5 Kasus Rasialisme Kontroversial di Sepak Bola: Dari Vinicius Junior sampai Duo Ratchaburi FC

Rasisme masih menjadi masalah serius yang belum sepenuhnya hilang dari dunia sepak bola. Meski berbagai kampanye anti-diskriminasi terus digaungkan oleh FIFA, UEFA, hingga federasi di berbagai negara, insiden bernuansa rasial masih saja muncul di lapangan maupun di tribun stadion.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 20 Februari 2026, 11:00 WIB
Pemain Real Madrid, Vinicius Junior, bereaksi dalam laga fase awal Liga Champions antara SL Benfica melawan Real Madrid, Rabu (18/2/2026). (AP Photo/Pedro Rocha)

Bola.com, Jakarta - Rasisme masih menjadi masalah serius yang belum sepenuhnya hilang dari dunia sepak bola. Meski berbagai kampanye anti-diskriminasi terus digaungkan oleh FIFA, UEFA, hingga federasi di berbagai negara, insiden bernuansa rasial masih saja muncul di lapangan maupun di tribun stadion.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus bahkan memicu reaksi besar dari pemain, pelatih, hingga pejabat sepak bola dunia. Tidak sedikit pertandingan yang sempat dihentikan, investigasi resmi dibuka, hingga pelaku akhirnya mendapat sanksi tegas dari otoritas terkait.

Advertisement

Fenomena ini menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya soal permainan di atas lapangan, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga bersama. Para pemain semakin berani bersuara ketika menerima perlakuan diskriminatif, dan dukungan dari publik pun terus menguat.

Terbaru, isu rasisme kembali mencuat setelah insiden yang melibatkan pemain Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga melawan SL Benfica. Namun, sebelum kasus tersebut, sudah ada sejumlah peristiwa lain yang juga memicu kontroversi besar di dunia sepak bola.

 


1. Vinicius Junior vs Gianluca Prestianni (Liga Champions)

Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Kasus terbaru terjadi saat laga play-off Liga Champions antara SL Benfica dan Real Madrid. Dalam pertandingan itu, Vinicius Junior melaporkan dugaan ucapan bernuansa rasial dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni.

Insiden terjadi sebelum kick-off ketika Prestianni terlihat berbicara ke arah Vinicius sambil menutupi mulutnya dengan jersey. Vinicius langsung melapor kepada wasit dan protokol anti-rasisme diaktifkan.

Kasus ini langsung menjadi perhatian dunia sepak bola. UEFA membuka penyelidikan, sementara berbagai tokoh sepak bola, termasuk pejabat FIFA, menyatakan solidaritas kepada Vinicius.

 


2. Vinicius Junior vs Fans Valencia (La Liga 2023)

Penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, mengeksekusi tendangan penalti dalam pertandingan La Liga Spanyol antara Real Madrid dan Valencia di Madrid, Spanyol, Sabtu, 1 November 2025. (AP Photo/Manu Fernandez)

Kasus rasialisme terhadap Vinicius sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Salah satu yang paling kontroversial terjadi saat pertandingan melawan Valencia CF di La Liga 2023.

Dalam laga tersebut, sejumlah suporter meneriakkan kata-kata rasial kepada Vinicius dari tribun. Insiden ini sempat membuat pertandingan terhenti dan memicu reaksi besar dari dunia sepak bola internasional.

Kasus itu bahkan membuat pemerintah Spanyol turun tangan dan beberapa suporter akhirnya dihukum. Peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa masalah rasisme masih serius di sepak bola Eropa.

 


3. Romelu Lukaku vs Fans Juventus (Coppa Italia 2023)

Laga panas tersaji saat Juventus bentrok dengan Inter Milan pada laga leg pertama semifinal Coppa Italia 2022/2023 di Allianz Stadium, Turin, Rabu (5/4/2023) dini hari WIB. Dalam laga yang berkseudahan 1-1, tiga kartu merah keluar dari saku wasit Davide Massa di penghujung laga, dua untuk kubu Inter Milan Romelu Lukaku dan kiper Samir Handanovic, serta untuk Juan Cuadrado di kubu Juventus. Juventus unggul terlebih dahulu lewat gol Juan Cuadrado pada menit ke-83. Namun kemenangan yang sudah di depan mata akhirnya buyar oleh gol telat Romelu Lukaku via eksekusi penalti di masa injury time. (AFP/Marco Bertorello)

Kasus lain yang sempat mengguncang dunia sepak bola melibatkan Romelu Lukaku saat membela Inter Milan melawan Juventus FC.

Saat merayakan gol, Lukaku mendapatkan ejekan rasial dari sebagian suporter Juventus. Insiden tersebut memicu kontroversi karena Lukaku justru sempat terkena kartu kuning setelah selebrasinya.

UEFA dan FIGC kemudian mendapat tekanan besar untuk bertindak lebih tegas terhadap rasisme di stadion. Kasus ini memperkuat kampanye anti-rasisme di sepak bola Italia.

 


4. Denilson Junior dan Gabriel Mutombo vs Fans Persib Bandung

Winger Ratchaburi FC, Denilson Junior. (Bola.com/Dok.Instagram Ratchaburi FC).

Kasus rasialisme juga sempat mencuat di Indonesia dan menjadi perbincangan luas. Dua pemain asing, Denilson Junior dan Gabriel Mutombo, mengaku menerima perlakuan rasial dari oknum suporter Persib Bandung.

Insiden tersebut ramai dibahas di media sosial dan memicu reaksi keras dari komunitas sepak bola Tanah Air. Banyak pihak meminta adanya edukasi dan tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa rasisme bukan hanya masalah di Eropa, tetapi bisa terjadi di mana saja, termasuk di Asia yang melibatkan klub Indonesia.

 


5. Kalidou Koulibaly vs Fans Cagliari (Serie A 2019)

Pemain Napoli, Kalidou Koulibaly dan Christian Maggiober merayakan kemenangan atas Cagliari pada laga pekan ke-26 Serie A di Sardegna Arena, Selasa (27/2). Napoli menggulung tuan rumah Cagliari dengan skor telak 5-0. (ALBERTO PIZZOLI / AFP)

Kasus rasialisme lain yang cukup terkenal melibatkan Kalidou Koulibaly ketika membela SSC Napoli melawan Cagliari Calcio.

Koulibaly menjadi sasaran teriakan bernada rasial dari tribun sepanjang pertandingan. Bek asal Senegal itu tetap tampil profesional dan bahkan mencetak gol penentu kemenangan.

Namun insiden tersebut memicu kecaman luas dari pemain, klub, hingga organisasi sepak bola dunia. Serie A kemudian meningkatkan kampanye anti-rasisme setelah kejadian itu.

Berita Terkait