Ambrosini: Man City Stuck, Mulai Dibaca Lawan, Butuh Perubahan Besar

Legenda AC Milan, Massimo Ambrosini, melontarkan kritik tajam terhadap performa Manchester City musim ini.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 20 Maret 2026, 07:00 WIB
The Citizens baru bisa menyamakan kedudukan di menit ke-41 lewat aksi Erling Haaland. Skor pertandingan berubah imbang 1-1 dan bertahan hingga turun minum. Tampak dalam foto, striker Norwegia Manchester City, Erling Haaland (kanan) merayakan gol penyama kedudukan bersama gelandang Portugal Manchester City, Matheus Nunes (kiri) dan gelandang Prancis Manchester City Rayan Cherki selama pertandingan leg kedua 16 besar Liga Champions 2025/2026 melawan Real Madrid di Etihad Stadium, barat laut Inggris, pada Selasa 17 Maret 2026 waktu setempat atau Rabu (18/3) dini hari WIB. (Paul ELLIS/AFP)

Bola.com, Jakarta - Legenda AC Milan, Massimo Ambrosini, melontarkan kritik tajam terhadap performa Manchester City musim ini. Menurutnya, tim asuhan Pep Guardiola itu sudah kehilangan identitas permainan khas mereka dan membutuhkan perubahan besar untuk kembali ke jalur juara.

Kritik tersebut muncul setelah City kembali tersingkir dari Liga Champions UEFA, kali ini di tangan Real Madrid dengan agregat telak 1-5. Kekalahan tersebut menandai kegagalan ketiga secara beruntun City melawan raksasa Spanyol di kompetisi elite Eropa.

Advertisement

Tak hanya gagal di Eropa, performa City di kompetisi domestik juga jauh dari ekspektasi. Mereka kehilangan momentum dalam perburuan gelar Premier League dan kini tertinggal dari rival utama seperti Arsenal.

Situasi ini membuat peluang City untuk meraih trofi musim ini semakin menipis. Kini, harapan mereka tersisa di dua ajang domestik, yakni Piala FA dan EFL Cup.

Ambrosini menilai kondisi tersebut sebagai tanda bahwa proyek Guardiola mulai kehilangan arah.

“Saya berada di Madrid pekan lalu. Tim ini tidak terlihat seperti tim Pep yang biasanya. Mereka kekurangan kualitas dan semangat juang,” ujar Ambrosini.


Gagal Maksimalkan Haaland?

Real Madrid yang unggul jumlah pemain setelah Bernardo Silva diganjar kartu merah, malah kebobolan lewat aksi Erling Haaland yang berhasil memanfaatkan umpan silang Jeremy Doku. (AP Photo/Dave Thompson)

Salah satu poin utama kritik Ambrosini adalah minimnya keterlibatan Erling Haaland dalam permainan tim. Padahal, striker asal Norwegia itu dikenal sebagai mesin gol andalan City.

Menurut Ambrosini, City gagal memaksimalkan potensi Haaland karena kurangnya suplai bola yang efektif.

“Mereka harus menemukan cara untuk lebih melibatkan Haaland. Dia terlalu jarang menyentuh bola, padahal tim sering bermain di sepertiga akhir,” tambahnya.Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor utama menurunnya produktivitas lini depan City musim ini.


Mulai Terbaca Lawan

Penyerang Manchester City asal Norwegia #09, Erling Haaland (C), dihadang oleh bek Real Madrid asal Jerman #22, Antonio Ruediger (L), dan bek Real Madrid asal Inggris #12, Trent Alexander-Arnold, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Real Madrid dan Manchester City di Stadion Santiago Bernabeu di Madrid pada 11 Maret 2026. (Thomas COEX/AFP)

Ambrosini juga menyoroti bahwa tim-tim lawan kini sudah semakin memahami pola permainan Manchester City. Dominasi yang dulu menjadi kekuatan utama kini justru menjadi celah yang bisa dieksploitasi.

“Tim-tim lain sudah terbiasa menghadapi City. Itu masalah terbesar mereka saat ini,” jelasnya.

Dengan gaya bermain yang cenderung monoton dan mudah ditebak, City dinilai kehilangan elemen kejutan yang dulu membuat mereka begitu menakutkan.

 


Masa Depan Guardiola Dipertanyakan

Pemain Manchester City, Erling Haaland, bersitegang dengan pelatih Pep Guardiola saat melawan Wolverhampton pada laga pekan ke-36 Premier League 2023/2024 di Stadion Etihad, Sabtu (4/5/2024). (AFP/Darren Staples)

Di tengah situasi sulit ini, masa depan Pep Guardiola juga mulai menjadi bahan spekulasi. Pelatih asal Spanyol itu dikabarkan mempertimbangkan untuk mengambil jeda dari dunia sepak bola jika gagal mempersembahkan trofi musim ini.

Padahal, sejak menangani Manchester City, Guardiola telah membawa klub meraih berbagai gelar bergengsi dan membangun era dominasi di Inggris.

Namun, tekanan besar musim ini bisa menjadi titik balik dalam kariernya bersama City.

Berita Terkait