketiga timnya bersama rekan-rekannya dalam pertandingan pembuka Liga Champions antara Chelsea dan Barcelona di London, Selasa, 25 November 2025. (Foto AP/Kin Cheung)

Keunggulan klub-klub Premier League di kancah Eropa kembali menjadi sorotan. Bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga kekuatan finansial serta kualitas skuad yang membuat wakil Inggris berada selangkah di depan mayoritas peserta Liga Champions.

Beberapa pekan lalu, Deloitte merilis daftar Money League yang memeringkat 30 klub sepak bola terkaya di dunia berdasarkan pendapatan. Hasilnya menunjukkan dominasi luar biasa dari Inggris dengan total 15 klub masuk daftar tersebut, jauh melampaui negara lain seperti Jerman dan Italia yang masing-masing hanya memiliki empat wakil, serta Spanyol dengan tiga klub.

Besarnya nilai kontrak hak siar televisi menjadi faktor utama kekuatan finansial Premier League. Selain paling tinggi di antara lima liga top Eropa, distribusi pendapatan yang relatif merata dari papan atas hingga bawah membuat banyak klub Inggris memiliki sumber daya finansial kompetitif.

Memang, besarnya pendapatan tidak selalu berbanding lurus dengan kesuksesan di lapangan. Namun dalam jangka panjang, klub dengan kekuatan ekonomi lebih besar cenderung mampu membangun tim yang lebih kuat dan konsisten bersaing di level tertinggi.

Tak hanya unggul secara finansial, Premier League juga dipenuhi pemain bertalenta. Data estimasi nilai pasar skuad menunjukkan 13 dari 25 tim dengan nilai pasar tertinggi dunia berasal dari Inggris, jumlah terbanyak dibanding liga lain.

Nilai pasar sering digunakan sebagai indikator besarnya gaji pemain, yang pada akhirnya mencerminkan kualitas individu dalam skuad. Dengan kata lain, sebagian besar pemain terbaik dunia saat ini berkompetisi di Premier League, bahkan tidak sedikit yang justru tidak tampil di Liga Champions.

Kombinasi kekuatan finansial dan kedalaman talenta inilah yang membuat Premier League terus menjadi pusat gravitasi sepak bola dunia, serta ancaman serius bagi klub-klub lain di Liga Champions.   


3. Kualitas Klub Premier League Unggul

Manchester City tampil superior di Etihad Stadium dengan kemenangan besar 4-1 atas Borussia Dortmund dalam lanjutan fase liga Liga Champions 2025/2026. Tampak dalam foto, para pemain Manchester City, Ruben Dias, Savinho, Matheus Nunes, Phil Foden, Bernardo Silva, dan Josko Gvardiol bertepuk tangan kepada para penggemar usai pertandingan lanjutan fase liga Liga Champions 2025/2026 antara Manchester City dan Borussia Dortmund di Stadion Etihad, Manchester, Inggris barat laut, pada 5 November 2025 waktu setempat atau Kamis (6/11) dini hari WIB. (Oli SCARFF/AFP)

Dominasi Premier League atas mayoritas peserta Liga Champions tidak hanya terlihat dari sisi finansial dan kedalaman talenta. Secara performa tim, klub-klub Inggris juga dinilai memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar rival mereka di kompetisi elite Eropa.

Salah satu indikator yang sering digunakan adalah peringkat Club Elo, sistem pemeringkatan berbasis hasil pertandingan yang datanya bahkan mencakup sejak era 1920-an. Metodenya sederhana: dua tim bertanding, lalu poin Elo bertambah atau berkurang tergantung lokasi laga serta skor akhir.

Menariknya, hasil peringkat Elo saat ini sejalan dengan estimasi nilai pasar skuad. Dari 25 tim dengan rating tertinggi, Inggris kembali mendominasi dengan 12 klub berada di daftar tersebut, inggul jauh dari Italia (4), Spanyol (3), Jerman (3), Portugal (2), dan Prancis (1).

Meski Elo cenderung merefleksikan performa masa lalu, kekuatan tim juga dapat diproyeksikan melalui pasar taruhan. Ada banyak pihak yang menggantungkan keuntungan finansial dari kemampuan menilai kekuatan relatif klub sepak bola, dan data mingguan yang dihimpun PitchRank memberikan gambaran menarik.

Sebagai contoh, Bayer Leverkusen yang menempati unggulan kedelapan dari 16 klub playoff Liga Champion ternyata masih berada di bawah 11 klub Premier League dalam penilaian PitchRank.

Bahkan jika dibandingkan dengan Benfica sebagai unggulan terendah yang tersisa, terdapat 16 klub Inggris yang dinilai lebih kuat.

Fakta tersebut mempertegas betapa padatnya kualitas di Premier League. Jika suatu saat digelar kompetisi berisi 36 tim terbaik dunia tanpa memandang asal liga, hampir setengah pesertanya berpotensi berasal dari Inggris.

Dengan kombinasi kekuatan ekonomi, limpahan talenta, serta performa tim yang konsisten tinggi, Premier League kian menegaskan diri sebagai pusat kekuatan sepak bola modern, sekaligus tolok ukur baru bagi persaingan di Liga Champions.   


4. Jadwal Lebih Ringan

Pemain Arsenal, Gabriel Jesus (kanan), merayakan gol bersama rekan setimnya dalam pertandingan fase liga Liga Champions melawan Inter Milan di Giuseppe Meazza, Italia, Rabu (21/1/2026). (AP Photo/Luca Bruno)

Selain faktor finansial, kualitas skuad, dan kekuatan performa tim, klub-klub Premier League juga mendapatkan keuntungan lain dalam persaingan di UEFA Champions League: jadwal pertandingan yang relatif lebih mudah.

Jika mengacu pada peringkat Club Elo sebagai gambaran kekuatan tim, posisi wakil Inggris di kompetisi ini memang sangat tinggi. Arsenal menempati peringkat pertama, diikuti Manchester City di posisi kedua. Sementara itu, Liverpool berada di urutan kelima, Chelsea kedelapan, Newcastle United kesepuluh, dan Tottenham Hotspur di posisi ke-16.

Regulasi UEFA yang melarang tim dari negara yang sama saling berhadapan pada fase liga turut memengaruhi tingkat kesulitan jadwal. Tottenham, misalnya, tidak mungkin bertemu sejumlah tim terbaik yang kebetulan juga berasal dari Inggris.

Data kekuatan jadwal dari Opta bahkan menunjukkan Spurs mendapat undian paling mudah dibanding seluruh peserta.

Hal serupa terjadi pada klub Inggris lain: Liverpool memiliki jadwal keempat termudah, Chelsea kelima termudah, dan Manchester City ketujuh termudah. Memang tidak semua wakil Premier League mendapat keuntungan serupa, jadwal Arsenal tergolong rata-rata, sedangkan Newcastle termasuk yang paling berat. Namun secara keseluruhan tim Inggris tetap menikmati tingkat kesulitan yang lebih rendah dibanding klub dari liga besar lainnya.

Di sinilah paradoks muncul. Klub Premier League dianggap mendapat jadwal lebih mudah karena mereka sudah sangat kuat, sekaligus tidak harus saling menghadapi sesama tim Inggris. Kombinasi kualitas tinggi dan rintangan yang relatif lebih ringan inilah yang membuat dominasi wakil Inggris di delapan besar fase liga terlihat begitu mencolok.

Dengan kondisi tersebut, keunggulan Premier League di Liga Champions bukan sekadar narasi, melainkan hasil dari sistem kompetisi yang secara tidak langsung ikut memperbesar peluang sukses klub-klub Inggris di panggung Eropa.   


5. Premier League Lebih Keras Secara Fisik, Liga Champions Terasa Lebih Ringan

Dominasi klub-klub Inggris di Liga Champions ternyata tidak hanya dipengaruhi faktor finansial, kualitas skuad, hingga kemudahan jadwal. Ada satu aspek penting lain yang kerap luput dari perhatian: tingkat tuntutan fisik di Premier League jauh lebih tinggi dibandingkan kompetisi Eropa.

Winger Newcastle United, Anthony Gordon, sempat menjelaskan perbedaan tersebut jelang laga fase liga melawan Paris Saint-Germain. Menurutnya, pertandingan Liga Champions cenderung lebih terbuka karena setiap tim berusaha memainkan sepak bola dengan rapi melalui kombinasi umpan.

Sebaliknya, Premier League kini terasa jauh lebih menguras fisik. Intensitas tinggi, duel perebutan bola tanpa henti, hingga tempo permainan yang menyerupai basket membuat pertandingan di Inggris berjalan sangat melelahkan. Banyak situasi ditentukan oleh kemenangan duel udara atau bola kedua, bukan sekadar kualitas penguasaan bola.

Data statistik turut memperkuat pandangan tersebut. Musim lalu, rata-rata lemparan jauh di Premier League hanya sekitar 1,22 per pertandingan, mirip dengan Liga Champions yang berada di kisaran 1,23.

Namun musim ini angkanya melonjak drastis menjadi 3,59 lemparan jauh per laga, menunjukkan perubahan pendekatan taktik yang lebih mengandalkan kekuatan fisik dan situasi bola mati.

Penelitian analis Michael Caley juga menemukan klub-klub Premier League kini mengirim 45 persen lemparan ke dalam kotak penalti dari area serang, jauh meningkat dibanding rata-rata empat musim sebelumnya yang hanya 17 persen.

Tren serupa terlihat dalam duel udara. Tim-tim Inggris musim ini mencatat sekitar 110 duel udara per pertandingan, naik tajam dari 86,6 musim lalu dan jauh di atas rata-rata Liga Champions yang hanya 77,3. Artinya, intensitas kontak fisik di Premier League memang berada pada level berbeda.

Tak heran jika efektivitas bola mati klub Inggris di Liga Champions juga menonjol. Empat tim dengan selisih expected goals bola mati terbaik di fase liga berasal dari Premier League, sementara keenam wakil Inggris semuanya masuk 10 besar performa situasi bola mati.

Kondisi tersebut mempertegas satu kesimpulan: ketika klub-klub Inggris tampil di Liga Champions, mereka datang dari kompetisi domestik yang jauh lebih keras secara fisik.

Dampaknya, tempo dan tuntutan di Eropa terasa relatif lebih ringan, sebuah keuntungan tersendiri yang membantu memperkuat dominasi Premier League di panggung benua biru.   

Sumber: ESPN

Berita Terkait