Superbank Catatkan Laba Sebelum Pajak Rp143,3 Miliar di 2025, Resmi Naik Kelas ke KBMI 2 Setelah IPO

PT Super Bank Indonesia Tbk atau Superbank, bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 11 Maret 2026, 11:16 WIB
Superbank, bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid. (Superbank)

Bola.com, Jakarta - PT Super Bank Indonesia Tbk (IDX: SUPA; “Superbank”), bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang solid. Superbank mencatatkan tonggak strategis sebagai perusahaan publik pasca pencatatan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025.

Sepanjang 2025, Superbank membukukan Laba Sebelum Pajak (Profit Before Tax atau PBT) sebesar Rp143,3 miliar, menegaskan keberhasilan model bisnis digital berbasis ekosistem yang dijalankan secara disiplin dan berkelanjutan.

Advertisement

Keberhasilan IPO tersebut memperkuat struktur permodalan Perseroan dan secara resmi menempatkan Superbank dalam kategori Bank Umum berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.

“Tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Kami mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2025 dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama," kata Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan. 

"Momentum IPO tidak hanya memperkukuh struktur permodalan kami, tetapi juga semakin meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap Superbank sebagai bank dengan layanan digital yang tumbuh sehat, efisien, dan relevan. Capaian ini mencerminkan konsistensi strategi, tata kelola yang solid, serta sinergi yang kuat dengan ekosistem dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia," imuh Tigor. 

 


Pertumbuhan Finansial yang Kuat dan Tetap Prudent

Superbank adalah bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS. (Superbank)

Kinerja 2025 ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat dan ekspansi kredit yang tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 160% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,6 triliun, sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 50% YoY menjadi Rp9,6 triliun, terutama pada segmen ritel dan UMKM.

Dana Pihak Ketiga (DPK) turut tumbuh signifikan sebesar 139% YoY menjadi Rp11,8 triliun, sementara total aset meningkat 87% YoY menjadi Rp21,3 triliun, mencerminkan ekspansi usaha yang sehat dan terukur.

Seiring dengan peningkatan skala bisnis, efisiensi operasional menunjukkan perbaikan yang signifikan, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 70,52% dibandingkan 139.16% pada tahun sebelumnya. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross di level 2,60% dan NPL Net sebesar 0,68%, didukung struktur likuiditas yang sehat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,32%. Net Interest Margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,64%, memperkuat fundamental profitabilitas Perseroan.

 


Sinergi dengan Ekosistem Pemegang Saham sebagai Kunci Pertumbuhan

Superbank membukukan laba sebelum pajak Rp 122,4 miliar hingga November 2025. (Dok SUPA)

Sejalan dengan pertumbuhan finansial tersebut, Superbank terus memperkuat penetrasi layanan digital melalui kolaborasi strategis dalam ekosistem, termasuk peluncuran OVO 1 Nabung by Superbank, Kartu Untung dengan KakaoBank, serta integrasi pengajuan Pinjaman Atur Sendiri (PAS) langsung melalui aplikasi Grab dan OVO.

Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Perseroan telah melayani lebih dari 6 juta nasabah dengan rata-rata transaksi melampaui 1 juta transaksi per hari, mencerminkan tingginya tingkat adopsi dan engagement pengguna dalam ekosistem digital Superbank.

Memasuki 2026 sebagai bank KBMI 2, Superbank optimis melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan dengan fokus pada inovasi teknologi, penguatan sinergi ekosistem, serta penerapan manajemen risiko yang prudent guna menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.

 

Tag Terkait

Berita Terkait