Bola.com, Jakarta - Enam gol, tujuh assist, dan tujuh man of the match (MOTM) dari 21 pertandingan BRI Super League 2025/2026 yang dibuat oleh winger Persija Jakarta, Allano Lima, tertutupi oleh perilaku disiplinnya di atas lapangan.
Bagaimana tidak, Allano menjadi raja kartu kuning di musim ini. Pemain asal Brasil itu telah mengantongi 12 kartu kuning, terbanyak di BRI Super League.
Untuk keempat kalinya di musim ini, Allano bakal absen membela Persija karena akumulasi kartu. Dia tidak bisa bermain saat tim ibu kota melawan Dewa United dalam laga tunda pekan ke-25 di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, pada Minggu (15/3/2026).
Kondisi ini tentu menjadi kerugian besar bagi Persija. Mengingat Allano adalah satu di antara pemain paling berpengaruh untuk tim berjulukan Macan Kemayoran itu.
Kepribadian Unik
Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas, menilai bahwa setiap pemain bintang punya kontroversinya masing-masing. Dia beranggapan bahwa Allano, punya karakteristik yang ekspresif.
"Mengenai Allano, kita tahu bahwa dia pemain yang sangat berkualitas. Allano ini memang secara kepribadian agak unik. Jadi, kadang-kadang gini, ini pengalaman saya, ya, demi saya pernah bermain sepak bola," ujar Bambang dalam Ngopi Bareng Persija di Kantor Persija, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/3/2026).
"Jadi, saya punya pengalaman bahwa setiap bintang itu memiliki kontroversinya masing-masing. Ada yang dalam tanda kutip indisipliner, ada yang dalam tanda kutip terlalu diam, ada yang, dan sebagainya, banyak," jelas pria yang karib dipanggil Bepe itu.
Sudah Sering Diperingatkan
Sifat ekspresif yang melekat pada diri Allano adalah cerminan budaya sepak bola Brasil yang mengutamakan kegembiraan dan kebebasan berekspresi, sehingga tantangan utama Persija adalah menjaga keseimbangan antara spontanitas tersebut dengan kedisiplinan di lapangan.
"Nah, Allano ini adalah satu di antara orang yang cukup ekspresif. Jadi, orang-orang Brasil itu kadang sepak bola itu benar-benar apa, ya, mereka sangat menikmati sepak bola," ucap Bepe.
"Makanya, kalau kita sering lihat pemain-pemain Timnas Brasil jalan ke locker room bawa musik, ketawa-ketawa. Bahkan, kalau pernah dengar cerita yang cukup legendaris ketika Carlo Ancelotti nanya ke Ronaldo, "Lu tahu enggak besok kita lawan siapa, lawan Siena, gitu, kan?" Terus dia bilang, 'Gua enggak tahu, tapi gua yakin dia tahu gua.' Nah, itu kan bagian dari orang-orang Brasil sangat menikmati sepak bola."
"Nah, Allano itu tipe yang seperti itu. Kita ngomong sudah berkali-kali bahwa harus calm down. Bahkan kemarin setelah main saya ngomong sama dia, 'Allano, hati-hati.' 'Yes, yes, yes.' Tapi karena ekspresif tadi, itu yang kadang-kadang lepas," imbuh Bepe.
Dilema Persija
Menemukan formula yang tepat dalam mengelola perilaku Allano menjadi krusial karena Persija khawatir bahwa pemberian instruksi yang terlalu mengekang justru dapat mematikan kreativitas dan performa terbaiknya di lapangan.
"Memang itu hal yang harus kita koreksi, ya. Termasuk apakah kemudian itu menjadi catatan untuk misalkan musim depan atau di sepuluh pertandingan terakhir ini. Tapi kadang-kadang, kalau seorang pemain yang kemudian terlalu memikirkan itu, harus ditahan, tidak khawatir, mereka malah tidak bisa mengeluarkan performa terbaik di lapangan," tutur Bepe.
"Kadang-kadang itu juga perlu dipahami juga. Nah, ini yang perlu kita cari solusinya. Sampai saat ini, kita masih coba untuk diskusi dengan Allano."
"Jangan sampai kemudian karena dia terlalu fokus pada omongan saya atau omongan kita bahwa, "Lu enggak boleh ini, enggak boleh ini," tapi tiba-tiba kemudian jadi mainnya enggak lepas. Itu kan juga enggak bagus juga buat tim. Nah, itu yang masih perlu kita cari formula yang terbaik. Apakah kemudian kalau dia sudah mulai emosi saya harus lari ke lapangan narik dia dari belakang atau bagaimana, apakah itu satu di antaranya," katanya.
Solusi Terbaik untuk Allano Lima
Persija terus mencari solusi terbaik melalui pendekatan komunikasi yang lebih intensif demi menyadarkan Allano mengenai dampak buruk akumulasi kartu kuning terhadap stabilitas, mengingat pemain lain telah menunjukkan kemajuan dalam mematuhi teguran disiplin.
"Tapi saya juga merasakan bahwa ketika seorang pemain terlalu banyak aturan yang ada di benak dia, kan kemudian dia tidak fokus bermain. Tapi sekali lagi, saya setuju bahwa memang harus ada solusi terkait dengan apa yang sering dilakukan Allano, karena ini cukup merugikan tim," terang Bepe.
"Dan kita sudah berkali-kali menyampaikan itu. Di awal putaran pertama mungkin itu terjadi di beberapa pemain. Tapi sekarang hanya sisa-sisa Allano."
"Artinya, memang sudah ada dari kita sebuah tindakan atau teguran kepada pemain-pemain yang menerapkan hal itu. Yang lainnya bisa mengerti, tinggal Allano yang belum mengerti. Nah, kita harus perlu lagi lebih intensif lagi untuk mengobrol," paparnya.