Gianni Infantino dan Ide Besar yang Mustahil: Setiap Negara Diminta Namai Stadion dengan Nama Pele

Presiden FIFA, Gianni Infantino, pernah punya ide yang begitu sulit direalisasikan. Tiga tahun kemudian, rencana besar itu belum terwujud.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Februari 2026, 10:45 WIB
Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Gianni Infantino terpilih menjadi Presiden FIFA, menggantikan Sepp Blatter yang kontroversial. Setelah dilantik, Infantino berjanji untuk mengembalikan rasa hormat publik terhadap FIFA.

"Kita harus bangga dengan apa yang kita lakukan untuk FIFA. Saya ingin membuka era baru di FIFA di mana sepak bola menjadi pusat perhatian," kata Infantino, yang juga mantan kepala keamanan UEFA.

Advertisement

Namun, satu dekade kemudian, sejumlah keputusan Infantino justru menuai kritik tajam.

Pada Piala Dunia 2022 misalnya, administrator asal Swiss itu dikritik keras atas pidatonya yang kontroversial, dikenal sebagai "pidato hari ini saya merasa", di mana ia menuding negara-negara Barat bersikap hipokrit secara moral.

Hubungan dekat Infantino dengan Donald Trump juga menjadi sorotan. Infantino membela keputusan FIFA memberikan Peace Prize FIFA kepada Trump, yang juga dijadwalkan menyerahkan trofi Piala Dunia 2026 kepada juara turnamen.

Kontroversi terakhir terjadi ketika Infantino kedapatan mengenakan topi merah bergaya MAGA dalam pertemuan Board of Peace bentukan Trump di Washington, DC, yang menurut banyak pihak melanggar aturan ketat FIFA.


Ide "Gila" Infantino

(Kiri/Kanan) Presiden Argentina, Javier Milei, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadiri pertemuan perdana "Board of Peace" yang diselenggarakan oleh Presiden AS, Donald Trump, di Institute of Peace AS di Washington, DC, pada 19 Februari 2026. (SAUL LOEB/AFP)

Satu di antara rencana paling ambisius Infantino muncul awal 2023, tepat setelah pergantian tahun.

Ia mengungkapkan bahwa FIFA berencana meminta setiap negara di dunia, benar-benar semua negara, untuk menamai satu stadion sepak bola mereka dengan nama satu di antara pesepak bola paling legendaris dalam sejarah.

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Pele meninggal dunia pada usia 82 tahun akibat kanker usus besar. 

"Kami akan meminta setiap negara di dunia untuk menamai salah satu stadion sepak bola mereka dengan nama Pele," ujar Infantino, yang hadir di pemakaman sang ikon di Sao Paulo, kepada wartawan.


Pernyataan Resmi

1. Pele - Top skor Brazil sepanjang masa pernah mencicipi dunia perfilman bersama aktor kawakan Sylvester Stallon di film Escape to Victory pada tahun 1981. (AFP/Mauro Pimentel)

Setelah Pele wafat, Infantino juga merilis pernyataan resmi.

"Bagi semua yang mencintai sepak bola, hari ini adalah hari yang tidak pernah ingin kita hadapi. Hari di mana kita kehilangan Pele."

"Pele memiliki aura yang luar biasa, dan ketika berada bersamanya, dunia seakan berhenti."

Perjalanan hidupnya lebih dari sekadar sepak bola. Dia mengubah pandangan menjadi lebih baik di Brasil, di Amerika Selatan, dan di seluruh dunia. Warisannya sulit dirangkum dengan kata-kata," ucap Infantino.


Belum Terwujud

Presiden FIFA, Gianni Infantino, bereaksi saat resepsi dengan para pemimpin bisnis di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026. Forum Ekonomi Dunia berlangsung di Davos dari 19 Januari hingga 23 Januari 2026. (Mandel NGAN/AFP)

Namun, tiga tahun berlalu, rencana besar Infantino untuk menghormati hidup dan warisan Pele belum terwujud.

Meski terdengar menyentuh, gagasan ini sebenarnya sulit direalisasikan.

Jurnalis The Guardian, Jonathan Wilson, menyoroti absurditas ide tersebut.

"Bagaimana tepatnya ini bisa terjadi? Apakah asosiasi sepak bola di tiap negara harus mengadakan undian besar untuk menentukan klub mana yang 'dipaksa' mengganti nama stadion? Dalam yurisdiksi seperti apa dia membayangkan federasi sepak bola memiliki hak semacam itu?"

"Ini bukan seperti Stalin mengganti nama St. Petersburg setelah Lenin wafat. Mengapa negara manapun mau menamai stadionnya dengan nama pemain besar dari negara lain? Selamat mencoba meyakinkan Buenos Aires agar ide ini diterima," kata Wilson.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait