Bola.com, Jakarta - Pertemuan antara Persik Kediri dan Bhayangkara FC pada pekan ke-22 BRI Super League 2025/2026 bukan sekadar pertandingan biasa. Laga yang digelar di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Jumat (20/2/2026) malam WIB itu sarat cerita tentang perjuangan dan kebangkitan.
Sepak bola memang sering menghadirkan kisah yang mirip perjalanan hidup. Ada masa kejayaan, ada pula masa ketika sebuah tim harus berada di titik terendah sebelum kembali berdiri.
Hal itulah yang pernah dialami Persik maupun Bhayangkara FC dalam beberapa tahun terakhir. Keduanya sama-sama pernah merasakan jatuh, namun tidak menyerah untuk kembali ke level tertinggi sepak bola Indonesia.
Kini, ketika keduanya bertemu, pertandingan ini terasa seperti simbol perjalanan panjang dua klub yang berusaha membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Persik Kediri: Dari Juara Indonesia hingga Bangkit Lagi
Persik Kediri pernah menjadi salah satu kekuatan besar dalam sejarah sepak bola nasional. Klub berjuluk Macan Putih itu sempat mengejutkan publik saat meraih gelar juara kompetisi tertinggi Indonesia pada 2003 dan 2006.
Prestasi tersebut terasa istimewa karena Persik berasal dari kota yang tidak memiliki tradisi besar dalam sepak bola nasional. Namun justru dari situlah kejutan muncul dan membuat nama Persik disegani di kancah domestik.
Perjalanan waktu kemudian membawa Persik ke masa sulit. Klub ini bahkan sempat turun hingga ke kasta terendah setelah terdegradasi dari Liga 2 ke Liga 3, sebuah fase yang menjadi titik nadir dalam sejarah mereka.
Namun tekad untuk bangkit tidak pernah padam. Persik berhasil menjuarai Liga 3 2018 dan Liga 2 2019 secara beruntun, sebuah pencapaian yang mengembalikan mereka ke kompetisi tertinggi.
Kehadiran sosok Arthur Irawan juga memberikan warna tersendiri bagi perjalanan Persik. Sebagai pemilik saham mayoritas, ia dikenal memiliki komitmen besar dalam menjaga eksistensi klub.
Sejak mendanai tim pada paruh musim 2022, Arthur menjadi figur penting di balik stabilitas Persik. Upaya tersebut membuat klub asal Kediri itu tetap bertahan di level teratas hingga sekarang.
Bhayangkara FC dan Ambisi Kembali Membuktikan Diri
Bhayangkara FC juga memiliki cerita perjalanan yang tidak kalah menarik. Klub ini lahir dengan berbagai dinamika, termasuk proses panjang dalam membangun identitas serta eksistensi di sepak bola nasional.
Perlahan namun pasti, Bhayangkara FC berhasil menjelma menjadi kekuatan baru. Puncaknya terjadi ketika mereka meraih gelar juara Liga 1 pada 2019, sebuah bukti bahwa klub ini serius bersaing di papan atas.
Namun perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Bhayangkara FC juga sempat mengalami masa sulit ketika harus terdegradasi ke Liga 2 pada musim 2024/2025.
Kondisi tersebut justru menjadi momentum evaluasi besar bagi klub. Dari pengalaman itu, Bhayangkara FC berusaha bangkit dan kembali promosi ke BRI Super League musim 2025/2026.
Musim ini mereka juga mencoba membuka pasar baru dengan menjadikan Lampung sebagai homebase. Langkah tersebut menunjukkan ambisi klub untuk berkembang sekaligus memperluas basis pendukung.
Saat ini Bhayangkara FC berada di posisi kesembilan klasemen sementara. Posisi tersebut mencerminkan upaya mereka untuk tetap kompetitif dan tidak kembali terpuruk.
Pertandingan melawan Persik Kediri pun menjadi ujian penting. Duel ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang menjaga momentum kebangkitan yang telah dibangun kedua tim.