Kisruh Gelar Piala Afrika 2025: Panas! Federasi Sepak Bola Maroko dan Senegal Sama-Sama Rilis Pernyataan Resmi

Senegal dan Maroko sama-sama "tak mau mengalah' dalam kisruh gelar juara Piala Afrika 2025.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 19 Maret 2026, 13:45 WIB
Para pemain Maroko merayakan gol mereka ke gawang Niger dalam pertandingan kualifikasi Grup E Piala Dunia di Stade Prince Moulay Abdallah, Rabat, Maroko, Sabtu (6-9-2025) dini hari WIB. (Foto AP)

Bola.com, Jakarta - Federasi Sepak Bola Maroko (FRMF) akhirnya angkat bicara setelah secara kontroversial dinyatakan sebagai juara Piala Afrika 2025 oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), menyusul pencabutan gelar milik Senegal.

Keputusan tersebut diumumkan CAF pekan ini, dengan menyatakan Senegal kehilangan gelar karena dianggap "meninggalkan pertandingan final" sebagai bentuk protes terhadap keputusan penalti yang kontroversial.

Advertisement

Insiden itu sempat membuat laga tertunda hampir 20 menit, setelah pelatih Senegal, Pape Thiaw, meminta para pemainnya masuk ke ruang ganti.

Meski kemudian Sadio Mane berhasil membujuk rekan-rekannya kembali ke lapangan, dan bahkan Senegal akhirnya menang lewat gol tambahan waktu dari Pape Gueye, CAF tetap menjatuhkan sanksi.

Hampir dua bulan berselang, hasil akhir diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko, yang otomatis menjadikan mereka juara.


Maroko Tegaskan Tujuan Banding

Situasi menegangkan terjadi saat Nigeria dan Maroko harus menuntaskan semifinal Piala Afrika 2025 lewat drama adu penalti, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE / AFP)

Keputusan tersebut merupakan hasil dari banding yang diajukan FRMF. Dalam pernyataan resminya, federasi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk meragukan kualitas permainan tim di lapangan.

"Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko mengakui keputusan yang diambil oleh Komite Banding CAF," demikian pernyataan mereka.

Mereka menegaskan bahwa banding yang diajukan semata-mata bertujuan memastikan aturan kompetisi dijalankan dengan benar.

"Federasi ingin menegaskan kembali bahwa banding ini tidak pernah dimaksudkan untuk mempertanyakan kualitas atau performa tim yang terlibat dalam turnamen ini, melainkan untuk memastikan penerapan regulasi kompetisi secara tepat."

Selain itu, FRMF menyatakan komitmennya terhadap kepatuhan aturan dan stabilitas sepak bola Afrika.

"Federasi menegaskan kembali komitmennya untuk menghormati regulasi, memastikan kejelasan kerangka kompetisi, serta menjaga stabilitas kompetisi sepak bola Afrika."

Maroko memberikan apresiasi kepada seluruh negara peserta Piala Afrika 2025, yang disebut sebagai momen penting bagi perkembangan sepak bola di benua tersebut. FRMF menambahkan akan mengeluarkan pernyataan lanjutan setelah rapat internal dalam waktu dekat.


Senegal Bereaksi Keras

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) langsung merespons keras keputusan CAF tersebut. Dalam pernyataannya, mereka menyebut keputusan itu tidak adil dan mencederai sepak bola Afrika.

"Federasi Sepak Bola Senegal mengecam keputusan yang tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak dapat diterima ini, yang merusak kredibilitas sepak bola Afrika."

FSF juga memastikan akan menempuh jalur hukum untuk membela hak mereka.

"Untuk mempertahankan hak dan kepentingan sepak bola Senegal, federasi akan segera mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne."

FSF menegaskan tetap berkomitmen pada nilai integritas dan keadilan dalam olahraga, serta akan terus memberi pembaruan terkait perkembangan kasus ini.

Tak hanya itu, Sekretaris Jenderal FSF, Abdoulaye Sow, bahkan melontarkan kritik keras dengan menyebut CAF sebagai organisasi yang korup dan menegaskan bahwa trofi tersebut tidak akan meninggalkan Senegal.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait