Kisah Bodo/Glimt, Si Pembunuh Raksasa di Liga Champions: Kejutan dari Arktik

Klub Norwegia, Bodo/Glimt, menjelma menjadi pembunuh raksasa di panggung Liga Champions.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 20 Februari 2026, 12:00 WIB
Sondre Brunstad Fet dari Bodo/Glimt memegang bola sambil merayakan gol kedua timnya dalam laga fase pembuka Liga Champions melawan Juventus, Rabu (26/11/2025) dini hari WIB.

Bola.com, Jakarta - Dari dalam Lingkar Arktik, salah satu kisah paling mustahil di Liga Champions musim ini sedang terukir. Dan daftar raksasa yang tumbang di tangan mereka terus bertambah.

Klub Norwegia, Bodø/Glimt, menjelma menjadi pembunuh raksasa di panggung Liga Champions. Dengan penuh determinasi dan gaya bermain menyerang tanpa rasa takut, mereka menantang logika dan statistik.

Advertisement

Bodo is hell,” tulis Gazzetta dello Sport setelah penampilan sensasional terbaru Bodo/Glimt yang menghujam klub Italia, Inter Milan. Media Italia itu menyebut Bodo ibaratnya neraka.

Tim Norwegia itu mengguncang Liga Champions dengan kemenangan 3-1 atas Inter Milan pada leg pertama babak playoff 16 Besar. Hasil tersebut memperpanjang rangkaian performa yang kini mulai terasa legendaris.

Bermain di Aspmyra Stadion, lapangan rumput sintetis bertemu es dan angin Arktik berhembus kencang, Manchester City sudah lebih dulu tumbang 1-3. Bahkan Atletico Madrid juga dipaksa menyerah 1-2 di Metropolitano pada awal musim ini.

Tiga kemenangan beruntun melawan raksasa Eropa telah mengubah klub sederhana dari Lingkar Arktik menjadi kisah paling memikat di turnamen ini.


Mental Baja di Tengah Suhu Membeku

Bodo/Glimt menundukkan Inter Milan dengan skor 3-1 pada leg pertama play-off fase gugur Liga Champions 2025/2026 di Aspmyra Stadion, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB. (Mats Torbergsen/NTB Scanpix via AP)

Sebelum laga melawan Inter Milan dimulai, para pekerja harus membersihkan berton-ton salju dari lapangan rumput. Saat pertandingan berlangsung, suhu turun hingga -4°C dengan angin stabil menyapu stadion.

Namun, bagi pelatih kepala Kjetil Knutsen, kondisi itu bukanlah alasan.

"Kami harus melakukan segalanya dengan cara kami sendiri, terlepas dari apakah suhunya -10 derajat," ujar Knutsen.

Setelah menaklukkan runner-up Liga Champions musim lalu, ia menegaskan kembali filosofi itu. Timnya tidak boleh datang ke Italia hanya untuk mempertahankan keunggulan.

Mentalitas mereka tetap sama, menyerang, bersaing, dan setia kepada identitas permainan mereka.


Daftar Tumbangnya Raksasa yang Terus Bertambah

Kiper Manchester City, Gianluigi Donnarumma, tertunduk setelah gawangnya kebobolan tiga kali di markas Bodo/Glimt dalam laga matchday ketujuh Liga Champions 2025/2026 di Aspmyra Stadion, Bodo, Norwegia, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB. (Fredrik Varfjell/NTB via AP)

Inter Milan hanyalah tambahan terbaru dalam daftar korban di Aspmyra. AS Roma, Besiktas J.K, Celtic FC, AZ Alkmaar, FC Porto, dan Lazio, semuanya pernah merasakan kekalahan di sana, bersama Manchester City.

Berkompetisi di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, Bodo/Glimt juga menjadi tim Norwegia pertama yang memenangkan pertandingan fase gugur di kompetisi tersebut.

Pencapaian itu terasa semakin luar biasa karena mereka sempat diberi probabilitas eliminasi sebesar 99,7 persen setelah Matchday 5 fase liga.

Konteksnya membuat kisah ini semakin dramatis. Bodo/Glimt tidak memainkan laga liga domestik selama 81 hari sebelum mengalahkan Inter Milan. Tanpa ritme kompetitif di dalam negeri, tapi mereka begitu tangguh di panggung Eropa.

Dalam 44 pertandingan kandang terakhir mereka di kompetisi Eropa, mereka mencatatkan 33 kemenangan, 2 hasil imbang, dan 9 kekalahan. Aspmyra Stadion kini menjadi salah satu venue paling tidak nyaman di sepak bola kontinental.

Petualangan mereka masih jauh dari selesai. Namun apa pun yang terjadi di leg kedua nanti, Bodo/Glimt sudah memastikan tempat mereka sebagai salah satu kisah paling luar biasa di Liga Champions musim ini.

Sumber: beIN Sports


Persaingan di Liga Champions

Berita Terkait