Skandal Besar Liga China: 13 Tim Mulai Musim 2026 dengan Minus Poin, 73 Orang Disanksi Seumur Hidup!

Musim baru Chinese Super League (CSL) 2026 dibuka di bawah situasi yang jauh dari normal. Lebih dari setengah tim peserta memulai kampanye mereka dengan defisit poin, termasuk juara bertahan Shanghai Port dan runner-up musim lalu, Shanghai Shenhua.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 09 Maret 2026, 05:45 WIB
Mantan pelatih timnas China, Li Tie mengaku harus menyogok untuk mendapatkan posisinya. (AFP/Cacace)

Bola.com, Jakarta - Musim baru Chinese Super League (CSL) 2026 dibuka di bawah situasi yang jauh dari normal. Lebih dari setengah tim peserta memulai kampanye mereka dengan defisit poin, termasuk juara bertahan Shanghai Port dan runner-up musim lalu, Shanghai Shenhua.

Kondisi ini muncul setelah penyelidikan besar-besaran terhadap praktik pengaturan skor, perjudian, dan korupsi dalam industri sepak bola China. Pada Januari lalu, China menjatuhkan sanksi seumur hidup bagi 73 orang yang terlibat, serta mengurangi poin 13 klub, sembilan di antaranya berasal dari CSL.

Advertisement

Langkah tegas ini dinyatakan oleh Asosiasi Sepak Bola China (CFA) sebagai upaya untuk “menegakkan disiplin industri, memurnikan lingkungan sepak bola, dan menjaga kompetisi yang adil.” Poin dikurangi sesuai dengan tingkat keterlibatan, sifat pelanggaran, serta dampak sosial dari setiap transaksi ilegal yang dilakukan klub.

Akibat sanksi ini, tabel klasemen sebelum laga pembuka antara Chengdu Rongcheng dan Shenzhen Peng City sudah menunjukkan beberapa tim berada di posisi minus. Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger mendapat potongan 10 poin, sementara Qingdao Hainiu dikurangi tujuh poin sebelum kalah dari Yunnan Yukun.

Tim lain seperti Shandong Taishan dan Henan memulai musim dengan minus enam poin, sementara Zhejiang, Wuhan Three Towns, Shanghai Port, dan Beijing Guoan masing-masing memulai dengan minus lima poin. Situasi ini menciptakan tekanan ekstra bagi klub-klub papan atas, yang kini harus mengejar ketertinggalan dari awal musim.

 


Li Tie Jadi Sorotan Utama Skandal

Gelandang Shanghai SIPG, Oscar tergeletak di lapangan saat dikerumuni pemain Guangzhou R&F pada pertandingan Liga Super China di Guangzhou, Guangdong, China selatan, (18/6). Pertandingan ini berakhir dengan skor 1-1. (AFP Photo/Str/China Out)

Skandal ini juga menyorot mantan gelandang Everton dan pelatih timnas China, Li Tie, yang termasuk di antara 73 orang yang dilarang bekerja di sepak bola seumur hidup. Tahun lalu, Li Tie mengaku melakukan pengaturan skor, menerima suap, dan memberikan suap demi mendapatkan posisi pelatih utama timnas China.

Pada bulan Maret, Li Tie mengaku bersalah menerima suap lebih dari 16 juta dolar AS, yang dilakukan sejak 2015 saat menjadi asisten pelatih di Hebei China Fortune hingga 2021 saat mengundurkan diri sebagai pelatih timnas.

“Saya sangat menyesal. Seharusnya saya tetap rendah hati dan mengikuti jalan yang benar. Ada hal-hal tertentu yang, pada waktu itu, dianggap praktik umum dalam sepak bola,” ujar Li Tie.

Ia menambahkan, “Dengan mendapatkan ‘kesuksesan’ melalui cara yang tidak benar, sebenarnya membuat saya semakin tidak sabar dan ingin hasil cepat. Untuk mencapai performa baik, saya mempengaruhi wasit, menyuap pemain dan pelatih lawan, kadang melalui klub yang berurusan dengan klub lain.”

Li Tie juga mengakui bahwa kebiasaan buruk ini berkembang menjadi pola yang sulit dihilangkan. “Perilaku ini menjadi kebiasaan, dan akhirnya bahkan ada sedikit ketergantungan pada praktik-praktik tersebut,” tambahnya.

 


Dampak Besar bagi Liga dan Kompetisi

Li Tie gagal membawa China lolos kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022. (AFP)

Potongan poin besar bagi banyak tim dan larangan seumur hidup bagi pelaku kunci menciptakan tekanan ekstra bagi CSL. Klub-klub papan atas kini harus memulai musim dengan defisit poin yang signifikan, sementara reputasi liga ikut terguncang.

CFA menegaskan bahwa sanksi ini penting untuk mengembalikan integritas kompetisi. Semua pihak diharapkan mengambil pelajaran dari skandal ini agar industri sepak bola China bisa kembali bersih dan kompetitif di level domestik maupun internasional.