Bola.com, Jakarta - Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, tak menutup mata terhadap krisis yang sedang melanda tim asuhannya. Usai kekalahan 0-2 dari Como di Turin, Sabtu kemarin, ia menilai persoalan utama Bianconeri bukan semata lawan di lapangan, melainkan diri mereka sendiri.
"Lawan sesungguhnya bagi Juventus dalam kasus ini adalah diri kami sendiri," ujar Spalletti kepada DAZN Italia.
"Ini semua tentang kepercayaan diri," imbuhnya.
Hasil tersebut memperpanjang tren negatif Juventus. Dari lima pertandingan kompetitif terakhir, mereka hanya mampu meraih satu hasil imbang. Performa yang sebelumnya sempat menjanjikan, kini kembali merosot.
Berbeda dengan kekalahan dari Inter dan Galatasaray yang diwarnai kartu merah, kali ini tak ada alasan serupa. Kesalahan di lini belakang serta rapuhnya penjagaan gawang membuat Juventus dihukum.
Mergim Vojvoda dan Maxence Caqueret memanfaatkan kelengahan tersebut untuk memastikan kemenangan 2-0 Como.
Spalletti mengakui gol pertama memberi dampak besar terhadap jalannya laga.
"Penampilan kami juga dipengaruhi oleh gol pertama itu, karena momen-momen seperti itu memang membuat perbedaan," katanya.
"Kami mencoba kembali ke dalam pertandingan dengan pressing individu, tetapi kualitas dan penguasaan bola mereka memaksa kami untuk mengejar," kataya lagi.
Kebobolan Lebih Dulu
Spalletti menyoroti fakta bahwa timnya terlalu sering kebobolan lebih dulu musim ini.
"Ketika Anda kebobolan gol pembuka sampai 13 kali, dalam jangka panjang Anda akan membayar mahal untuk itu," ucap mantan pelatih Napoli itu.
Menurut Spalletti, ada periode ketika Juventus bermain dengan penuh antusiasme dan mencatat performa luar biasa. Namun, saat semangat itu memudar, kepercayaan diri ikut menghilang.
"Ada masa ketika kami punya antusiasme dan beberapa performa yang luar biasa. Lalu ketika itu hilang, begitu juga kepercayaan diri, kesalahan menjadi mahal, dan secara psikologis menjadi sulit untuk bereaksi," jelasnya.
"Begitulah cara kerja pikiran para pemain, ada terlalu banyak tekanan dari hasil-hasil belakangan ini, dan momen-momen seperti ini yang membuat perbedaan," tambah eks pelatih Timnas Italia itu.
Aspek Mental
Kekecewaan suporter pun tak terbendung. Siulan keras terdengar saat peluit akhir berbunyi, mencerminkan frustrasi atas minimnya karakter yang diperlihatkan skuad saat ini.
Padahal, tantangan berat sudah menanti. Juventus harus mencoba membalikkan ketertinggalan 2-5 dari Galatasaray pada leg kedua play-off Liga Champions pekan depan, sebelum bertandang ke markas Roma pada pekan ke-27 Serie A.
Spalletti kembali menekankan aspek mental sebagai kunci kebangkitan.
"Ini semua tentang kepercayaan diri, bahwa kami memiliki apa yang dibutuhkan. Kami sempat berhasil membangun keyakinan atas potensi kami, tetapi ketika rasa percaya diri dan otoritas itu hilang… Saya melihat umpan-umpan salah yang biasanya tidak pernah dilakukan pemain saya. Itu bukan sesuatu yang biasa terjadi, dan mereka merasa terjebak oleh situasi ini," ungkapnya.
Perubahan dari Dalam
Kekalahan dari Como juga menandai untuk ke-13 kalinya di Serie A musim ini Juventus kebobolan dari tembakan tepat sasaran pertama lawan. Kiper Michele Di Gregorio kembali menjadi sorotan setelah gagal mengantisipasi tembakan di tiang dekat.
Namun, Spalletti menolak menyalahkan satu individu.
"Di Gregorio tidak memiliki tanggung jawab lebih dibanding rekan-rekannya. Dia melakukan kesalahan, sama seperti back-pass yang ceroboh dalam proses awal itu adalah kesalahan. Semua orang seharusnya bisa bertahan lebih baik dalam situasi tersebut, tidak kehilangan bola dengan mudah. Tanggung jawab harus selalu dibagi," ujar pelatih berusia 66 tahun tersebut.
Dalam laga ini, Juventus tak diperkuat Pierre Kalulu yang menjalani skorsing, meski banding atas kartu kuning keduanya saat menghadapi Inter, yang dipicu dugaan simulasi Alessandro Bastoni, telah diajukan.
Gleison Bremer, Emil Holm, Dusan Vlahovic, dan Arek Milik juga masih cedera. Jonathan David belum sepenuhnya fit, sementara Manuel Locatelli akan absen melawan Roma karena sanksi larangan bermain.
Di tengah segala keterbatasan itu, Spalletti menegaskan satu hal: perubahan harus datang dari dalam.
"Lawan kami dalam kasus ini adalah diri kami sendiri. Jika kami bisa membereskan beberapa hal pada level psikologis dan teknis, maka kami bisa menunjukkan kapasitas kami. Jika ini adalah level kami, maka kami akan kalah dan tidak bisa punya ambisi untuk hasil apa pun," tutur Spalletti.
Sumber: Football Italia